أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

“Aku Tuan seluruh manusia di hari kiamat. Akulah orang pertama yang dibangunkan dari kuburnya. Dan aku orang pertama yang memberikan pertolongan dan diberi pertolongan (Allah),” (HR. Muslim [6079] dari Abu Hurairah ra.)

Michael H. Hart, guru besar ilmu astronomi dan fisika salah satu perguruan tinggi di Maryland, Amerika Serikat mencatat nama Nabi Muhammad SAW sebagai orang pertama dari seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia.

Penulis buku Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah itu mempunyai alasan yang kuat menempatkan Nabi Muhammad di urutan teratas. Ia menegaskan bahwa, Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya manusia yang membawa perubahan besar dan berhasil meraih kesuksesan-kesuksesan yang luar biasa baik dari sisi agama maupun duniawi.

Ilmuwan yang beragama Nasrani tersebut juga menyatakan, perubahan yang demikian luas dihadirkan oleh Nabi Muhammad hanya dalam kurun waktu kurang lebih 23 tahun. Tanah Arab yang saat itu tidak memiliki agama tertentu kecuali menyembah berhala dan mengalami kebejatan moral, mampu “disulap” oleh Nabi Muhammad menjadi kawasan religius yang mengesakan Tuhan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Kunci dari kesuksesan Nabi Muhammad SAW adalah keteladanan.[1]

Dalam setiap sisi kehidupan, Nabi Muhammad SAW selalu dijadikan teladan oleh para sahabat dan pengikutnya. Segala ucap dan sikap beliau tidak pernah luput dari pandangan para sahabat sehingga sahabat melihat langsung bagaimana Nabi berbicara, makan, minum, dan melakukan aktifitas kesehariannya. Keteladanan Nabi inilah yang menjadikan masyarakat Arab lebih beradab dan mengerti sopan-santun.

Baca juga: Pesan Syekh Al-Azhar dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Sebagai teladan seluruh manusia, tentu Nabi Muhammad memiliki visi dan misi utama Nabi Muhammad SAW, yaitu memperbaiki mental dan moral umat manusia sesuai sabdanya yang berbunyi,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sungguh aku diutus untuk menyempurnakan tata krama,” (HR. Ahmad [8952] dari Abu Hurairah ra.).[2]

Nabi Muhammad SAW tidak hanya memerintah para Sahabatnya saja untuk berakhlak baik, melainkan juga memberikan teladan bagi mereka. Anas bin Malik ra. salah seorang sahabat yang sekaligus menjadi pembantu Nabi selama sepuluh tahun menyatakan:

“Rasulullah SAW adalah orang yang paling santun di dunia ini. Suatu ketika ia menyuruhku pergi memenuhi kebutuhannya. Aku katakan kepadanya, aku tidak mau tapi di hati, aku berkata nanti aku akan pergi mentaatinya. Akhirnya kuputuskan pergi. Di tengah jalan, aku menjumpai teman-teman bermainku. Aku pun bermain bersama mereka hingga lupa pesan Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau berada di belakangku dan tersenyum, “Wahai Anas, sudahkah kau pergi ke tempat yang kuperintahkan?” Aku pun langsung pergi memenuhi permintaannya.” (HR. Muslim [2310]).[3]

Dari cerita Anas bin Malik di atas, kita mengetahui bagaimana Rasulullah SAW tidak marah sama sekali saat perintahnya tidak diindahkan oleh Anas. Nabi justru menegur dan mengingatkan Anas dengan senyuman. Keramahan inilah yang selalu terekam di ingatan Anas bahwa, Rasulullah SAW orang yang paling santun di dunia ini.

Baca juga: Tradisi Masyarakat Maroko Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

Kesantunan Nabi Muhammad SAW juga terekam dalam peristiwa Thaif. Saat dakwah Islam mengalami kebuntuan di Makkah, Nabi Muhammad SAW. beserta Zaid bin Haritsha ra. mencoba membentangkan dakwah beliau ke kota yang terletak di tenggara Makkah, yaitu Thaif. Sesampai di kota itu, ternyata Nabi disambut dengan cacian dan ejekan. Pembesar kota Thaif menolak mentah-mentah diplomasi Nabi dan mengusir beliau. Penduduk setempat juga diperintahkan menghujani Nabi beserta sahabatnya dengan cacian, bahkan dengan lemparan bebatuan. Nabi Muhammad SAW. lari meningalkan kota Thaif dengan kaki terpincang berlumuran darah. Sedangkan kepala Zaid bin Haritsah memancarkan darah segar.

Setelah berada di tempat yang aman, dua manusia pilihan itu beristirahat membersihkan luka. Nabi Muhammad SAW menengadahkan tangannya bermunajat kepada Allah,

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ

“Ya Allah, Sungguh kepada-Mu kuadukan kelemahan diriku, keterbatasan upayaku serta hinanya diriku di hadapan manusia,” (HR. Thabrani [14746] dari Abdullah bin Ja’far). Rintihan Nabi tersebut sama sekali tidak menyebut kebiadaban masyarakat Thaif. Tidak ada laknat dan sumpah serapah yang keluar dari mulut Nabi, justru dengan kerendahan hati, Nabi mengakui kelemahan dirinya.[4]

Baca juga: Para Nabi Datang Menyambangi Ibunda Rasulullah

Keluhuran akhlak dan kemuliaan sifat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW. inilah, menurut Imam Al-‘Iz bin Abdul Aziz bin Abdussalam, menjadikan kedudukan Nabi sangat agung di hari kiamat. Hanya Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan kehormatan dari Allah Swt. memberikan syafaat (pertolongan) di akhirat sebagaimana pernah Nabi Muhammad SAW ceritakan:

Kelak pada hari kiamat seluruh orang-orang beriman berkumpul dan mengharapkan syafaat. Mereka berbondong-bondong mendatangi Nabi Adam as. dan berkata, “Wahai Nabi Adam engkaulah manusia pertama dan Allah swt. memerintahkan malaikat bersujud kepadamu, mintakanlah syafaat untuk kami.” Nabi Adam as. menjawab, “Aku tidak bisa.”

