Para ulama telah menjelaskan keistimewaan memperbanyak ibadah di bulan Sya’ban, terutama berpuasa. Selain mendapat pahala, berpuasa pada bulan Sya’ban adalah persiapan dalam menyambut bulan agung nan mulia, Ramadhan nanti.

Terkait puasa dalam bulan Sya’ban, Majma’ Buhuts Islamiyah al-Azhar menerima pertanyaan dari seseorang perihal larangan berpuasa pada paruh kedua bulan Sya’ban.

Pertanyaan tersebut berbunyi, “Ibu saya gemar sekali berpuasa, termasuk pada bulan Sya’ban. Tetapi beberapa orang berkata kepada saya bahwa berpuasa pada pertengahan kedua dan akhir Sya’ban dilarang dalam Islam. Apakah itu benar?”

Seperti dilansir dari Masrawy, Komisi Fatwa Al-Azhar menjelaskan bahwa terdapat perbedaan di antara ulama dalam hal tersebut. Namun, Komisi sepakat jika seseorang sudah terbiasa berpuasa, melakukan puasa karena nadzar atau bahkan sedang berpuasa untuk mengqadha puasa Ramadhan tahun lalu, maka tidak ada salahnya untuk terus berpuasa.

Namun apabila dia bukan seseorang yang gemar berpuasa dan tidak memiliki kewajiban untuk berpuasa karena nadzar atau qadha puasa Ramadhan, sebagian ulama berpendapat lebih baik untuk tidak berpuasa hanya di pertengahan kedua Sya’ban.

Sedangkan jika dia hanya meneruskan puasa sunnah yang telah dia lakukan sejak awal bulan Sya’ban, maka tidak mengapa jika dia meneruskannya sampai akhir bulan.

Komisi Fatwa al-Azhar mengutip perkataan Imam Qurthubi ra,

لا تعارض بين حديث النهي عن صوم نصف شعبان الثاني والنهي عن تقدم رمضان بصوم يوم أو يومين وبين وصال شعبان برمضان والجمع ممكن بأن يحمل النهي على من ليست له عادة بذلك ويحمل الأمر على من له عادة حملا للمخاطب بذلك على ملازمة عادة الخير حتى لا يقطع

Imam Qurthubi ra menjelaskan, tidak ada pertentangan antara hadits yang melarang berpuasa pada pertengahan kedua bulan Sya’ban dengan hadits menyambungkan puasa Sya’ban dengan Ramadhan, bahkan menggabungkan keduanya juga bisa.

Larangan yang tertulis dalam hadits hanya berlaku kepada seseorang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa di waktu-waktu tersebut. Sedangkan untuk seseorang yang sudah sering atau memang terbiasa berpuasa sunnah, lebih baik terus melanjutkan agar kebiasaan baik tersebut tidak terputus.

Komisi Fatwa al-Azhar juga menerangkan, perbedaan pendapat ulama terkait hukum berpuasa di pertengahan kedua Sya’ban berdasarkan nukilan Al-Munawi dalam kitab Faidlu Al-Qadir untuk sebuah hadits:

إذا انتصف شعبان فلا تصوموا

“Jika sudah mencapai pertengahan Sya’ban, janganlah kalian berpuasa.”

Para ulama sepakat bahwa puasa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah yang tidak terkait nadzar atau qadha Ramadhan. Sedangkan terkait larangan di dalamnya, ada empat pendapat menurut para ulama:

Pendapat pertama menyatakan boleh secara mutlak untuk berpuasa di pertengahan kedua Sya’ban. Terlepas apakah dia pernah puasa di pertengahan awal Sya’ban kemudian sempat terputus dan kemudian berniat melanjutkannya, atau memang tidak sempat berpuasa di awal Sya’ban dan dia ingin berpuasa di pertengahan kedua Sya’ban.

Pendapat kedua yang diwakili oleh Ibnu Abdul Barr dan banyak diikuti oleh para mufti lainnya, tidak mengapa berpuasa di pertengahan akhir bulan Sya’ban atau di yaum al-syakk, yaitu satu atau dua hari menjelang Ramadhan. Pendapat ini juga sama seperti yang diutarakan oleh Imam Malik ra.

Pendapat ketiga menyatakan sebaliknya. Tidak boleh berpuasa di pertengahan akhir Sya’ban, terutama di ayyam al-syakk, kecuali jika dia meneruskan puasa sunnah yang telah dia lakukan sejak awal Sya’ban atau memang sudah terbiasa melakukan puasa sunnah. Pendapat ini merupakan pendapat terkuat di kalangan Syafi’i.

Sedangkan pendapat keempat menyatakan haram hukumnya berpuasa satu atau dua hari menjelang Ramadhan, tetapi tidak mengapa jika ingin berpuasa di pertengahan kedua Sya’ban. Pendapat terakhir ini juga diikuti oleh banyak ulama.

Meski begitu, Komisi Fatwa Al-Azhar tetap menegaskan bahwa pendapat yang mereka anggap lebih mendekati kebenaran adalah pendapat ketiga menurut mazhab Syafi’i yang telah dijelaskan di atas. Wallahu a’lam bis shawab.