Senin lalu (15/3) Al-Azhar mengadakan konferensi daring bertajuk, “Kontribusi Al-Farabi dalam Mengembangkan Peradaban Manusia.” Konferensi yang diadakan oleh Majma’ Buhuts Islamiyyah Al-Azhar bekerjasama dengan Kedutaan Kazakhstan bertujuan untuk memperdalam hubungan antara generasi kini dengan para ulama mereka.

Konferensi yang berlangsung selama dua hari dan berakhir Selasa (16/3) kemarin, menghadirkan banyak tokoh ternama seperti Jan Said, Sayyid Nawizbai Ungarf, Dr. Akhtar Baltouri, Dr. Hasan Al-Saghir, Prof. Helmy Al-Sa’id Allam, Prof. Nazir Ayyad selaku moderator Konferensi, dan banyak lagi.

Ada empat sesi dalam konferensi daring ini. Sesi pertama membahas kontribusi Al-Farabi dari aspek filosofis, sesi kedua dan ketiga membahas kontribusi Al-Farabi dalam aspek etika dan politik, sedangkan sesi terakhir sebagai penutup.

Acara dibuka dengan pengenalan Al-Farabi secara singkat oleh mufti Republik Kazakhstan, Sayyid Nawisbai Ungarv. Dia menjelaskan bahwa Al-Farabi lahir dan besar di Kazakhstan. Dia bersekolah di Otrar, kemudia melakukan perjalanan ke Adad, Syria, Mesir, Samarkand, Bukhara, dan banyak negara lain.

Al-Farabi juga pantas disebut poliglot karena menguasai banyak bahasa sekaligus. Al-Farabi fasih bercakap dalam bahasa Arab, Persia dan juga Yunani. Dia juga memiliki banyak penemuan ilmiah di berbagai bidang.

Mufti Kazakhstan ini menjelaskan lebih lanjut tentang Al-Farabi. Bernama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalg, beliau mengutip Imam Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi dari bukunya Siyar Al-Nubala, bahwa Al-Farabi adalah filsafat cerdas asal Turki dan pionir filsafat Arab.

Al-Farabi juga sangat dipengaruhi oleh Aristoteles. Kawan-kawannya menanyakan, “Kamu kenal Aristoteles? Menurutmu antara kamu dengan Aristoteles, siapa yang lebih mahir?” Al-Farabi menjawab, “Jika aku hidup pada zamannya, niscaya aku akan menjadi murid terbesar Aristoteles.”

Toleransi beragama di era Al-Farabi sangat tinggi. Al-Farabi banyak menerima ilmu dari professor-profesor Nasrani. Dia belajar logika dan beragam bahasa dari Abu Bishr Matta bin Yunus. Kemudian dia belajar Tata Bahasa dari Abu Bakar Al-Sarraj. Setelah itu dia pergi ke Harran untuk belajar filsafat di tangan Yohanna bin Helan.

Sumber ilmu lintas kultur dan lintas agama yang Al-Farabi peroleh jelas mengokokohkan statusnya sebagai filsuf Islam paling agung dan tersohor.

Dr. Akhtar Baltouri juga menegaskan bahwa Al-Farabi mengabdikan kehidupan sepenuhnya untuk ilmu pengetahuan. Selain bertindak sebagai aspirator Kazakhstan terhadap dunia Arab secara umum, Al-Farabi juga menghubungkan dunia Arab dengan Barat melalui pandangan ilmiahnya.

Bahkan bisa dibilang, kontribusi Al-Farabi dalam kebangkitan Eropa sangat besar.

Al-Farabi bergabung dengan rombongan Emir Saif al-Dawla, Emir Aleppo, dan dia sering dipuji oleh al-Mutanabi dalam puisinya. Al-Mutanabi menyebutnya sebagai Saif al-Dawla al-Hamdani.

Selain memperkenalkan simbol-simbol ilmiah Islam, biografi serta ajaran ulama terdahulu kepada generasi sekarang, konferensi ini juga berusaha menawarkan bagaimana pemikiran para ulama terdahulu serta kontribusi mereka dalam mengembangkan peradaban dan kebudayaan Islam di mata dunia.

Dr. Small Tolyubaeva, seorang profesor di Departemen Studi Oriental di Universitas Nasional Eurasia juga turut memuji Al-Azhar atas diadakannya konferensi ini. Membedah kehidupan, epistemologi dan kontribusi Al-Farabi terhadap dunia adalah bukti terbaik dalam menyampaikan pesan spiritual dan ilmiah kepada generasi muda bangsa.

Profesor tersebut juga menambahkan bahwa sumbangan Al-Farabi terhadap keilmuan dan kebudayaan dunia tidak pernah lekang oleh zaman, karena berkaitan dengan permasalahan klasik yang selalu dikaji para pemikir dan ulama sepanjang zaman, yaitu: ilmu, pengetahuan, akhlak, kebahagiaan dan problematika sosial.

Jan Said, Presiden Universitas Nasional Al-Farabi di Kazakhstan, turut menyampaikan apresiasinya terhadap konferensi ini,

“Saya sangat yakin bahwa acara ini akan semakin memperkuat rasa persahabatan dan kemitraan antara orang Kazakhstan dengan orang-orang Mesir, terlebih melalui pertukaran penelitian dan kerja sama ilmiah antara Universitas Al-Farabi dengan kiblat dan menara ilmu agama seantero dunia, yaitu Universitas Al-Azhar.”

Di akhir konferensi, Prof. Nazir Ayyad, mewakili Majma’ Buhuts Al-Islamiyyah dan selaku moderator konferensi, menyimpulkan beberapa poin penting. Beberapa hasil kesimpulan penting di antaranya adalah: pentingnya penggalakan kajian untuk memperkenalkan kembali kontribusi ilmiah dan filosofis yang telah dilakukan oleh para ulama Islam terdahulu dan penyesuaiannya dengan era baru.

Konferensi juga mengganggap bahwa dampak pemikiran Al-Farabi terhadap pemikiran Barat terutama pada saat Renaisans pantas diprioritaskan untuk diajarkan ke generasi sekarang. Begitu juga kaitan pemikiran Al-Farabi dengan konsep negara dan teori kontrak sosial milik Rousseau, Hobbes dan Hegel.

Para ulama di dalam konferensi ini juga sepakat untuk memperbaiki apa yang banyak disalahpahami oleh beberapa kalangan tentang Al-Farabi, terutama yang berkaitan dengan aspek doktrinal, kenabian dan persoalannya.