Lalu ia menyebutkan kesalahan yang pernah diperbuat. Kemudian mereka mengunjungi Nabi Nuh as. meminta permintaan yang sama namun Nabi Nuh as. menolaknya dengan alasan yang sama dengan Nabi Adam as. setelah Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as. menjadi harapan mereka. Nabi Ibrahim as. justru menyuruh mereka untuk menemui Nabi Musa as.

Setelah bertemu dengan Nabi Musa as., ternyata Nabi Musa as. juga tidak menyanggupi, lalu mereka mendatangi Nabi Isa as.. Permintaan mereka juga pupus, Nabi Isa as. tidak mampu mewujudkannya, mereka diminta Nabi Isa as. untuk menemuiku. Lalu aku menghadap Tuhanku dan sujud meminta pertolongan untuk mereka. Dan Allah swt. mengabulkan permintaan itu…” (HR. Bukhari [4516] dari Anas bin Malik as.).[5]

Baca juga: Nabi yang Bijaksana, Nabi yang Pemaaf

Penjelasan penulis kitab Nihayatussul fi Tafdlilir Rasul tersebut bisa dipahami bahwa, kelak hanya orang-orang yang berakhlak mulialah yang bersanding bersama Nabi Muhammad SAW di surga, sebab kemuliaan Nabi di akhirat disebabkan kemuliaan akhlaknya di dunia. Hal ini menjadi poin penting yang didapatkan dari hadis dan keterangan di atas.

Tidak hanya di akhirat saja, kemuliaan Nabi Muhammad SAW juga terbentang luas baik di dunia. Nama Nabi Muhammad SAW. selalu harum dan disanjung penduduk bumi dan langit. Para Sahabat sepakat akhlak beliau seperti Al-Qur'an, indah dan menawan. Nabi Muhammad SAW. adalah satu-satunya Rasul dan Nabi yang dipuji Allah Swt. dalam firman-Nya,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sungguh engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang luhur,” (QS. Al-Qalam: 4).

Tak salah sang kakek, Abdul Muthallib menamai putra Aminah itu dengan Muhammad yang berarti orang yang selalu dipuji di manapun dan kapanpun.[6]

Guru besar Ilmu Bahasa dan Peradaban Arab Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, Prof. Dr. Syekh Fathi Abdurrahman Al-Hijazi menjelaskan ayat tersebut dalam salah satu kuliahnya, “Ayat itu menggunakan kata على / ‘alaa yang berarti di atas, sehingga dalam ayat tersebut justru Nabi Muhammad SAW lebih mulia daripada akhlak mulia itu sendiri.”

Dari penjelasan di atas tentu kita sepakat dan dapat menyimpulkan bahwa, Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang paling pantas dijadikan simbol budi pekerti yang luhur. Perlakuan Nabi kepada orang yang mencintainya dan membencinya hampir sama. Keburukan yang Nabi terima dari orang-orang yang memusuhinya dibalas kontan dengan kebaikan, bukan keburukan yang serupa.

Kemuliaan akhlak inilah yang menjadikan orang di dalam maupun di luar Islam takjub dan menaruh rasa hormat kepada teladan kita, Nabi Muhammad SAW. Jika Nabi Muhammad SAW disepakati sebagai simbol akhlaqul karimah, tentu umatnya harus menjadi manusia yang paling berakhlak di segala sisi kehidupan dunia ini.

Baca juga: Begini Cara Nabi Muhammad Tertawa, Sangat Manusiawi

Meskipun kita bukan nabi dan rasul, namun setidaknya kita harus berupaya meneladani akhlak para nabi dan rasul, terkhusus Nabi Muhammad SAW. Jika bukan Baginda Nabi yang kita jadikan figur keteladanan, lalu siapa lagi?

Ya Allah, jadikanlah kami muslim yang berakhlak seperti akhlak Rasulullah SAW. Allahumma Sholli wa Sallim wa Barik ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi. Amin.

Referensi:

[1] Michael H. Hart, Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah (Jakarta: Pustaka Jaya, 1994), 27-28.

[2] Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad Al-Imam Ahmad (Beirut: Maktabah Ar-Risalah, 2001), vol. 14, hlm. 152.

[3] Muslim bin Hajjaj, Sahih Muslim (Beirut: Dar Ihya Turats al-Arabi, t.th), vol. 4, hlm. 1805.

[4] Khalid Muhammad Khalid, 10 Episode Teragung Rasulullah (Bandung: Mizan, 2014), 52.

[5] Al-‘Izz bin Abdul Aziz bin Abdusalam, Bidayatussul fi Tafdlilirasul (t.t: - , t.th.), 1.

[6] Nizar Abazhah, Bilik-Bilik Cinta Muhammad (Jakarta: Zaman, 2016), 23.