Imam asy-Syafi’i datang ke Mesir pada akhir tahun 199 H[1] dan menyebarkan fikihnya yang di kemudian hari dikenal dengan al-qaul al-jadid. Ada lima murid senior beliau yang dikenal sebagai periwayat qaul jadid. Mereka adalah al-Buwaithi, al-Muzanni, ar-Rabi’ al-Muradi, ar-Rabi’ al-Jizi, dan Harmalah bin Yahya.[2] Namun yang akan kami paparkan di sini adalah peran ketiga muridnya dalam menyebarkan madhab Syafi’i.

Pertama, al-Buwaithi sebagai “penyambung lisan Imam asy-Syafi’i’”. Nama lengkapnya adalah: Yusuf bin Yahya al-Buwaithi. Ia merupakan seorang mujtahid mazhab (orang yang mampu menyimpulkan hukum langsung dari dalil-dalil syar’i akan tetapi tidak melewati batas-batas pendapat mazhab dan terkadang berbeda pendapat dengan pendiri mazhab).[3]

Ia dianggap sebagai murid Imam asy-Syafi’i yang paling pintar. Tidak jarang apabila ada sebuah permasalahan, yang ditunjuk untuk menjawabnya adalah al-Buwaithi. Ketika Imam asy-Syafi’i mulai sakit dan tidak bisa lagi mengajar, kursi beliau diserahkan kepada al-Buwaithi. 

Baca juga: Kisah Imam Asy-Syafi’i dan Nabi Khidir

Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi bahwa ketika Imam asy-Syafi’i sakit, beliau mengirim al-Humaidi (salah seorang muridnya juga) untuk menyampaikan ke majelis tempat beliau mengajar untuk menyampaikan pesan:[4]

ليس أحد أحق بمجلسي من يوسف بن يحيى، وليس أحد من اصحابي أعلم منه

“Tidak ada satu pun yang lebih berhak duduk di majelisku dibandingkan Yusuf bin Yahya (al-Buwaithi) dan tidak ada santriku yang cerdas dibandingkan dia.”

Kedua, al-Muzanni sebagai “penolong mazhab Syafi’i”. Nama lengkapnya adalah Ismail bin Yahya al-Muzanni. Ketika Imam al-Buwaithi dipenjara oleh pemerintah Dinasti Abbasiyah (sampai ia meninggal di dalam penjara tahun 231 H.) dikarenakan fitnah Muktazilah tentang al-Qur’an sebagai makhluk, maka yang menduduki kursi Imam asy-Syafi’i adalah al-Muzanni. Beliau pernah menjuluki al-Muzanni sebagai penolong mazhabnya di mana beliau berkata:[5]

المزني ناصر مذهبي لو ناظر الشيطان لغلبه!

Al-Muzanni adalah penolong mazhabku, apabila ia berdebat dengan setan pasti ia akan mengalahkannya!”

Kata-kata Imam asy-Syafi’i ini terbukti, karena di kemudian hari al-Muzanni merangkum kitab al-Umm tulisan Imam asy-Syafi’i yang kita kenal di masa sekarang dengan judul Mukhtashar al-Muzanni. 

Baca juga: Imam Asy-Syafi'i, Ulama Asuhan Dua Mazhab Fikih

Dari kitab rangkuman ini, kemudian lahir karya agung yang dituliskan Imam al-Haramain berjudul Nihayat al-Mathlab fi Dirayat al-Mazhab yang merupakan penjelasan dari Mukhtashar al-Muzanni. Kitab Nihayat al-Mathlab kemudian diringkas oleh Imam al-Ghazali (murid Imam al-Haramain) dalam buku berjudul al-Basith, yang diringkas kembali menjadi al-Wasith, lalu diringkas kembali menjadi al-Wajiz. 

Selanjutnya, dari al-Wajiz ini lahir al-Muharrar dan Fath al-‘Aziz tulisan Imam ar-Rafi’i yang melahirkan Raudhah ath-Thalibin dan Minhaj ath-Thalibin. Semua kitab itu adalah penyebab utama langgengnya mazhab Syafi’i di zaman sekarang dan menjadi mazhab yang matang dan komplit dari segi kaidah dan rumusan hukumnya. Semua karya itu bermuara pada tulisan al-Muzanni, maka pantas ia dijuluki “penolong mazhab Syafi’i.”

