Musim panas tahun 1239 menjadi saksi pertemuan pertama Ash-Shalih Ayyub dengan seorang wanita berparas cantik dengan bola mata biru khas bangsa Eropa Timur. Wajah teduhnya memancarkan kecerdasan dan kewibaan yang tinggi. Kulitnya putih dan lembut seperti sutera Tiongkok. Tubuhnya tinggi dan anggun seperti dewi-dewi Yunani. Hidungnya yang mancung dan runcing siap menusuk hati setiap lelaki yang menatapnya. Wanita itu adalah budak yang dijual di sebuah pasar budak di jalan menuju al-Karak. 

Saat itu Ash-Shalih Ayyub memang sedang dalam perjalan menuju al-Karak dalam rangka menjalani hukuman pengasingan atas perintah ayahnya sendiri. Sultan al-Kamil Ayyub ayah dari Ash-Shalih Ayyub saat itu memang curiga akan gelagat Ash-Shalih yang bersekongkol para Mamluk (budak-budak yang diasuh oleh para sultan di masa Ayyubiyah) ingin merebut kekuasaan dari ayahnya sendiri.

Seolah tak ingin kehilangan wanita yang telah memikat hatinya, Ash-Shalih langsung membelinya tanpa menawar. Begitulah cinta saat sudah merasuk dalam jiwa, sebanyak apapun uang menjadi tiada harganya. Wanita itu bernama Syajarah ad-Durr, nama yang memiliki makna ‘pohon permata’. Nama yang sesuai dengan paras cantik yang dimilikinya. Nama yang sudah cukup untuk menggambarkan keindahan luar-dalam dari seorang wanita.

Syajarah ad-Durr adalah definisi dari kecantikan yang berpadu dengan kecerdasan. Dengan status budak belian yang disandangnya, Ia sebenarnya lebih pantas menyandang gelar permaisuri dari sebuah kerajaan. Kecantikannya tentu akan sangat bersinar saat dia dipoles dengan tata rias kerajaan. Maka tepatlah ketika Ia dibeli oleh ash-Shalih Ayyub yang menjadi salah satu kandidat sultan penerus Dinasti Ayyubiyah.

Sejak dibeli Ia pun menemani ash-Shalih Ayyub selama pengasingan di al-Karak. Ash-Shalih tidak memperlakukan Syajarah ad-Dur seperti umumnya budak. Hal itu karena Syajarah ad-Dur memiliki posisi istimewa di hati ash-Shalih. Syajarah ad-Durr juga melayani ash-Shalih tidak seperti tuannya, namun seperti suaminya sendiri. 

Tahun 1240 kabar mengejutkan datang dari Kairo. Sultan al-Kamil wafat. Ash-Shalih Ayyub pun kembali ke Kairo ditemani Syajarah ad-Durr yang sedang dalam keadaan hamil putra pertamanya. Di Kairo, ash-Shalih pun naik tahta menjadi sultan Dinasti Ayyubiyah. Di Kairo Syajarah ad-Durr melahirkan putra pertamanya yang diberi nama Khalil. Putranya ini diberi gelar al-Malik al-Mansur. Ash-Shalih semakin mencintai Syajarah ad-Durr karena telah memberinya putra yang diharapkan akan meneruskan tahtanya kelak. Maka tak berselang lama ash-Shalih pun menikahi Syajarah ad-Durr. Resmilah Syajarah ad-Durr menjadi permaisuri Kesultanan Ayyubiyah.

Musim panas tahun 1249, saat Sultan ash-Shalih Ayyub memerangi pemberontakan dari pamannya sendiri di Suriah, tersiar kabar Pasukan Salib yang dipimpin Raja Louis IX dari Prancis menginvansi Mesir. Genderang Perang Salib ketujuh kembali ditabuh. Ash-Shalih terpaksa harus kembali ke Mesir dan memilih membuat kamp pertahanan di Asymum, sebuah desa yang tidak jauh dari Dimyath. Saat itu Pasukan Salib dikabarkan telah mendarat di pesisir kota Dimyath. Ash-Shalih Ayyub pulang ke Mesir dalam keadaan sakit parah yang dideritanya sejak dari Suriah. Karena kesehatannya yang terus memburuk yang mengakibatkan kakinya harus diamputasi, maka dia pun dibawa dengan tandu ke istananya di kota al-Mansuroh, kota di sebelah timur Mesir.

