Seorang ulama yang lahir dari keluarga ulama sekaligus kaya raya. Demikian saya membayangkan sosok Ibnu Hajar Al-Asqalani. Pamannya, Fakhrudin Usman, menjadi mufti Syafi'iiyah di Iskandariyah (Alexandria-Mesir), kakeknya seorang ulama murid langsung Ibn Asakir, ayahnya Nuruddin Ali seorang ulama besar murid Ibn Sayyidin Nas, yang sampai pada derajat fatwa, menguasai qiraat (seni baca Al-Qur'an), penyair, sastrawan sekaligus saudagar kaya raya, yang dipuji oleh Al-Iraqi (guru Ibnu Hajar) sebagai “mufti kaum muslimin”.

Ibnu Hajar sendiri memiliki nama lengkap: Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar Al-Asqalani. Julukannya memang Al-Asqalani (kota Askelon di Palestina) tapi Ibnu Hajar dilahirkan pada 773 H, dibesarkan dan tinggal di Mesir.

Keuarga Ulama yang Kaya Raya

Ibnu Hajar ditinggal wafat oleh ayahnya saat usia 4 tahun. Dia kemudian dititipkan pada kakak seayah (tirinya) Az-Zaki Al-Kharrubi yang mencintai ilmu dan Ibnu Al-Qattan, guru ngajinya yang pertama. Sementara saudara kandung Ibnu Hajar adalah perempuan bernama Sitti Ar-Rakbi, yang kelak juga menjadi ulama perempuan di zamannya. “Dia adalah ibu setelah ibuku,” demikian Ibnu Hajar mendeskripsikan kakak perempuannya.

Ayah Ibnu Hajar selain ulama juga pedagang kain. Sehingga keluarga ini terkenal sangat kaya. Kenyataan ini memudahkan bagi imam Ibnu Hajar dalam menuntut ilmu. Keluarga ini termasuk keluarga yang tidak silau dengan kekayaannya. Mirip dengan kisah Abu Hanifah; kekayaan menjadi perantara untuk mendalami ilmu dan berjuang untuk agama.

Sehingga meski jabatan prestisius di masanya sudah dipegang, Ibnu Hajar tetap menolak menerima gaji. Untuk makannya, dia menolak jatah daging sebagai pengajar di masjid Bin Thulun (sebuah masjid besar di masa Mamalik), dan memilih membeli daging sendiri. Jika diundang walimah (perayaan) dia pura-pura makan. Saat terpaksa memakan suguhan tuan rumah dia akan menanyakan asal usul makanan, jika dalam pandangannya dianggap subhat (tidak jelas status haram-halal) maka akan memuntahkannya seperti yang pernah dilakukan khaifah Abu Bakar. Tentu sikap ini adalah wara’ kelas elit, bukan untuk difatwakan pada awam.

Ibnu Hajar menikah di usia 25 atas saran gurunya, Ibnu Qattan. Dari istri pertamanya (Unsu Allah binti Al-Qadli Nazir Al-Jaisy), dia tidak memiliki keturunan.

Tapi yang mencengangkan bahwa istri pertamanya ini kemudian menjadi ulama sekaligus muhaddis. “Sekarang kamu sudah menjadi syeikhah (seikh wanita),” puji Ibnu Hajar. Kita bisa mendapat padanan cerita yang serupa seperti bagaimana Kiai Hamid Pasuruan mendidik istrinya hingga jadi ulama, atau Gus Miek yang juga demikian.

Pada masanya, Ibnu Hajar juga memiliki seorang budak perempuan bernama Khas Turk yang cantik. Karena dicurigai Ibnu Hajar naksir pada budak ini maka oleh istrinya dijual. Tapi Ibnu Hajar tidak kalah cerdik; dia membeli kembali budak tersebut dengan cara mewakilkan pada seseorang.

Dari Khas Turk inilah lahir seorang putra Ibnu Hajar bernama Muhamad dan 6 putri lainnya. Sayang 3 dari keenam putrinya wafat karena wabah. Dari putri-putrinya ini kelak lahir ulama-ulama besar di masanya.

Abu Al-Ma’ali Muhammad sendiri kemudian menjadi ulama besar di masanya. Menempati jabatan-jabatan penting ayahnya: pimpinan di Khanaqa Baybars, mengajar di masjid Al-Husainiyah dan masjid Bin Thulun. Namun semua jabatan ini ditinggalkan karena alasan pribadi.

