Kita selalu membanggakan prinsip rahmatan lil ‘alamin, menyodorkan kasih sayang bagi seluruh alam. Kita menjadikannya jargon, motto di pamflet-pamflet, juga menggaungkannya di berbagai kesempatan. Hanya sebagian kecil yang menyadari bahwa itu sangat berat dan hampir mustahil.

Seluruh alam? Bagimana bisa terwujud, jika satu alam saja kita telanjangi dan remas-remas sampai demikian hancur?

Islam senantiasa ramah dan rahmat terhadap seluruh alam. Kalaupun wajah dunia hari ini terlihat buruk oleh perusakan-perusakan, tidak lain bukti bahwa kita terhitung gagal dalam mengamalkan prinsip-prinsip rahmat.

Sebagai sosok pemimpin berjiwa besar, Gus Dur (Abdurrahman Wahid) tentu memiliki pandangan yang holistis tentang lingkungan hidup. Bukan hal yang mengejutkan bila pada tahun 2010, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) memberinya gelar penghormatan selaku tokoh pejuang lingkungan hidup.

Esai ini tidak berniat menyebutkan satu persatu prestasi Gus Dur di bidang ekologi, namun semata upaya menyegarkan kembali pemahaman holistis tentang lingkungan hidup melalui pendekatan hifzh al-bi’ah (menjaga lingkungan) sebagai salah satu organ penting dalam membangun peradaban.

Bila ulah manusia terhadap alam selama 50 tahun terakhir diilustrasikan, siapa pun dapat membayangkan gambar yang akan tampak adalah gaya hidup foya-foya, alat trasportasi, perluasan lahan, tidak luput pula kecintaan pada benda-benda berwujud plastik, yang mana semua itu sudah dan akan terus merusak ekosistem di setiap jengkalnya.

Sampai detik ini, setidaknya manusia memiliki tanggung jawab atas kepunahan hampir 1000 spesies flora dan fauna yang mana sebagian besar terjadi pada paruh abad terakhir.

Setiap detik alam ini bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan manusia dan semua organisme lain, mulai dari menyaring air, menghisap karbon dioksida, sampai memproduksi seluruh bahan pangan. Tidak aneh bila banyak tempat –termasuk Indonesia- menyebut bumi selaku pusat ekosistem sebagai ibu. Betul, ibu yang setiap detik menyusui kita, namun kita durhakai dengan memerkosanya berjemaah.

Sebut saja kepunahan hayati, perubahan iklim, penebangan hutan, hujan asam, desertifikasi, polusi, dan banyak lagi perusakan ekosistem tidak lain tidak bukan akibat ulah manusia. Lihat Surat Ar-Rum: 41-42.

Keanekaragaman hayati (biodiversitas) harus dan selayaknya holistis. Karena dalam ungkapan paling sederhana, ekosistem hanyalah sekumpulan makhluk yang bekerja beriringan bersama-sama. Atau dalam istilah kamus: keanekaragaman suatu komunitas dan lingkungannya yang berfungsi sebagai suatu satuan ekologi dalam alam.

Gus Dur tentu paham betul tentang arti penting holisme lingkungan hidup, terekam dalam bermacam kebijakannya menunjukkan aksi dari pemahaman ini. Bila selama ini kita menyandarkan nomenklatur-nomenklatur penting kepada Gus Dur semisal HAM, demokrasi, pluralisme, kajian keagamaan, maka sudah saatnya kita menegaskan bahwasannya Gus Dur bukan sekadar sosok humanis, beliau juga ulung sebagai ekologis maupun environmentalis.

Gus Dur selalu berkacamata holistis dan futuristis dalam sekali waktu ketika memandang persoalan lingkungan hidup. Pada hutan misalnya, ia memiliki kebijakan berupa moratoriom (penangguhan) tebang hutan minimal sepuluh tahun demi kelestarian ekosistem, hal ini diupayakan sembari mewujudkan restorasi-restorasi berkala, serta jeda untuk mengevaluasi ulang regulasi serta kebijakan yang dinilai merusak sumber daya alam. Lebih-lebih bila yang dirusak adalah paru-paru dunia.

