Diskusi apa pun yang tidak berangkat dari kejernihan terma akan berakhir dengan perdebatan kusir. Dan apa yang Anda bayangkan dari diskusi semacam itu? Ya, kekolotan yang luar biasa konyol.

Sampai sebelum buku Being and Knowledge terbit, sebetulnya saya malas menanggapi perdebatan semacam itu. Tentu karena perdebatan itu coba saya hadirkan secara jernih dalam buku saya yang belum terbit. Termasuk di antaranya adalah terma jisim.

Apa itu jisim? Jisim berasal dari bahasa Arab yang berarti tubuh. Bahasa filsafatnya adalah korporea. Bahasa Indonesia menyerap bahasa Arab, sehingga ketika kita berbicara jisim, dalam bahasa kita, kita berbicara jasmani. Paling tidak ada tiga definisi:

(i) Jasmani adalah benda material yang dapat diketahui dengan indra dan terletak di suatu tempat.

(ii) Jasmani adalah substansi yang tersusun dari materia dan forma.

(iii) Jasmani adalah segala sesuatu yang memiliki tiga dimensi berupa: panjang, lebar, dan tinggi.

Sebenarnya masih ada lagi definisi jasmani yang diambil dari Suhrawardi, yakni segala sesuatu yang dapat ditunjuk dengan isyarat indrawi; hanya saja ini sama dengan definisi pertama yang diajukan di atas.

Setelah kita tahu apa itu jasmani, sebetulnya ketika kita menunjuk sesuatu, di waktu yang sama kita sedang melekatkan sifat jasmani ke sesuatu tersebut. Jasmani itu x, ia tidak punya eksistensi dalam realitas. Ia adalah konsep yang menjadi sifat dari realitas eksistensial.

Tentu kita masih ingat pohon Porphyry. Pertanyaan Porphyry berkisar pada: apakah genera atau genus dan spesies ada dalam dirinya sendiri atau hanya ada dalam pikiran kita? Genus dan spesies itu tidak ada dalam realitas. Yang ada dalam realitas adalah pohon ini, jeruk itu, manusia ini, hewan itu, dan seterusnya. Oleh sebab itu, suatu X ini bisa diisi benda apa pun yang sesuai dengan definisi yang dimaksud.

Yang lantas jadi perdebatan di antara punggawa telogi atau kalam adalah: apakah Allah itu jisim? Pertanyaan ini tidak ada dalam tradisi syariat. Betul, kita harus mengakui fakta ini meskipun akan banyak yang kita tabrak: ilmu kalam beserta perdebatan yang ada di dalamnya.

Islam secara umum dan kitab suci secara khusus mengajarkan soal tanzih, yaitu upaya penyucian Allah dari sifat-sifat kekurangan. Kita sering mendengar ayat “Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya,” (QS. Asy-Syura:11) sebagai ayat tanzih. Ayat ini diperkuat dengan ayat lain misalnya: “Apakah dzat yang menciptakan sama dengan seseorang yang tidak menciptakan?” (QS. An-Nahl:17).

Tetapi selain ayat-ayat tanzih, kita juga sering mendengar ayat tasybih (antropomorfisme). Bahkan tanzih dan tasybih terhimpun sekaligus dalam satu ayat, yakni Asy-Syura:11 di atas: “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Dalam disiplin logika, dua proposisi ini disebut: negasi dan afirmasi.

Jika pertanyaan apakah Allah itu jisim tidak ada dalam tradisi syariat, maka jawaban bahwa “Tuhan bukanlah jasmani dan bukan pula bersifat jasmaniah” juga tidak ada dalam syariat. Kenapa demikian?

Kita perlu menyelidiki jenis pertanyaan di atas. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan tentang esensi. Esensi adalah makna yang terpikirkan dari sesuatu. Dalam tradisi logika, pertanyaan itu adalah pertanyaan soal ‘Ma Hiya’, atau Apa Itu?—diambil dari Yunani, yaitu ‘quid est’ atau kuiditas.

