Darul Ifta Mesir memastikan bahwa operasi bunuh diri dan pengeboman yang menargetkan warga sipil dilarang oleh agama. Tindakan keji itu tidak ada hubungannya dengan Islam.

“Dan termasuk di antara dosa besar yang pelakunya diancam Allah swt. akan mendapatkan hukuman.” terang Lembaga Fatwa Mesir itu.

Darul Ifta menambahkan bahwa pelaku bom bunuh diri yang sedang melakukan operasi pengeboman, atau orang yang mengantar nyawanya sendiri kepada kematian dengan mengebom dirinya sendiri atau tindakan lain yang serupa, berstatus seorang pelaku bunuh diri dan termasuk dalam sabda Nabi Muhammad saw.,

من قتل نفسه بشيء في الدنيا عذب به يوم القيامة 

“Siapapun yang membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu di dunia akan dihukum dengan cara yang sama pada hari kiamat.”

Dalam fatwa yang dikeluarkan oleh Observatorium Media Darul Ifta untuk Pencegahan Pemikiran Takfiri pada 2014, Lembaga Fatwa Mesi r itu menyatakan bahwa operasi bunuh diri dan pengeboman adalah tindakan penumpahan darah dan pembunuhan terhadap orang-orang Muslim dan non-Muslim yang tidak bersalah yang dilarang Allah swt. untuk dibunuh kecuali dengan alasan legal.

Dilansir harian Mesir Ahram, fatwa tersebut menekankan bahwa hukum syariat amat memuliakan darah (nyawa) manusia dan mengancam dengan keras agar jangan ditumpahkan (dibunuh) dan dicederai tanpa alasan yang dibenarkan. Allah swt. berfirman,

ولا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق 

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. al-An’am: 51)

Allah swt. juga menilai bahwa membunuh satu nyawa baik Muslim atau non-Muslim tanpa alasan yang dibenarkan, itu setara dengan membunuh umat manusia keseluruhan. Al-Qur’an menyebutkan,

من أجل ذلك كتبنا علي بني إسرائيل أنه من قتل نفسا بغير نفس أو فساد في الأرض فكأنما قتل الناس جميعا ومن أحياها فكأنما أحيا الناس جميعا 

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. al-Maidah: 32)

Darul Ifta lebih lanjut menunjukkan bahwa jika selama perang fisik yang sebenarnya dengan musuh, tidak diperbolehkan membunuh wanita bukan pasukan, anak-anak, orang tua dan orang-orang yang dipekerjakan di luar kepentingan perang, maka tentu lebih terlarang lagi membunuh mereka di luar kondisi perang. Allah swt. berfirman, 

وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا إن الله لا يحب المعتدين

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. al-Baqarah: 190)

Yang dimaksud dengan “orang-orang yang memerangi kamu” adalah para musuh yang bersiap memerangimu. Pemahaman terbaliknya, janganlah kamu memerangi orang tua, wanita dan anak-anak.

Fatwa di atas menegaskan bahwa syariat Islam mewajibkan perlindungan dan pemeliharaan terhadap lima yang seluruh agama bersepakat untuk menjaganya. Yaitu, perlindungan agama, nyawa, akal dan kehormatan. Kelimanya populer dikenal dengan istilah maqashid syari’ah.

Aksi terorisme dan pengeboman bunuh diri melanggar tujuan pemeliharaan nyawa dan harta.” tandas Lembaga Fatwa Mesir itu.