Konon, karya Ibnu Hajar yang berjudul Bulughu Al-Maram Fi Adillati Al-Ahkam yang kesohor itu didedikasikan untuk puteranya ini. Abu Al-Ma’ali kemudian mempublikasikan karya-karya ayahnya ditemani murid kesayangan Ibnu Hajar, As-Sakhawi, dan sempat mengomentari (syarah) karya terbaik ayahnya yang berjudul Nukhbat Al-Fikr, dengan judul Natijat An-Nazar Syarh Nukhbat Al-Fikr.

Kedermawanan Ibnu Hajar

Tak banyak orang kaya yang bisa mendalami ilmu dan bisa dermawan. Ibnu Hajar, atau sebelumnya Abu Hanifah, masuk pengecualian. Dia memiliki hari khusus untuk berbagi pada fakir miskin dalam setiap tahunnya. Belum lagi sedekah sirr (sembunyi-sembunyi). Para pencari ilmu dan ulama tak ada yang luput dari pemberian sebagai penghormatan pada ahli ilmu. Jika bulan Ramadan Ibnu Hajar membeli manisan untuk dibagi-bagikan. Di hari raya Adha (kurban), dia mengirim daging beserta lauk dan uang ke semua fakir miskin yang nominalnya setara 100 dinar.

Ibadah Ibnu Hajar

Ibnu Hajar tak pernah melewatkan malam tanpa sembahyang, baik saat di rumah maupun dalam perjalanan. Ini disaksikan sendiri oleh imam As-Sakhawi, muridnya. Al-Qur’an menjadi kawannya siang malam. Dia juga memiliki tasbih yang disembunyikan dalam sakunya supaya tak ada yang mengetahui zikirnya di tengah keramaian kecuali Allah.

Keberadaan tasbih yang sesekali jatuh dan bisa mengubah muka Ibnu Hajar karena malu ibadahnya diketahui orang lain, menjadi bukti bahwa dia sejalan dengan mayoritas ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, yang menganggap tasbih sebagai bid’ah hasanah (baik).

Di sini harus ditegaskan supaya tak ada Wahabi Salafi yang mengklaim Imam Ibnu Hajar sebagai salafi secara akidah. Manipulasi kepada imam-imam yang ahli hadits sering dilakukan oleh mereka demi menguatkan akidah yang destruktif dan takfiri (suka mengafirkan) itu. Kita juga harus tegas bahwa muhaditsin, seperti Imam Ibnu Hajar, tidak sama dengan Wahabi, meski mereka berusaha menempelkan diri pada kuam muhaditsin. Apalagi muhadits yang dibanggakan hanya sekelas Al-Albani yang belajarnya hanya di perpustakaan.

Guru-guru dan Kota-kota yang dikunjungi Ibnu Hajar

Kaum muhaditsin memiliki tradisi yang berlangsung dari masa ke masa hingga hari ini: berguru untuk mencari sanad (transmisi keilmuan). Bahkan untuk menjaga tradisi ini mereka punya semboyan “sanad adalah sebagian agama. Seandainya bukan karena sanad maka setiap orang akan berbicara apa yang dia mau.”

Imam Asy-Syafi’i juga berkata,Orang yang mencari hadits tanpa sanad sama dengan pencari kayu bakar di tengah malam gelap. Dikira membawa kayu padahal ada ular di dalamnya.”

Kesadaran ini tertanam kuat dalam watak kaum Muhaddisin. Maka Imam Ibnu Hajar berguru pada ulama-ulama hebat di masanya: yang terkenal tidak hanya keilmuannya tapi juga ibadah dan wara’inya. Semisal Al-Bulqini yang terkenal kuat hafalan dan luas bacaan, Ibn Al-Mulaqqin yang banyak sekali karyanya, Al-Iraqi sebagai pakar hadits yang paling unggul, Al-Haitsami (bukan Ibnu Hajar) yang sangat dalam memahami induk-induk ilmu, dst.

Ibnu Hajar sudah mengarang kitab khusus yang mendokumentasikan tradisi mencari sanad dalam bukunya, Al-Mu’jam Al-Muassas Lil Mu’jam Al-Mufahras. Mencari sanad tidak terbatas pada mendapat ijazah sanad tertentu seperti dibayangkan oleh orang sekarang. Tapi lebih jauh dari itu semua, membaca pada seikh karya-karya hadits dan yang terkait, memahami, mengoreksi, berdiskusi, bahkan berdebat.