Pertanyaan semacam ini adalah pertanyaan soal identitas yang hanya mungkin dijawab dengan definisi esensial. Jawaban soal identitas harus dilepaskan dari relasinya terlebih dahulu. Kita harus bertanya: (i) apa itu jasmani, dan (ii) siapa itu Tuhan? Kita sudah mendapatkan definisi jasmani, lalu apa atau siapa itu Tuhan? Di sinilah letak masalahnya.

Syariat mengajari kita untuk tidak menyentuh wilayah esensi Tuhan. “Berpikirlah soal ciptaan Allah dan jangan berpikir soal (esensi) Allah” adalah adagiumnya. Kalau kita tidak bisa menyentuh wilayah esensial Tuhan, maka jawaban negatif (Allah bukan jasmani) adalah jawaban yang tidak masuk di akal semua orang. Banyak orang yang menganggap bahwa yang bukan jasmani sama saja tidak ada. Apakah syariat abai dengan jenis orang semacam ini? Tidak. Syariat menyentuh semua lapisan, baik intelektual maupun awam.

Pertanyaan soal esensi atau kuiditas Tuhan adalah pertanyaan yang menyentuh dimensi Ama’ (saya jelaskan secara rinci dalam Being and Knowledge). Ama’ adalah dimensi yang tak-diketahui kecuali oleh Tuhan itu sendiri.

Dalam dimensi ini kita, sang makhluk daif ini, hanya mungkin mengatakan satu hal afirmatif: Allah itu wujud. Jika dimensi ini tak diketahui, maka tak ada pertanyaan yang dapat menyentuhnya, tidak juga jawaban yang berusaha menyentuhnya. Lantas apa yang mungkin ditanyakan dari Tuhan? Dan jawaban apa yang mungkin diberikan perihal ini?

Kita harus menjawabnya berdasarkan dua dimensi setelah dimensi Ama’, yakni dimensi Uluhiyyah dan Rububiyyah. Dimensi Ama’ adalah domain bagi dzat Tuhan, dimensi Uluhiyyah adalah domain bagi sifat dan nama Tuhan, dan dimensi Rububiyyah adalah domain bagi tindakan Tuhan.

 Inilah yang diajarkan syariat kepada kita. Apa jawaban syariat ketika ditanya soal Allah: “Dia adalah Allah yang esa” (QS. Al-Ikhlash:1)—inilah domain sifat. Apa lagi? Allah adalah “Pemilik kerajaan langit dan bumi” (QS. Ali Imran:26)—inilah domain nama. Apa lagi? Allah adalah “Tuhanku yang maha menghidupkan dan mematikan” (QS. Al-Baqarah:258)—inilah domain tindakan.

Tetapi tersisa satu hal: bagaimana dengan jawaban “Allah adalah cahaya langit dan bumi?” (QS. An-Nur:35). Bukankah itu jawaban kuiditas yang menyentuh dzat Tuhan? Inilah jawaban syariat yang paling menggetarkan. Jawaban ini menyentuh semua kalangan. Tak ada yang tertinggal satu gelintir pun.

Orang awam, yang tidak bisa membayangkan eksistensi kecuali yang terindra, akan dapat menerima jawaban afirmatif ini tanpa interpretasi. Bahwa cahaya adalah sebab bagi penampakan segala wujud. Tanpa cahaya, apa yang dapat diketahui? Tanpa cahaya, apa yang bisa diraih? Tanpa cahaya....

Singkatnya: tak ada yang merasa jawaban syariat itu mengawang-awang dan spekulatif. Jawaban syariat seperti bawang merah, tiap lapisan memiliki lapisan yang lain, sehingga ketika kita sampai di lapisan terakhir, kita hanya menemukan kekosongan. Apa itu kekosongan? Kedaifan, kelemahan, dan ketercengangan kita di hadapan haribaan ilahi. “[Tuhan], buatlah aku semakin bingung pada-Mu,” begitu Nabi berdoa.