22 November 1249, saat musim dingin mulai merayap di udara al-Mansuroh, ash-Shalih Ayyub menghembuskan nafas terakhirnya. Kabar kematian Ash-Shalih Ayyub sampai ke istana Kesultanan Ayyubiyah di Kairo termasuk ke telinga Syajarah ad-Durr, istrinya. Namun Ash-Shalih Ayyub hingga wafatnya sama sekali tidak menunjuk seseorang untuk mewarisi tahtanya. Satu-satunya pewaris tahtanya adalah putranya yang bernama al-Muazzam Turansyah yang sedang menjalani hukuman pengasingan di kota Hasankeyf sebuah kota di tenggara Turki. Ia adalah putra ash-Shalih Ayyub dari istrinya sebelum menikahi Syajarah ad-Durr. Namun karena perilakunya yang buruk, suka mabuk minuman keras, dan bermain wanita peghibur, Sultan ash-Shalih tidak menyukainya, dan memilih tidak menentukan siapa pewaris Kesultanan Ayyubiyah selanjutnya. Namun begitu, sebelum wafat Sultan ash-Shalih telah lebih dahulu menandatangani ratusan kertas kosong yang mengatasnamakan dirinya, agar nanti kertas-kertas kosong tersebut bisa dituliskan titah kesultanan oleh istrinya, Syajarah ad-Durr dan para mamluk kepercayaannya.

Mempertimbangkan Mesir sedang diserang Pasukan Salib, maka kematian Sultan ash-Shalih pun harus dirahasiakan, baik dari pasukan Mamluk ataupun Pasukan Salib. Hal ini bertujuan agar mental pasukan Mamluk tidak turun dan Pasukan Salib tidak merasa diuntungkan. Maka jenazah Sultan ash-Shalih dibawa ke Kairo dengan perahu menyusuri sungai Nil secara diam-diam dan disemayamkan di di sebuah istana di Pulau Roudah, sebuah pulau di sungai Nil yang menjadi basis militer Mamluk Bahri yang berisi para petinggi militer kepercayaan sultan saat itu.

Karena dirasa Mesir butuh kekuatan tambahan, maka Syajarah ad-Durr yang menjadi pimpinan kunci di Kairo mengirim Faris ad-Din Aktai ke Hasankeyf untuk memberi kabar kematian sultan kepada Turansyah. Awal Ramadhan 647 Hijriyah yang bertepatan dengan bulan Desember 1249 Aktai tiba di Hasankeyf. Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 11 Ramadhan 647 H bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1249 Turansyah bersama para sahabat dekatnya dan juga Aktai berangkat ke Mesir.

Di perjalanan menuju Mesir, Turansyah dan rombongannya memilih berhenti di Damaskus beberapa hari. Ia berpikir bisa memanfaatkan kabar kematian ash-Shalih untuk mendeklarasikan dirinya menjadi sultan baru Dinasti Ayyubiyah. Di Damaskus Turansyah membagi-bagikan uang dan emasnya kepada para pejabat dan rakyat Damaskus demi merebut hati mereka dan membuat mereka setia kepada dirinya sebagai sultan baru Dinasti Ayyubiyah. Turansyah yang diminta pulang ke Kairo untuk ikut memperkuat posisi kesultanan secara politik justru mengadakan upacara penobatan dirinya sebagai sultan baru di Dinasti Ayyubiyah di kota Damaskus. 

Tentu saja berita penobatan diri Turansyah sebagai sultan sampai ke Kairo dan juga Syajarah ad-Durr. Para petinggi militer Mamluk sangatlah geram dan marah. Namun dengan kecerdasannya Syajarah ad-Durr yang menjadi pemimpin yang paling dipercaya oleh Mamluk berhasil menenangkan para petinggi militer Mamluk. Dia berpikir, karena Mesir dalam keadaan perang, tidak mengapa Turansyah menobatkan dirinya sendiri sebagai sultan, karena hal itu akan membuat Pasukan Salib tetap berpikiran bahwa tentara Mesir masih memiliki komando. Toh Turansyah tidak akan bisa berbuat banyak karena Syajarah ad-Durr masih memiliki banyak blangko kosong surat perintah sultan yang bertanda tangan asli Sultan ash-Shalih Ayyub. 

