Dengan perkembangan teknologi yang pesat dan persaingan pasar yang ketat, manusia dituntut untuk beradaptasi dengan segala macam praktek jual beli. Salah satunya adalah jual beli secara kredit dan online. Dalam jual beli online juga ada satu istilah populer yaitu dropship.

Lantas apa yang dimaksud dengan dropship, dan bagaimana hukum dropship dan jual beli kredit?

Dilansir dari halaman resmi Darul Ifta Mesir, seseorang bertanya tentang bagaimana hukumnya orang yang mengaku dirinya sebagai pedagang, padahal barang dagangannya tidak berada di tangan alias dropship? Bagaimana hukumnya juga jika pembeli membayar barang tersebut dengan menyicil alias kredit, dan penjual mengambil keuntungan dari cicilan tersebut?

Beberapa ulama mengharamkan dropship dengan alasan barang yang dijual harus berada dalam kepemilikan seorang pedagang pada saat dia menjual barang tersebut, dan bukan dengan menawarkan kepada pembeli dan barang baru tersedia jika pembeli sepakat untuk membeli barang.

Darul Ifta sendiri menerangkan bahwa syariat mengajarkan, menjual barang dengan menggunakan harga asli atau harga kredit yang ditentukan tenggat waktunya, hukumnya sahih alias dibenarkan. Penambahan tarif pada biaya kredit juga diperbolehkan oleh syariat, karena itu termasuk akad jual beli murabahah.

Syariat turut membolehkan adanya penambahan tarif pada akad kredit atau cicilan, selagi kedua belah pihak sepakat dan tidak melanggar batas-batas syariat. Praktik ini sangat membantu manusia dalam menunaikan hajatnya dan tidak termasuk dari praktek ribawi, berdalihkan kaidah syariat yang berbunyi:

إذا توسطت السلعة فلا ربا

“Jika suatu barang telah menjadi penengah maka tidak ada riba.”

Sedangkan menjual barang yang tidak dimiliki alias dropship, sah hukumnya, dikiaskan ke praktek akad salam atau jual beli salam.

Bentuk akad salam sendiri adalah menjual barang pesanan dengan mengirimkan barang di kemudian hari oleh penjual dan nantinya pembeli akan melunaskan pembayaran tersebut jika sudah sepakat dan sesuai dengan syarat-syarat tertentu.

Praktik ini termasuk diperbolehkan menurut syariat berdasarkan dalil dari Al-Qur’an, hadits dan juga ijma’ ulama.

Allah SWT. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)

Ibnu Abbas ra. berkata bahwa turunnya ayat ini adalah untuk menjelaskan akad salam.

Rasulullah SAW. juga bersabda,

مَنْ أَسْلَفَ فِى تَمْرٍ فَلْيُسْلِفْ فِى كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُوم

Hadits ini dituturkan oleh Rasulullah SAW. ketika ia datang ke Madinah. Pada saat itu penduduk Madinah biasa memesan kurma dalam masa satu atau dua tahun. Beliau lantas bersabda,

"Barangsiapa yang ingin memesan kurma, hendaknya ia memesan dalam takaran, timbangan, dan kurun waktu tertentu (yang harus diketahui oleh kedua belah pihak." (HR. Muttafaq Alaihi)

Ibnu Mundzir dalam Al-Ijma’ juga memperbolehkan akad tersebut. Begitu juga dengan Ibnu Qudamah seperti yang tertulis dalam kitabnya Al-Mughni (jilid 6, hal. 385, cet. Darul Hadits).

Dalil-dalil di atas menerangkan boleh memesan suatu barang dengan syarat harus antara penjual harus menjelaskan karakteristik barang kepada pembeli dengan detil meski barang tidak berada di tangan penjual pada saat itu.

Darul Ifta menjelaskan beberapa contoh alternatif yang sering terjadi dalam jual beli salam. Contoh pertama, pembeli bisa meminta penjual untuk membeli barang dari supplier terlebih dahulu, nantinya pembeli akan membeli barang tersebut langsung dari tangan penjual.

Contoh kedua, pihak penjual alias reseller dan kostumer bisa bersepakat untuk datang bersama ke tempat supplier agar pembeli bisa melihat barangnya langsung. Jika kostumer setuju untuk membeli barang tersebut, reseller membelinya dari tangan supplier. Nantinya pembeli akan membayar dengan menyicil pembayaran ke reseller dan Islam membolehkan jual beli seperti ini.

“Semua ini halal, memberi keuntungan untuk kedua belah pihak, tanpa menyalahi aturan agama yang berlaku,” tutup Darul Ifta di akhir penjelasan fatwanya.