Dalam karya tersebut Ibnu Hajar menyebut ada 450 nama guru yang dikunjunginya. As-Sakhawi menambahkan hingga mencapai angka 644. Berbagai kota dan negara didatangi: hampir semua kota di Mesir (Aleksandria, Giza dll), Yaman, Aden (Yaman), Zabid (Yaman), Hijaz (meliputi negara Teluk), Syam (meliputi Syria, Libanon, Palestina, Yordan).

Yang jika lebih dirinci, Ibnu Hajar belajar membaca Al-Qur’an pada Syamsudin Ibn Al-Allaf, tapi diselesaikan hingga hafal pada Shadrudin As-Shafthi. Di umurnya yang ke 12 pernah menjadi imam masjid Haram saat dibawa oleh Az-Zaki Al-Kharubi ke Mekah. Pertama kali belajar hadits pada Afifudin Abdullah An-Nasyawuri saat di Mekah; belajar selama 10 tahun pada Imam Al-Iraqi hingga mendapat ijin mengajar.

Ilmu-ilmu Favorit Ibnu Hajar

Di Mesir dia menghafal kitab Umdat Al-Ahkam (kumpulan hadits karya Al-Maqdisi), Al-Hawi As-Shaghir (kitab fikih Syafi’i karya Al-Qazwini), Mukhtashar Ibn Al-Hajib (fikih mazhab Maliki), Mulhat Al-I’rab (gramatika bahasa), Minhaj Al-Wushul Al-Baidhawi (Ushul fikih Syafi’i), Alfiyah Al-Iraqi (mustalah Al-Hadits), Alfiyah Ibn Malik (gramatika), At-Tanbih karya As-Syairazi (fikih Syafi’i). Namun semenjak 777 H 796 H dia fokus di studi ilmu hadits.

Ilmu-ilmu yang benar-benar dikuasai Ibnu Hajar meliputi: hadits dan ilmu terkait, fikih dan ushul fikih, tafsir dan qira’at, bahasa Arab dan sastranya, sejarah. Di samping Al-Iraqi, dalam ilmu hadits dia belajar kepada semua ulama besar di zamanya. Dalam fikih dan ushul fikih pada Ibn Al-Qattan, pada Al-Abnasi membaca Minhaj karya An-Nawawi, pada Al-Bulqini membaca Ar-Raudlah karya An-Nawawi, pada Ibn Al-Mulaqqin dan Ibn Al-Jama’ah, dalam bahasa pada Ibn Hisyam di Mesir dan Al-Fairuz Abadi semasa di Zabid Yaman, dalam Qira’at pada At-Tanukhi.

Ini harus dipotret untuk mengaskan tradisi kaum muhaditsin sekaligus mematahkan klaim Wahhabi bahwa Al-Albani seorang muhadits. Juga supaya memberi pesan pada pembaca bahwa ilmu itu harus diraih dengan susah payah dan sesuai dengan tahapan-tahapannya.            

Guru-guru Perempuan

Yang menarik dari semua nama-nama guru yang disebutkan dalam Al-Mu’jam Al-Muassas Lil Mu’jam Al-Mufahras adalah penyebutan sekitar 50 lebih nama perempuan. Jadi diantara guru Ibnu Hajar adalah perempuan. Dalam ilmu dan ibadah perempuan setara dengan laki-laki. Dalam deretan nama yang disebut: ada Fatimah At-Tanukhi, Fatimah Ad-Dimasqiyah dst. Dan jangan lupa Ibnu Hajar juga berhasil mencetak kader dari perempuan-perempuan yang ada di sekelilingnya: istrinya (Unsu Allah), saudarinya (Sitti Ar-Rakbu) dan beberapa puterinya menjadi ulama.

