Mengapa Allah perlu membahagiakan hamba-hamba-Nya? Karena setiap manusia senantiasa menghadapi permasalahan dalam kehidupannya. Problematika kehidupan biasanya membawa kesulitan. Apalagi jika sudah komplek, seakan hidup terasa sempit. Sehingga kebanyakan manusia berharap supaya masalah-masalah tersebut segera berlalu serta memperoleh hidup yang lapang nan bahagia.

Islam datang kepada manusia membawa ajaran dan tuntunan hidup. Hal tersebut bertujuan agar hidup manusia memiliki tujuan dalam mengarungi kehidupan. Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengasih terhadap setiap hamba-Nya. Al-Qur’an yang diturunkan kepada nabi Muhammad merupakan bukti konkrit atas belas kasih-Nya terhadap umat manusia. Di samping itu, Allah juga menyelipkan hadits Qudsi di sela-sela turunnya Al-Qur’an.

Hadits Qudsi berbeda dengan hadits Nabawi. Abdur Ra’uf Al-Munawi (977-1031 H) mendiskripsikan hadits Qudsi dengan berita yang Allah sampaikan kepada Nabi melalui ilham/ mimpi dalam bentuk makna. Lantas makna tersebut disampaikan kepada para sahabat menggunakan redaksi Nabi. Adapun hadits Nabawi, makna dan redaksinya berasal dari Nabi.

Konon jumlah hadits Qudsi disinyalir mencapai ribuan. Namun Al-Munawi mengumpulkan hadits-hadits tersebut dalam kitab ‘Al-Ittihâfât al-Saniyyah bi Al-Ahâdîts al-Qudsiyyah’ dari kitab-kitab hadits yang mu’tabar. Isi kitab tersebut berjumlah 272 hadits.

Dari hadits-hadits tersebut, ada beberapa hadits yang mengutarakan metode Allah dalam membahagiakan para hamba. Allah memiliki kuasa untuk tidak membiarkan hamba-hamba-Nya berada dalam keterpurukan hidup. Allah senantiasa membersamai mereka. Salah satu dalilnya adalah ketika Nabi bersabda, Allah berfirman dalam hadits Qudsi;

Aku menurut sangkaan hamba-Ku, dan Aku akan selalu bersamanya, ketika ia mengingat-Ku. Kemudian apabila ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia ingat kepada-Ku dalam satu kaum, maka Aku akan mengingatnya dalam kaum yang lebih banyak dari pada kaum itu. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati-Ku satu hasta, Aku akan mendekatinya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, aku akan datang kepadanya dengan lari-lari kecil.” (HR. Bukhari dan Muslim)          

Firman ini membuktikan betapa Allah perhatian kepada hamba-Nya. Ada ikatan antara Sang Khaliq dengan makhluk-Nya. Ia akan senantiasa membalas tindakan hamba-Nya dengan balasan yang berlipat ganda. Ingatan hamba terhadap-Nya, akan dibalas dengan ingatan Allah yang tidak terbatas terhadap dirinya. Pedekate-nya kepada Allah dengan cara apapun, Ia akan membalasnya dengan lebih cepat.

Dalam hal ini, Allah seakan berkata kepada kita, “Jika engkau mendekat, maka Aku akan dekat. Jika engkau jauh, maka Aku akan jauh.”  Ungkapan ini juga digunakan grup musik Bimbo dalam lirik lagunya yang berjudul ‘Tuhan’. Mereka juga menambahkan “Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa berlabuh” yang seakan menjadi senandung kegelisahan hati seorang hamba.

Tidak bisa dipungkiri, manusia mempunyai kegelisahan dalam hatinya. Hati yang tidak tampak secara jasmani, namun mampu menguasai seluruh aktifitas manusia. Karena hati adalah pusat dari kehidupan manusia. Jika hati sedang bahagia, aktifitas berjalan dengan lancar dan sesuai harapan. Jika sebaliknya, hati sedang ‘runyam’, aktifitasnya terganggu dan bahkan ‘macet’ di tengah jalan. Dengan demikian, jalan hidup seorang hamba harus senantiasa bergantung dengan Sang Pemilik hati, yaitu Allah.

Sungguh ironis ketika kita menganggap bahwa Allah jauh dari kehidupan kita. Kita sering mempertanyakan keberadaan-Nya, terutama saat berbagai cobaan dan ujian menimpa. Tidak jarang dalam keadaan seperti ini, kita menganggap bahwa Allah tidak sayang terhadap kita. Seakan Allah menjauh dan tidak peduli terhadap hamba-Nya.

Selain tidak berdasar, anggapan ini merupakan perilaku tidak terpuji kepada Allah. Tentu sikap semacam ini menjadi penghalang datangnya kebahagiaan bagi kehidupan hamba. Melalui hadits Qudsi lainnya, Allah mengingatkan kita;

‎‎Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku, dengan suatu amal yang lebih Aku sukai, daripada jika ia mengerjakan amal yang Kuwajibkan kepadanya. Hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, sebagai tangan yang ia memukul dengannya, sebagai kaki yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Ku-beri dan jika ia minta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi.(HR. Bukhari)

Firman Allah ini menegaskan pada kita bahwa selain berprasangka baik terhadap-Nya, manusia juga harus ada usaha dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Mula-mula dengan melaksanakan ibadah wajib. Praktek-praktek dalam ibadah wajib merupakan amalan prioritas setelah pernyataan iman seorang hamba kepada-Nya.

Tanpa menunggu sempurna ibadah wajib, seorang hamba bisa memulai menyempurnakan proses pendekatan dirinya kepada Allah dengan amalan sunnah. Allah berjanji akan mencintainya dan mendampinginya dalam menunjukkan jalan kebahagiaan kepadanya sebagaimana yang ditunjukkan pada orang-orang shaleh sebelumnya.

Tuntunan Allah dalam membahagiakan hamba-Nya mendorong kita untuk senantiasa berfikir bahwa Allah menciptakan manusia dengan tujuan. Dan tujuan akhir dari perjalanan seorang hamba adalah berlabuh pada-Nya.

Kematian bukanlah akhir dari perjalanan seorang hamba, melainkan awal dari perjumpaannya dengan Kekasihnya yang dirindukan. Saat rindu telah membuncah, maka Kekasih membukakan jalan menuju kebahagiaan yang hakiki. Allah berfirman dalam hadits Qudsi yang disampaikan kepada Rasulullah dan diriwayatkan Abu Hurairah;

Jika hamba-Ku bahagia berjumpa dengan-Ku, Aku pun bahagia bertemu dengannya. Jika ia enggan bertemu dengan-Ku, maka Aku pun enggan bertemu dengan-Nya.” (HR. Bukhari)

Dari pemaparan di atas, setidaknya kita bisa memahami alur kebahagiaan yang Allah sediakan melalui beberapa hadits Qudsi-Nya. Allah ingin hamba-hamba-Nya bahagia menjalani kehidupan. Yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya yang wajib dan sunnah dengan menghadirkan hati. Jika ada masalah, hati yang telah tertaut dengan Allah akan mudah menghilangkan kesempitan-kesempitan hidup sehingga kebahagiaannya akan segera pulih. Dan jika ajal sudah saatnya tiba, Allah telah menanti kita dengan keridhaan dan surga-Nya yang telah disiapkan untuk hamba-hamba-Nya yang ingin berjumpa dengan-Nya. Wallâhu A’lam.