Syahrazad tidak hanya hidup dalam kisah Seribu Satu Malam. Sejumlah sastrawan berusaha untuk terus menghidupkannya dalam kisah baru yang mereka buat. Salah satunya adalah Taha Husein.

Dalam Ahlam Syahrazad, Taha Husein menghadirkan kembali Syahrazad yang menceritakan kisah kepada Syahrayar. Selain bahwa adegan cerita mereka dimulai pada malam ke seribu sembilan, bahwa Syahrayar sudah tak lagi memiliki gairah untuk membunuh, dan bahwa Syahrazad bercerita ketika ia tengah tertidur lelap di dalam kamarnya.

Pada malam ke seribu sembilan, Syahrayar berkali-kali terbangun dari tidurnya dalam keadaan risau. Ia mendengar sebuah suara yang terus membangunkannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi kamar Syahrazad.

Di sana, ia menemukan Syahrazad tengah tidur terlelap dengan begitu cantiknya. Dan tak lama kemudian, Syahrazad mulai menceritakan kisah Fatinah, putri seorang raja dari dunia jin yang bernama Thuhman bin Zahman, raja penguasa Hadramaut.

Dikisahkan bahwa Fatinah telah berhasil menguasai ilmu sihir yang paling tinggi sehingga ia mampu untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Ia mengetahui bahwa para raja yang melamarnya murka karena lamaran mereka ditolak.

Mereka berkomplot untuk menghancurkan kerajaan Hadramaut. Mereka menuliskan persekongkolan itu di atas kertas yang diletakkan di dalam sebuah botol. Kemudian botol itu disimpan di dasar laut. Fatinah bertindak terlebih dahulu sebelum konspirasi itu terjadi.

Baca juga: Yuval Noah Harari dan Sejarah Manusia

Hanya ada satu kisah yang diceritakan Syahrazad dalam Ahlam Syahrazad. Dan dapat dikatakan bahwa Ahlam Syahrazad tidak lain merupakan sebuah kisah di atas kisah. Kisah Syahrazad dan Syahrayar memiliki porsi yang seimbang dengan kisah Fatinah.

Melalui sosok Fatinah, Syahrazad seakan tengah ‘mengajari’ kekasihnya bagaimana itu pemimpin yang adil, bagaimana itu sistem pemerintahan yang adil. Yaitu negara yang memedulikan kesejahteraan rakyat dan mempertimbangkan nasib mereka dalam setiap keputusan. Dapat dikatakan bahwa Fatinah adalah representasi makna demokrasi.

Rasanya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Ahlam Syahrazad karya Taha Husein ini merupakan alegori politik. Walaupun tidak sematang alegori politik dalam Animal Farm karya George Orwell. Ahlam Syahrazad adalah dunia tipikal dengan pembagian yang jelas antara yang baik dan yang jahat.

Lakon-lakon di dalamnya adalah suara bijak yang mengutarakan nilai-nilai moral. Dan suara bijak inilah yang mendominasi keseluruhan peristiwa dalam cerita ini. Harus diakui bahwa membaca Ahlam Syahrazad cukup meletihkan dan membosankan.

Namun membandingkan Ahlam Syahrazad karya Taha Husein dengan Animal Farm karya George Orwell bukanlah tindakan yang bijak. Walaupun kebetulan juga bahwa keduanya terbit di waktu berdekatan pada saat Perang Dunia Kedua berlangsung. Ahlam Syahrazad terbit pada tahun 1943, sedangkan Animal Farm terbit pada tahun 1945.

Alasannya, dunia fiksi Barat di era modern sudah jauh berkembang dibandingkan dunia fiksi Arab. Fiksi Arab baru mencapai fase kematangannya di generasi setelah Taha Husein, tepatnya di generasi Naguib Mahfouz.

Karenanya, untuk dapat menilai Ahlam Syahrazad dengan adil kita perlu meninjau konteks kapan karya itu hadir. Ahlam Syahrazad bukan hanya sekedar sebuah kisah dongeng dengan para lakon yang bergerak di luar zaman dan tempat dimana Taha Husein hidup.