Ambil misal selusin hektar hutan tropis di Kalimantan. Di sana, boleh dikata jumlah spesies tumbuhan dan hewan yang berbeda lebih banyak daripada yang ada di seluruh daratan Eropa. Sehingga misalkan satu spesies burung punah, risiko rusaknya ekosistem akan lebih kecil daripada, katakanlah, di gurun Mesir, di mana jumlah organismenya tidak seberapa, sehingga jika punah satu spesies saja dampaknya akan cukup besar bagi ekosistem setempat.

Kenapa moratoriom Gus Dur penting? Masalahnya kita tidak hanya membuat satu spesies burung di hutan punah, lebih barbar dari itu kita terlampau jauh merampas apa yang menjadikan hutan disebut hutan, yaitu pepohonan.

Saya meyakini deforestasi dilakukan bukan atas dasar tidak tahu, namun dengan pengetahuan dan kesadaran penuh bahwa itu sangat membahayakan ekosistem tertinggi negara ini. Meskipun hutan tropis di Kalimantan dan hampir seluruh hutan Indonesia merupakan salah satu ekosistem tertangguh di dunia, apa yang kita perbuat terhadapnya hari ini akan berdampak serius di tahun-tahun mendatang. Besar kemungkinan generasi sesudah kita menyesali sesuatu yang tidak pernah mereka perbuat.

Segenting itukah dampak dari deforestasi? Kita wajib panik, karena bisa jadi lebih serius dari yang mampu kita perkirakan sehingga penyesalan akan datang lebih cepat.

Alam ini bisa diibaratkan sapu lidi yang rapat ikatannya, bila beberapa lidinya ditarik otomatis ikatannya akan kendor sehingga lidi-lidi lain turut lepas satu persatu. Demikian pula ekosistem bumi, penebangan hutan tidak hanya berdampak kehilangan pohon sehingga menimbulkan banjir, lebih berbahaya dari itu ia akan memicu bencana-bencana berikutnya. Satu hal yang sangat disadari Gus Dur.

Ketika selusin hektar hutan ditebang, serentak sekian spesies yang hidup di sana kehilangan habitatnya. Sebagian akan hijrah ke tempat lain, sebagian yang lain memilih mati di tempat. Mereka yang tidak sanggup beradaptasi dengan habitat baru akhirnya mati juga. Jelas banyak hal yang akan terjadi, pasalnya yang rusak tidak hanya ekosistem setempat, tetapi juga ekosistem sebelahnya.

Semua pohon berfungsi mengatur aliran air hujan, tidak hanya menyerap tetapi juga memperlambat limpasan, membiarkan air meresap ke dalam tanah, sebelum perlahan-lahan membuat jalur ke sungai lalu kemudian ke laut. Ketika pepohonan ditebang, air yang baru menyentuh tanah menjadi tidak terkendali sehingga menyebabkan erosi dan banjir. Tidak hanya itu, air yang sampai ke laut hasil erosi tentu tidak steril seperti semestinya, walhasil ekosistem laut turut tercemar.

Penebangan hutan dalam skala besar dapat menyebabkan dampak lain, yakni perluasan lanskap kering yang tidak produktif atau yang disebut sebagai desertifikasi.

Deforestasi maupun desertifikasi masing-masing membatasi ruang gerak beragam hayati dalam ekosistem yang sebelumnya lestari. Berkurangnya pohon yang tiada henti bersedekah oksigen sembari menyerap karbon dioksida lantas menampakkan ancaman yang disebabkan kemudian, yaitu labilitas iklim.

Karbon dioksida yang tidak terserap mengawang-awang memenuhi lapisan atmosfer sehingga mengakibatkan polusi udara dan menjadikan suhu bumi bertambah panas. Kenyamanan seluruh makhluk hidup, tidak terkecuali manusia, otomatis terganggu. Malangnya itu berlangsung bersamaan ketika kendaraan berikut mesin-mesin industri melepaskan gas rumah kaca dengan membakar bahan bakar fosil. Pukulan ganda inilah yang kemudian mendorong terjadinya pemanasan global, atau perubahan iklim ke arah antah-berantah.

Semua itu berawal dari deforestasi, penggundulan hutan.

Tuhan tidak perlu dibela, demikian salah satu jargon terkenal Gus Dur yang juga menjadi salah satu judul kumpulan esai beliau. Saya sepakat, karena yang amat sangat perlu diberi pembelaan adalah alam lingkungan dari kerusakan-kerusakan oleh sebab tangan kita sendiri.


Holisme: Pendekatan terhadap suatu masalah atau gejala dengan memandangnya sebagai suatu kesatuan yang utuh.