Ibnu Hajar di Majlisnya

Ibnu Hajar mengisi majlis imla’ (mendikte dan mencatat) hadits seminggu dua kali: hari Jumat dan Selasa. Biasanya dia akan memulai dengan membaca surat Al-A’la, kemudian dilanjutkan dengan shalawat atas Nabi Saw, lantas berdoa. Saat ditanya mengapa dibuka dengan surat Al-A’la? Ibnu Hajar menjawab untuk meniru gurunya, Imam A-Iraqi. Majlis ini adalah majlis khusus yang dihadiri sekitar 150 murid-muridnya yang mencatat langsung. Di sana ada As-Sakhawi, Zakariya Al-Anshari, Al-Biqa’i, Al-Kamal Ibn Al-Hammam dst. Majlis tersebut kemudian ditutup dengan pembacaan kasidah dan syair-syair penggugah keimanan dan taqarrub pada Allah.

Sementara majlis umum berlangsung di madrasah Al-Husainiyah dengan membaca tafsir, majlis hadits di As-Saikhuniyah, di Khanaqah (pesantren sufi) di Baybarsiyah, Fikih di masjid Bin Thulun, di kubah Al-Manshuriyah, madrasah Az-Zainiyah dll.

Dia juga menerima pertanyaan fatwa dari seluruh penjuru negeri islam. Dalam sehari bisa 30 pertanyaan, kata As-Sakhawi. Sebagian fatwanya bisa diakses di kitab Al-Fatawa Al-Haditsiyah. Dia juga menjabat sebagai qadhi (hakim) setelah dipaksa gurunya, Al-Bulqini dan putera Al-Iraqi, Waliudin Al-Iraqi. Sehingga, sebagaimana disaksikan muridnya As-Sakhawi dalam Al-Jawahir wa Ad-Durar, “kesibukannya hanya membaca, mengajar, ibadah, mengarang kitab. Tak ada waktu kosong, bahkan saat makan minta dibacakan kitab”.

As-Sakhawi memerincinya: selesai shalat Subuh di masjid Al-Hakim, atau di masjid Al-Mankutimuriyah setelah menjadi hakim, dia akan segera menyepi di rumahnya. Jika ada yang bergegas mengejar untuk bertanya sesuatu dia akan menjawab sebentar kemudian masuk menutup pintu rumah. Di dalam rumah dia menyelesaikan wirid dan zikirnya kemudian membaca dan megkaji hingga waktu Dhuha. Jika sedang tidak ada kegiatan di luar rumah, murid-murid akan berdatangan untuk membaca, bertanya, berdiskusi dst hingga menjelang shalat Zuhur. Dia kemudian masuk lagi ke rumah sekitar 15 menit dan melaksanan shalat Zuhur di rumah.

Waktu antara Zuhur dan Ashar digunakan untuk membaca atau menulis sebentar kemudian pergi mengajar ke beberapa tempat yang telah disebutkan sesuai jadwal. Majlis ini berlangsung hingga menjelang terbenamnya matahari. Ibnu Hajar kemudian kembali ke rumah untuk berbuka puasa jika sedang puasa. Setelah shalat Maghrib dia kembali membaca hingga Isya’. Setelah Isya’ ada majlis lagi untuk murid-murid pilihannya.

Fathul Bari, Karya Terbesar Ibnu Hajar

Kitab ini ditulis selama 29 tahun, dimulai dari 817 H hingga 842 H. Umur Ibnu Hajar saat memulai menulis Fathul Bari adalah 44 tahun dan wafat pada 852 H (menurut catatan As-Sakhawi). Lima tahun pertama ditulis dengan cara mendikte: Ibnu Hajar menyampaikan dan murid menuliskan. Selanjutnya dengan cara Ibnu Hajar menulis kemudian didiskusikan dengan murid-murid pilihan. Hal-hal seperti ini perlu dipotret secara jernih untuk memberi kesan pada pembaca bahwa untuk melahirkan “karya agung” butuh proses panjang dan tidak mudah. Butuh pengorbanan waktu, butuh fokus yang tidak main-main.

Karya ini mendapat apresiasi hampir semua ulama lintas masa sebagai karya komentar hadits Al-Bukhari terbaik. Sampai ada yang mengatakan “la hijrata ba’da al-fathi” (tak perlu pindah ke kitab lain jika sudah baca Fathul Bari). Untuk mengekplorasi keunggulan kitab ini perlu tulisan khusus. Ibnu Hajar merupakan penulis produktif yang menghasilkan lebih dari 200 karya, sebagian berjilid-jilid. Sekian. Semoga kita bisa meneladani Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan dikumpulkan kelak bersamanya dan para orang shaleh, syuhada dan anbiya. Amin.