Satu tempo di tempat peristirahatan musim panas kekhalifahan, terdapat seorang perempuan berpostur tinggi. Niat hati mengajak makan bersama, karena pada saat itu memang Al-Jahiz tengah melahap makanan.  

Dengan halus ia melempar rayuan, “Turunlah neng, sini duduk makan bareng sama abang.” kata Al-Jahiz.

Tak tahu mengapa si perempuan menjawab dengan nada ketus dan nyolot, “Kaulah yang berdiri, hei Al-Jahiz, agar kau dapat memandang luasnya dunia.”

Asem, batin Al-Jahiz dalam hati. Bagai disambar geledek di siang bolong, ia tak berkutik menimpali ejekan itu.

Dipermalukan oleh seorang perempuan karena tubuh pendek, itu hal yang bikin hati dongkol tak karuan. Mungkin perempuan tadi belum tahu siapa sebenarnya pria yang lagi ia ledek.

Bernama lengkap Umar bin Bahr bin Mahboub bin Fazarah Al-Laitsi Al-Kanani. Dia mempunyai kuniyah Abu Utsman dan berjuluk “Al-Jahiz” dan “Al-Hadqi” lantaran sepasang mata besarnya yang menyembul ke depan. Lahir di Basrah pada tahun 159 H.

 Al-Jahiz dibesarkan di Basrah, Irak. Sebuah kota yang didirikan pada awal zaman Islam sebagai kota garnisun. Tetapi pada saat kelahirannya Basrah menjadi pusat intelektual unggulan, bersama dengan kota saingannya, Kufah.

Orang berbeda pendapat menentukan asal-usulnya. Satu pendapat ada yang mengatakan bahwa dia adalah orang Arab dari suku Kinana, dan ada yang menyebutkan bahwa nenek moyangnya adalah “Zanji” atau Negro. Tetapi Al-Jahiz mengatakan tentang dirinya sendiri bahwa dia adalah seorang pria dari Bani Kinana.

Butrus Al-Bustani, penulis kelahiran Lebanon mengekplorasi karakter dan pengetahuan seorang cendekiawan abad ke sembilan ini:

Al-Jahiz tidak membiarkan ilmu yang terkenal di zamannya kecuali mempelajari dan mengulasnya. Filsafat, logika, naturalis, matematika, sejarah, politik, etika dan fisiognomi semuanya dipelajari. Dia jenaka dalam sastra dan bahasa, narator berita dan puisi , peneliti dari hewan dan tumbuhan, kritikus etika, dunia astronomi, musik dan nyanyian.”

Sementara Jeannie Miller dari Universitas Toronto mengatakan bahwa Al-Jahiz lebih melihat dirinya sebagai seorang teolog dan ilmuan alam. Dia ingin membawakan setiap cara untuk mengetahui dan memahami dunia yang Tuhan ciptakan.

Al-Jahiz sangat gemar mengunjungi toko-toko buku, berlama-lama mencari dan mempelajari sesuatu yang masih gamang di pikiran. Hidup sepenuhnya diabadikan untuk manuskrip dan ilmu. Selain itu ia juga kerap menghadiri perkumpulan dewan ilmiah, mendengarkan ceramah ulama di masjid, dan travelling.

Al-Jahiz sungguh beruntung hidup pada salah satu zaman paling menarik dalam sejarah  peradaban keilmuan. Dia tumbuh dalam periode ketika transmisi ilmu pengetahuan Yunani ke orang Arab sedang mengalir deras dan perkembangan sastra prosa Arab tengah menggelora.

Hidup di tengah-tengah tradisi literasi yang sehat karena masyarakatnya yang gemar membaca, menjamurnya ilmuan terpelajar dan ketersediaan bahan tulis yang murah, semakin memupuk subur karir intelekual Al-jahiz. Terlebih lagi pada saat itu di bawah pengaruh Mu’tazilah dengan kebebasan berpikirnya.

Pria kutu buku yang terkenal dengan kebiasaan menyewa toko buku ini memiliki karya terkenal bernama Kitab Al-Hayawan atau Book of the Animals. Buku tersebut dibangun atas karya Aristoteles Generation of the Animals, termasuk cerita tentang binatang dari ayat-ayat Al-Quran, hadits, puisi dan syair.

Seperti dilansir BBC Arab, hampir 10 abad yang lalu, sebelum Darwin mencetuskan teori evolusinya, Al-Jahiz telah dahulu menulis buku Al-Hayawan, yang berisi bagaimana hewan berevolusi melalui seleksi alam.

Buku Al-Hayawan bukan murni membahas ilmu hewan belaka, juga bukan hanya bestiary, karena Al-Jahiz adalah seorang penulis esai dan sastrawan yang menghargai hiburan bagi pembacanya. Dia berhasil memasukkan banyak pengamatan ilmiah ke dalam karyanya.

Dalam edisi cetaknya, Kitab al-Hayawan berjumlah tujuh jilid tebal. Berisi informasi ilmiah penting dan sejumlah konsep yang tidak sepenuhnya dikembangkan sampai paruh pertama abad kedua puluh. Dalam buku tersebut, Al-Jahiz membahas mimikri hewan—mencatat bahwa parasit tertentu beradaptasi dengan inangnya.

Al-Jahiz menulis panjang lebar tentang pengaruh iklim dan makanan pada manusia, serta tumbuhan dan hewan di wilayah geografis yang berbeda. Ia membahas komunikasi hewan, psikologi dan tingkat kecerdasan serangga dan spesies hewan.

Dia juga memberikan penjelasan rinci tentang organisasi sosial semut, termasuk dari pengamatannya sendiri, gambaran tentang bagaimana mereka menyimpan biji-bijian di sarangnya agar tidak membusuk selama musim hujan.

Dia bahkan tahu bahwa beberapa serangga responsif terhadap cahaya dan menggunakan informasi ini untuk menyarankan cara cerdas membersihkan ruangan dari nyamuk dan lalat.

Dia menemukan dan mengenali pengaruh faktor lingkungan pada kehidupan hewan; dan dia juga mengamati transformasi spesies hewan di bawah berbagai faktor.

Lebih jauh, dalam beberapa bagian bukunya, ia juga menjelaskan konsep seleksi alam, yang biasanya dikaitkan dengan Charles Darwin. Tak ayal jika Al-Jahiz didapuk sebagai ahli zoologi muslim pertama.

Konsep seleksi alam Al-Jahiz adalah sesuatu yang baru dalam sejarah sains. Meskipun filsuf Yunani seperti Empedocles dan Aristoteles berbicara tentang perubahan pada tumbuhan dan hewan, mereka tidak pernah membuat langkah pertama untuk mengembangkan teori yang komprehensif. Bagi mereka, perubahan hanyalah sebuah konsep perubahan dan gerak sederhana dan tidak lebih dari itu.

Al-Jahiz kembali ke Basrah setelah menghabiskan lebih dari lima puluh tahun di Baghdad. Dia meninggal di Bashrah pada tahun 255 H sebab menderita penyakit Hemiplegia. Kelumpuhan yang terjadi pada salah satu sisi tubuh akibat kerusakan pada salah satu sisi sistem saraf pusat yang mengatur kerja otot.

Glosarium

Bestiary: sebuah buku yang ditulis pada Abad Pertengahan berisi deskripsi hewan nyata dan imajiner, dimaksudkan untuk mengajarkan moral dan untuk menghibur.

Fisiognomi: merupakan praktik menilai karakter atau kepribadian seseorang dari penampilan luarnya, terutama wajah.