Jika ada seseorang yang paling mengenal Taha Husein, maka itu adalah Suzane, wanita yang telah menjadi kedua mata baginya hingga akhir hayat. Setelah dua tahun kematian Taha Husein, Suzane yang berumur tujuh puluh sembilan tahun, menuliskan perjalanan hidupnya dengan sang suami dalam sebuah buku yang diberinya judul Ma’aka.

Dalam buku ini, Suzane mengenalkan sosok Taha Husein bukan sebagai salah seorang penulis besar Arab pada masanya seperti yang dikenal kebanyakan orang. Ia mengenalkan Taha Husein sebagai sosok suami dan ayah, sebagai sosok manusia biasa dengan segala ambisi dan keterpurukannya, dengan segala kebahagiaan dan kepedihannya.

Setelah kepergian sang suami, Suzane tetap melakukan perjalanan ke Italia di musim panas seperti yang biasa mereka berdua lakukan sebelumnya. Ia bisa merasakan kehadiran sang suami di dekatnya selama perjalanan itu. Ia menyendiri di Genova, tempat terakhir di tanah Eropa yang diinjak oleh kedua kaki mendiang sang suami.   

Di lembaran-lembaran pertama Ma’aka, Suzane mengingat kembali hari-hari terakhir sebelum Taha Husein meninggal dunia. Ia menceritakan bagaimana mengerikannya hari itu, hari pada saat ia mendapati suaminya tak lagi bernafas di atas ranjang. Hanya mereka berdua di dalam rumah dan dokter baru datang setengah jam kemudian. Dalam waktu setengah jam itu, ia memandangi wajah suaminya, mengecup keningnya, dan memanggilnya lirih ‘oh sahabatku, oh kekasihku’.

Keduanya bertemu pertama kali di Montpellier pada tahun 1915 saat Taha menjadi salah satu delegasi pelajar yang dikirim negara untuk menempuh studi di Perancis. Suzane bekerja untuk Taha Husein dengan membacakan buku-buku berbahasa Perancis dan Latin kepadanya. Suzane tak pernah menyangka bahwa takdir telah menentukan garis hidupnya sejak saat itu.

Ketika Suzane mengatakan keinginannya untuk menikah dengan Taha Husein kepada keluarganya, mereka begitu terkejut dan mengatakan bahwa Suzane sudah gila; Taha Husein berasal dari negara asing, seorang Arab, buta dan di atas itu semua, ia adalah seorang muslim. Mungkin Suzane memang sudah gila, tapi ia merasakan hidupnya menjadi lebih berarti sejak ia bersama Taha Husein. Ia ingin terus hidup seperti itu.

Sejak mereka berdua menikah, keduanya saling melengkapi. Suzane menjadi kedua mata yang memungkinkan Taha Husein melihat hal-hal yang selama ini tak dilihatnya. Sedangkan Taha Husein menjadi mata untuk akal dan hati Suzane. Keduanya melakukan hal-hal normal seperti halnya yang dilakukan pasangan kekasih pada umumnya seperti menonton teater atau konser musik di akhir pekan. Dan yang tak pernah terlewat, Suzane selalu membacakan buku-buku untuk Taha Husein.

Cinta yang mereka berdua miliki menyatukan segala perbedaan. Suzane akan memberikan waktu untuk sang suami di dalam ruangannya sendiri, mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Quran yang indah. Sebagaimana Taha Husein menghadiahkan lukisan Bunda Maria La Vierge de Londre karya Botticelli pada hari ulang tahunnya. Lukisan itu akan terus berada di dalam kamar Suzane hingga akhir hayat. Suzane ingat bahwa Taha pernah berkata padanya bahwa apa yang mereka miliki lebih dari sebuah cinta.

Ketika anak kedua mereka yang masih balita, Mu`nis, mengalami kondisi kesehatan yang buruk, dokter menganjurkan Suzane untuk membawa puteranya untuk sementara waktu ke Perancis. Itu adalah pertama kalinya Suzane meninggalkan Taha Husein yang tak bisa ikut bersamanya karena pekerjaan. Keduanya saling bertukar kabar melalui surat.

Suzane menyimpan baik-baik semua surat yang dikirimkan Taha Husein. Keseluruhan surat itu mengabarkan betapa sengsaranya hidup Taha Husein tanpa kehadiran Suzane, menurutnya, perpisahan sementara itu adalah peristiwa terburuk yang terjadi dalam hidupnya.

Dalam Ma’aka, Suzane mengingat segala detail peristiwa yang dilalui sang suami bersama dirinya. Siapapun yang membacanya, dapat merasakan nuansa kesedihan melalui beberapa gambaran dan kalimat yang dipilih oleh Suzane. Buku ini menjadi semacam rintihan hati seorang yang merasa sesak karena begitu merindukan kekasihnya yang telah pergi jauh dan tak mungkin kembali. 

Setelah kematian sang suami, Suzane meninggalkan rumah kesayangan mereka yang dinamai Ramatan di kawasan Giza Kairo. Ia tak mampu menempati rumah yang dipenuhi segala kenangan bersama suaminya. Dua tahun setelahnya, di temani sang putera, Suzane kembali memasuki Ramatan. Ia tak percaya bahwa Ramatan dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya telah menjadi masa lalu. Bagian akhir dari Ma’aka berhenti di tempat ini.

Suzane teringat kembali dengan salah satu surat yang dikirimkan Taha Husein untuknya lima puluh empat tahun silam:

Tetaplah di sini, jangan pergi entah aku telah mati atau aku masih hidup. Aku akan selalu membawamu dalam diriku, aku mencintaimu. Tetaplah di sini, kumohon tetaplah di sini, aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah mengucapkan kata perpisahan karena aku memilikimu dan aku akan terus memilikimu. Tetaplah di sini, tetaplah di sini, wahai cintaku.

Ramatan kini menjadi museum yang menyimpan bagian dari sejarah kehidupan Sang Bapak Sastra Arab bersama orang-orang yang dikasihinya.