Dua negara adidaya menguasai dunia saat itu, Romawi dan Persia. Romawi menguasai belahan bumi barat, sementara Persia menguasai belahan bumi timur.

Begitu banyak penindasan dan penganiayaan oleh penguasa dua kerajaan tersebut. Mereka beranggapan bahwa orang yang tingkatan hidupnya lebih rendah dari mereka adalah budak. Hak-hak rakyat terampas dan hilang begitu saja di tangan para penguasa. Lenyaplah keamanan di hati masyarakat, mereka dipenuhi dengan rasa takut. Berbagai bencana pun muncul, bumi bergoncang mengadukan pada Sang Pencipta tentang tragedi kemanusiaan.

Sementara itu di wilayah Arab, yang tidak tunduk pada keduanya, dilanda perang antar kabilah yang entah berapa keluarga dan bangunan hancur karenanya. Pembunuhan, penjambretan, dan perampasan barang milik orang lain menjadi profesi mereka, bahkan tingkat kebiadaban mereka sampai tega mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup karena rasa malu dan takut kemiskinan. Sebuah alasan yang sungguh tidak masuk akal. Kefasihan, keindahan sastra, dan kepiawaian bersyair yang mereka miliki tidak memberikan pengaruh positif apapun dalam jiwa mereka.

Hanya karena seekor unta milik Bani Syaiban dibunuh oleh ketua suku Bani Rabi'ah, pecah peperangan di antara mereka selama 40 tahun. Inilah keadaan bangsa Arab dari sisi kezaliman dan kesewenangan kepada orang lain.

Dari sisi keyakinan dan akidah, mereka terpecah menjadi beberapa aliran dan kelompok. Ada yang menyembah binatang, bintang, patung, api, dan lain sebagainya.  Semua ini menjadikan dunia gelap gulita, seolah ia mengadu dengan lisan fasihnya; "Wahai Tuhanku, selamatkanlah aku dari petaka ini, dan tolonglah aku dari penderitaan ini."

Allah SWT mengabulkan permintaan ini dengan mengutus seorang Rasul yang mulia, pemilik akhlak yang utama, makhluk terbaik dan pilihan dari kabilah dan suku terbaik, mutiara yang bersih nan indah, beliau adalah Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai Dzat pemilik sifat kesempurnaan, Allah SWT tidak mungkin membiarkan manusia terkurung dalam kebingungan dan kesengsaraan. Oleh karena itu, harus ada cahaya yang menerangi, yakni syariat yang dibawa oleh para Rasul yang diutus untuk membimbing umat manusia agar selamat dunia akhirat.

Agama tidak boleh menjadi batu sandungan dan penghalang bagi jiwa dengan pemahaman dan kesiapan dalam menerima ilmu yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia tentang hakekat berbagai macam hal, karena agama bermanfaat untuk meluruskan perilaku manusia baik yang berkaitan dengan urusan duniawi maupun ukhrawi.

Terkadang dalam memahami hal ini, masih banyak kesalahpahaman yang muncul. Misalnya ungkapan, “Jika agama bermanfaat untuk kebutuhan duniawi maupun ukhrawi manusia, lantas mengapa tidak sedikit orang yang masuk dalam perangkap pertikaian keyakinan sehingga mereka terus berselisih, bahkan hingga menimbulkan pertumbahan darah dan pertempuran?”

Fenomena seperti ini terjadi karena agama jatuh ke tangan kaum yang tidak memahami maknanya atau karena dangkalnya pemahaman atas agama itu sendiri. Mereka diberi ilmu Oleh Allah SWT tapi bersikap berlebihan dan ilmu tersebut tidak mewarnai kalbunya, sementara wawasan mereka masih sempit tentang rahasia yang terkandung dalam ajarannya. Jadi kesalahan bukan pada agama, melainkan pada pelaksana dan para penyerunya yang memasukkan sesuatu yang bukan bagian dari agama itu sendiri.

Kita tidak pernah mendengar seorang Rasul datang membawa agama yang tidak mampu memenuhi kebutuhan umat manusia. Kedudukan Rasul laksana akal bagi manusia, bahkan lebih tinggi dari itu. Kita menyaksikan banyak manusia—melalui pandangannya—berusaha melihat baik dan buruk, membedakan mana jalan yang berliku dan mana yang berbahaya, mana jalan yang aman dan yang mudah, tetapi mereka salah dalam menganalisanya karena mengabaikan arahan agama, membangkang, meskipun telah diperlihatkan banyak bukti atas kesalahan tersebut.

Hawa nafsu dan keterbatasan dalam memahami agama lah yang menjadi faktor perseteruan dan pertikaian. Hanya orang yang dianugerahi cahaya oleh Allah SWT yang terhindar dari hal tersebut. Oleh karena itu Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”  (QS. al-Baqarah [2]: 26)