Al-Azhar Fatwa Global Center merilis fatwa terbaru terkait status puasa seseorang yang sedang divaksin.  

Pusat Fatwa Al-Azhar pertama-tama menyatakan bahwa semua vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh perusahaan internasional bekerja dengan cara menyuntikkan sebagian kode genetik virus ke dalam tubuh (lengan).

Penyuntikan ini bertujuan untuk menstimulasi sistem kekebalan dan mempersiapkan daya tahan tubuh untuk menghadapi infeksi.

Dilansir Yaum7.com (6/3), Pusat Fatwa Al-Azhar menegaskan bahwa vaksin dan vaksinasi dengan cara ini bukan tergolong makanan dan minuman atau yang semakna (dihukumi sama) dengan keduanya.

Vaksin diberikan melalui suntikan jarum ke pembuluh darah atau otot (humerus, paha, atau kepala mekanisme) atau di mana saja dari area tubuh bagian luar yang notabenenya bukan merupakan saluran keluar alami yang biasa, seperti mulut dan hidung terbuka.

Dari sana, orang yang berpuasa tidak lantas batal puasanya jika dia disuntik vaksin. Sebab syarat batalnya puasa adalah sampainya sesuatu yang masuk ke dalam jauf (saluran dalam yang sampai ke lambung) dari saluran keluar alami yang terbuka dan dapat dilihat secara kasat mata. Bukan dari saluran keluar yang tidak biasa seperti  pori-pori dan pembuluh darah, yang secara adat kebiasaan tidak disebut sebagai saluran keluar yang terbuka.

Lebih lanjut, Al-Azhar Fatwa Global Center menukil pernyataan Ibnu Najim sebagai berikut:

“Atau mengurapi, berbekam, memakai celak atau mencium; semua itu tidak membatalkan puasa. Dengan alasan urapan atau olesan minyak tidak berseberangan dengan makna puasa dank arena tidak adanya benda dalam bentuk fisik dan pengertiannya yang membatalkan puasa. Zat yang masuk ke dalam tubuh itu melalui pori-pori, bukan dari jalur lubang keluar-masuk yang ada dalam tubuh manusia. Kegiatan ini tidak bertentangan dengan puasa. Sebagaimana jika seseorang mandi dengan air dingin lalu dia merasakan embun di dalam hatinya.” Lihat Al-Bahr ar-Raiq Syarh Kanz ad-Daqaiq karya Ibnu Najim (2/293).

Abu al-Baqa ad-Darimi ketika menjelaskan tentang syarat menahan atau mencegah masuknya benda ke dalam apa yang disebut dengan jauf sebagai salah satu syarat puasa sebagai berikut:

“Dikecualikan dari jauf adalah jika menyuntikkan cairan ke pangkal paha atau betis atau mengobati luka yang sekiranya bisa sampai ke otak atau daging. Begitu pula jika dilakukan pembedahan sampai ke urat pembuluh darah. Semua itu tidak membatalkan puasa, karena tidak termasuk jauf.” Lihat An-Najm al-Wahhaj fi Syarh al-Minhaj (3/295).

Pusat Fatwa Al-Azhar berkesimpulan bahwa menerima vaksin pada siang bulan Ramadhan, lewat suntikan jarum di lengan tidak membatalkan puasa, karena ia masuk ke dalam tubuh melalui (pori-pori) kulit, dan kulit tidak termasuk jalan masuk menuju jauf.

Meskipun demikian, yang lebih baik adalah menunda suntik vaksin sesudah berbuka puasa, karena terkadang seseorang membutuhkan nutrisi (makan) atau penanganan tertentu sesudah menerima vaksin.