Sudah jelas doa merupakan salah satu ritual ibadah sekaligus sarana syiar bagi agama manapun. Dengan hanya melihat cara mereka berdoa saja, kita bisa langsung tahu agama yang mereka anut tanpa harus bertanya terlebih dahulu.

Pada satu kesempatan, saya pernah ditegur oleh salah satu habib waktu sedang berkunjung kekediamannya, gara-gara menggabungkan kedua jari-jari tangan saya. Beliau bilang bahwa hal yang saya lakukan adalah cara berdoa orang Nasrani.

Hal serupa terulang lagi ketika saya dan beberapa teman sowan ke salah satu syekh di Maroko. Beliau juga mengatakan hal yang sama, bahwa itu adalah ritual doa bagi penganut Masihiyah (Nasrani).

Bagi agama Islam, berdoa dikategorikan sebagai taklif syariat dalam ibadah. Ditambah lagi dengan hampir setiap ibadah yang ada di Islam mengandung unsur doa di dalamnya. Bahkan dengan jelas, Nabi Muhammad saw. mengatakan dalam hadits riiwayat an-Nu’man bin Basyir:

إن الدعاء هو العبادة

“Sesungguhnya doa adalah ibadah.”

Ini menunjukkan bahwa berdoa kepada Allah swt. adalah sumber ibadah. Sebab, apabila angan-angan manusia terputus dari selain Allah, lalu dia menampakkan kelemahan dan hanya berdoa kepada Allah, serta hatinya tidak berpaling kepada selain-Nya, maka berarti ia telah mengakui bahwa Allah swt. memiliki kesempurnaan dan mengabulkan doa, dan sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi dekat, serta Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Inilah hakekat ibadah dan esensi tauhid.

Adapun sabda Nabi, "Doa adalah inti atau esensi ibadah," artinya doa adalah substansi dan ruh ibadah. Ibadah tidak akan bisa tegak tanpanya. Sebagaimana manusia tidak akan bisa tegak tanpa otak. 

Dengan begitu sudah jelas bahwa doa menunjukan bahwa ngumawulo atau ubudiyah (menghambakan diri) mempunyai derajat yang tinggi di hadapan Allah swt. Untuk itu sebagai umat muslim kita dianjurkan untuk selalu berdoa, kapanpun, dan di manapun kita berada.

Sebagaimana yang diperintahkan Allah swt dalam Al-Qur’an surat al-A’raf ayat 55.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.”

Selain itu, maksud teragung dari berdoa adalah sebagai sarana dikabulkannya hajat kita, membawa kebaikan, serta menolak keburukan. Sebagaimana firman Allah swt.

“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan, apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan.” (Q.S.an-Naml: 62)

Lantas, kenapa masih saja banyak orang mengeluh doanya tidak dikabulkan, padahal sudah rajin berdoa?

Imam az-Zahid Ibrahim bin Adham rahimahumullah juga pernah ditanya hal yang sama. Ketika beberapa orang mengadu kepada beliau, bahwa mereka tidak berhenti berdoa kepada Allah swt., namun masih saja belum dikabulkan-Nya. Kemudian beliau menjawab:

“Kalian tahu Tuhan, tapi tidak taat kepada-Nya. Kalian tahu Rasulullah, tapi tidak mengikuti sunnahnya. Kalian tahu Al-Qur'an, tapi tidak mau mempelajarinya. Setiap hari kalian memakan nikmat-Nya, tapi tidak tahu cara mensyukurinya. Kalian tahu surga, tapi tidak mencarinya. Kalian tahu neraka, tapi malah berlari ke arahnya. Kalian tahu setan, malah berteman denganya. Kalian tahu mati, tapi tidak bersiap menghadapinya. Kalian melihat saudaramu di kubur, tapi tidak mengambil pelajaran darinya. Kalian tidak peduli dengan aib sendiri, malah sibuk dengan aib orang lain.”