Ada dua sahabat Anshar, yaitu Mu’adz bin Jabal RA dan Tsa’labah bin Ghanam RA bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, mengapa hilal (bulan) mula-mulanya kelihatan kecil (yakni sabit) seperti benang, lalu bertambah besar hingga bulat penuh, lalu semakin lama semakin mengecil hingga ukurannya kembali seperti semula? Mengapa tidak seperti matahari (yang terus bulat penuh)?”

Pertanyaan kedua sahabat di atas ini kemudian melatarbelakangi turunnya ayat:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, itu adalah penunjuk waktu bagi manusia dan ibadah haji.”

Menurut satu riwayat yang lain, kaum Yahudi pernah bertanya tentang masalah hilal kepada Rasulullah SAW.

Sebab perubahan ukuran bulan dari kecil menjadi besar ini sebenarnya tidak pas jika ditanyakan kepada beliau, karena Rasulullah SAW tidak diutus untuk mengajarkan ilmu perbintangan (ilmu falak). Sepatutnya pertanyaan yang diajukan itu berkaitan dengan hikmah atau tujuan dari penciptaan hilal itu sendiri.

Hilal merupakan tanda waktu dan perhitungan dalam berbagai urusan manusia, seperti masalah pertanian, perdagangan, tempo akad, utang, serta tanda waktu ibadah, puasa, berbuka, shalat, haji, iddah, dan lain sebagainya.

Sistem penanggalan berdasarkan peredaran bulan inilah yang mudah perhitungannya dan cocok untuk bangsa Arab.

Islam adalah agama obyektif dan substantif, agama kehidupan, dan realita yang bermanfaat. Islam mengesampingkan hal-hal yang sifatnya formalitas, bentuk luar, dan kondisi yang tidak ada manfaatnya. Islam mengarahkan manusia agar mementingkan perkara yang bermanfaat dan mendatangkan keuntungan serta kemaslahatan bagi manusia.

Oleh sebab itu Allah SWT mengingatkan kita tentang hikmah dari bertambah dan berkurangnya ukuran bulan itu sendiri, yakni hilal itu dipakai sebagai sarana untuk menentukan waktu dan tempo dalam bermuamalah, ibadah, dan maslahat-maslahat manusia lainnya. Wallahu a'lam.