Ketiga, ar-Rabi’ al-Muradi sebagai “periwayat mazhab Syafi’i”. Nama lengkapnya adalah ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi. Imam asy-Syafi’i pernah berkata kepada Rabi’ al-Muradi[6]:

أَنْت راوية كتبى

Engkau adalah periwayat tulisan-tulisanku.

Perkataan Imam asy-Syafi’i ini kemudian terbukti di mana ar-Rabi’ al-Muradi merupakan muridnya yang paling panjang umurnya. Dia hidup 64 tahun setelah gurunya itu wafat dan meninggal pada umur 96 tahun (270 H.). Itulah yang menyebabkan tersebarnya buku-buku Imam asy-Syafi’i dengan sanad yang tinggi. 

Berbeda dengan al-Buwaithi dan al-Muzanni, ar-Rabi’ tidak menulis karangan, akan tetapi ia fokus meriwayatkan tulisan gurunya. Bahkan apabila terjadi kontradiksi dengan riwayat al-Muzanni, maka ar-Rabi’ yang didahulukan, karena ia menghafal perkataan Imam asy-Syafi’i dengan tepat dan detail.[7] 

Perlu diketahui pula bahwa Rabi’ al-Muradi merupakan murid Imam asy-Syafi’i yang paling lambat memahami pelajaran, namun ia juga yang paling setia berkhidmat kepada gurunya. 

Dikisahkan bahwa Imam asy-Syafi’i pernah menjelaskan permasalahan dan diulang selama 40 kali namun ia tetap tidak memahaminya. Maka setelah selesai mengajar, beliau menyiapkan waktu khusus untuk mengajarinya, sampai dia paham. As-Subki menuliskan:

قَالَ (أي الشافعي) لَهُ (أي المرادي) يَوْمًا مَا أحبك إِلَى وَقَالَ مَا خدمنى أحد قطّ مَا خدمنى الرّبيع بن سُلَيْمَان وَقَالَ لَهُ يَوْمًا يَا ربيع لَو أمكننى أَن أطعمك الْعلم لأطعمتك

“Imam asy-Syafi’i berkata kepada ar-Rabi’al-Muradi: ‘Sungguh kau sangat aku cintai’ dan ia juga pernah berkata: ‘Tidak ada satu pun yang berkhidmat kepadaku sebagaimana Rabi’ bin Sulaiman (al-Muradi). Dan suatu hari Imam asy-Syafi’i pernah berkata, Kalau aku mampu menyuapimu ilmu (seperti menyuapi makanan), maka aku akan menyuapimu.’”[8]

Seolah Imam asy-Syafi’i menyadari betul tugasnya sebagai seorang guru adalah berusaha mendidik muridnya tanpa membeda-bedakan, terlepas apakah dia cerdas atau tidak, karena kita tidak mengetahui di mana tepatnya Allah akan mencurahkan keberkahan-Nya di antara murid kita. Tidak semua biji yang ditanam itu tumbuh, yang tumbuh tidak semua berbuah, yang berbuah tidak semua dimakan. 

Demikianlah hubungan antara guru dan murid, seorang guru harus selalu berkata baik tentang muridnya dan mendoakannya. Dan setiap murid punya peran masing-masing. Ada mereka yang menggantikan posisi sang guru ketika ia udzur; ada mereka yang bertugas menyebarkan ajaran sang guru; dan ada mereka yang memperkokohnya dengan argumen-argumen. 

Tentu ajaran Imam asy-Syafi’i tak akan seperti yang kita kenal sekarang tanpa jerih payah murid-murid beliau dari berbagai bidang, dan para murid pun tak akan bersinar tanpa disinari gurunya.




[1] Al-Qowasimi, al-Madkhol ila Mazhab al-Imam asy-Syafi’i, hlm. 97.

[2] Diktat Fakultas Syari’ah Wal Qanun jurusan Syari’ah Islamiyah Universitas al-Azhar Kairo mata pelajaran Qa’ah al-Bahts al-Madhab asy-Syafi’i thn. 2019, hlm. 17-18.

[3] Abdul Bashir al-Malibari, Al-Qamus al-Fiqhiy, hlm. 293-294.

[4] Al-Bayhaqi, Manaqib asy-Syafi’i, juz 2, hlm. 337.

[5] Az-Zarkali, al-A’lam, juz 1, hlm. 329.

[6] As-Subki, Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, juz 2, hlm. 134.

[7] Al-Qowasimi, al-Madkhal ila Mazhab al-Imam asy-Syafi’i, hlm. 104-105.

[8] As-Subki, Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, juz 2, hlm. 134.