Baca juga: Silang Pengaruh Sastra Persia dan Sastra Arab

Ahlam Syahrazad adalah simbol dari sikap dan pandangan sang penulis terhadap kondisi politik yang terjadi di negaranya. Ketika Perang Dunia Kedua diumumkan, terjadi perselisihan antara Inggris dan pemerintah Mesir yang berada di bawah mandat Inggris. Inggris meminta Mesir mengirimkan pasukan tentaranya untuk melawan Jerman. Namun mayoritas pihak Mesir menolak. Selain itu, terjadi pertikaian politik di dalam tubuh pemerintahan Mesir sendiri.

Pergesekan Taha Husein dengan pemerintah di tahun 20-an dan 30-an cukup memberinya pelajaran agar lebih berhati-hati dalam bersuara. Karenanya Taha Husein menggunakan fiksi dengan segala simbolnya untuk mengutarakan kritikannya terhadap pemerintah.

Dalam Ahlam Syahrazad, perang adalah salah satu pembahasan yang diangkat bahkan menjadi dasar yang melatarbelakangi kisah Fatinah. Melalui putri raja dari dunia jin inilah, kita dapat mendengar pandangan Taha Husein mengenai perang:
“Keegoisan para raja dan pemimpinlah yang selalu memicu perang, sebagaimana keegoisan itulah yang selalu menyusahkan hidup rakyat…”

Dengan memilih dunia jin sebagai latar dalam kisah Fatinah, Taha Husein seakan ingin menyindir para penguasa bahwa jika keadilan dan demokrasi dapat terwujud di dunia jin, lantas apa yang menghalangi keadilan itu terwujud di dunia manusia? Bukankah manusia lebih tinggi derajatnya dari jin?

Selain itu, menjadikan Syahrazad bercerita dalam mimpi juga mengisyaratkan makna represi yang dialami rakyat karena penguasa yang selalu mengekang dan menekan mereka. Di tengah kondisi politik yang otoriter dan represif, bersuara menjadi kegiatan yang terpendam di bawah alam sadar.

Baca juga: Ulama-ulama Besar yang Tidak Bisa Menulis dan Membaca

Melalui kisah Fatinah, Syahrazad berhasil membuat Syahrayar termenung. Ia mentadaburi apa yang telah didengarnya dan merenungkan apa yang telah dilihatnya.

Di akhir cerita dikisahkan bahwa Fatinah berhasil mengalahkan para raja yang memiliki niat jahat terhadapnya dan telah bertindak jahat kepada rakyatnya. Akhir cerita yang membahagiakan itu seakan mengisyaratkan bahwa kedzaliman akan berakhir dan keadilan akan terwujud. Entah apakah itu akan terwujud dalam waktu yang dekat atau tidak. Isyarat inilah yang ditangkap oleh Syahrayar dan membuatnya tak dapat kembali tidur.

Sebenarnya, karya-karya Taha Husein secara keseluruhan baik dalam sastra, kritik sastra maupun sejarah, tidak dapat dilepaskan dari konteks realita masyarakat Mesir di seluruh elemennya. Melalui karya-karya itu, dia berusaha untuk ikut andil dalam membentuk masyarakat Mesir baru. Yaitu masyarakat yang mengenali dirinya sendiri dan melakukan tindakan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Ambisinya ini telah terangkum dalam bukunya Mustaqbal ats-Tsaqafah fi Misr.

Demikianlah, alasan mengapa Taha Husein menghidupkan Syahrazad dan memberinya wewenang penuh untuk mendiagnosa penyakit dalam tubuh masyarakat Mesir dalam Ahlam Syahrazad.

Nampaknya, Taha Husein berharap bahwa sosok Syahrazad mampu untuk mengobati penyakit masyarakatnya. Apapun hasilnya, setidaknya Taha Husein telah berusaha.