Dengan blangko-blangko kosong itulah Syajarah ad-Durr meyakinkan pejabat-pejabat tinggi Kesultanan Ayyubiyah dan rakyat Mesir bahwa sultan hanya sakit dan belum meninggal. Syajarah ad-Durr juga memanfaatkan blangko-blangko kosong bertanda tangan Sultan itu untuk meminta sumpah setia rakyat dan para pejabat kepada Sultan ash-Shalih Ayyub, Syajarah ad-Durr, Turansyah sebagai pewaris tahta, dan Atabeg (semacam panglima militer tertinggi) yang saat itu dijabat oleh Fakhruddin Yusuf. Para pejabat pemerintahan dan rakyat pun percaya bahwa Sultan hanya sakit dan belum meninggal. Mereka pun tetap setia pada Kesultanan Ayyubiyah dan terus berjuang melawan Pasukan Salib. Di sinilah nampak kecerdasan Syajarah ad-Durr dalam bidang politik.

Berita kematian as-Salih Ayyub akhirnya bocor ke telinga Tentara Salib di Dimyath. Dengan kedatangan bala bantuan yang dipimpin oleh Alfonso, Pangeran Poitou, saudara laki-laki Raja Louis IX, Pasukan Salib memutuskan untuk menyerbu kota Kairo. Satu peleton pasukan salib yang dipimpin oleh saudara laki-laki Louis IX lainnya Robert I dari Artois melintasi kanal Ashmum (hari ini dikenal sebagai Albahr Alsaghir) dan menyerang kamp Mesir di Gideila, sebuah desa yang berjarak dua mil (3 km) dari al-Mansurah. Amir Fakhruddin tewas dalam serangan mendadak dan pasukan salib berhasil maju menuju kota Al Mansurah. 

Di istananya yang terletak di benteng Citadel Kairo, Syajarah ad-Durr menyetujui rencana Baibars al-Bunduqdari salah satu perwira tinggi militer Mamluk Bahri untuk mempertahankan kota al-Mansurah. Dalam perhitungan Baibars, penduduk kota al-Mansurah sangat bisa diandalkan untuk membantu para tentara Mamluk Kesultanan Ayyubiyah dan itu akan menjadi kekuatan besar yang tidak terduga oleh Pasukan Salib.

Benar saja, Pasukan Salib terjebak di dalam kota al-Mansurah, Robert of Artois tewas dan pasukan salib dimusnahkan oleh pasukan Mesir dan penduduk kota. Peperangan di kota al-Mansurah ini dipimpin oleh orang-orang yang kelak akan mendirikan Dinasti Mamluk Bahri yang akan mendominasi lautan Mediterania selatan selama beberapa dekade yaitu Baibars al-Bunduqdari, Izz ad-Din Aybak, dan Qalawun al-Alfi.

Selama peperangan berlangsung di al-Mansuroh Syajarah ad-Durr meyakinkan pasukan Mamluk Kesultanan Ayyubiyah bahwa Sultan ash-Shalih Ayyub berada di dalam tendanya memberi komando langsung kepada para panglima perang dan pasukan Mamluk. Syajarah ad-Durr pun berpura-pura mengantarkan makanan dan minuman ke tenda yang dikabarkan tempat Sultan ash-Shalih Ayyub berada. Tindakan ini pun berhasil menguatkan mental pasukan Mamluk.

Pada bulan Februari 1250 putra Sultan ash-Shalih Ayyub, Al-Muazzam Turansyah tiba di Mesir dan dinobatkan sebagai sultan di desa al-Salhiyah karena ia tidak punya waktu untuk pergi ke Kairo. Dengan kedatangannya, barulah Syajarah ad-Durr mengumumkan kematian as-Shalih Ayyub kepada seluruh rakyat Mesir. 

Turansyah langsung pergi ke al-Mansurah bergabung dengan tentara Mamluk dan rakyat al-Mansurah dan pada 6 April 1250 Pasukan Salib berhasil dikalahkan seluruhnya pada Pertempuran Fariskur sebuah desa tidak jauh dari al-Mansurah dan Raja Louis IX berhasil ditangkap.

Bersambung

Sumber Pustaka

Yusuf bin Taghribardi, An-Nujūm az-Zāhirah fī Mulūk Misr wa al-Qāhirah, (Kairo: Dār al-Kutub, tt.), Vol. VI.

Abu Fidā`, Mukhtashar fī Akhbār al-Basyar, (Kairo: Dār al-Ma'ārif, tt.), Vol. III.

Al-Maqrīzi, As-Sulūk li Ma'rifat Duwal al-Mulūk, (Beirut: Dār al-Kutub al-'Ilmiyah, 1997), Vol I.