Kelahiran ilmu Hadits telah lama menjadi perdebatan antar ulama. Pada abad ke-II Hijriah, Imam Syafi’i (w.204 H) dinilai sebagai ulama perintis yang menginspirasi kodifikasi ilmu Hadits. Dalam kitab Al-Risâlah, Imam Syafi’i telah membahas kriteria hadits shahîh, hafalan para perawi, riwâyat bi al-ma’na, dan perawi mudallis. Pun dalam kitab Al-Umm, ia juga menyebutkan tentang hadits hasan, mursal dan lain sebagainya. Meskipun kita mengenal 2 kitab tersebut bukan sebagai kitab ilmu Hadits, melainkan kitab ilmu Ushul Fikih dan Fikih yang merupakan rujukan utama bagi umat Islam yang bermadzhab Syafi’i.

Perjalanan kodifikasi ilmu Hadits memang memakan waktu yang panjang. Rentang waktu setelah munculnya embrio kodifikasi, hadir pula kitab-kitab ilmu Hadits dengan pembahasan yang dianggap belum komprehensif. Sebut saja kitab Târîkh al-Rijâl karya Yahya bin Ma’in (w.234 H), Al-‘Illah wa Ma’rifat al-Rijâl karya Ahmad bin Hanbal (w.241 H), Al-Muhaddits al-Fâshil Baina al-Râwi wa al-Wâ’i karya Hasan Al-Ramahurmuzy (w.360 H), Ma’rifatu Ulûm al-Hadîts karya Al-Hakim An-Nisaburi (w.405 H), Al-Kifâyah fî Ilmi al-Riwâyah karya Al-Khatib Al-Baghdadi (w.463 H), Al-‘Ilm fî Ulûm al-Riwâyah wa al-Simâ karya Qadhi ‘Iyadz (w.544 H) dan lain sebagainya.

Fakta tersebut berbanding terbalik dengan kodifikasi hadits yang sudah mencapai puncak pada abad ke-III sampai ke-IV Hijriyah. Sedangkan pada masa yang sama, ilmu Hadits baru mencari jatidiri untuk menjelma sebagai bagian dari disiplin keilmuan Islam.


Tayal hal tersebut menjadi keprihatinan bagi Ibnu Shalah. Ulama yang mempunyai nama lengkap Utsman bin Shalahuddin Abdurrahman bin Utsman bin Musa Al-Kurdi Al-Syahrazuri (w.643 H) kemudian menulis magnum opusnya yang berjudul Ma’rifatu Anwâ’i Ulûm al-Hadits yang lebih terkenal dengan nama Muqaddimah Ibn Shalâh.

Perhatian Ibnu Shalah yang mendalam terhadap ilmu Hadits menghasilkan 65 cabang pembahasan di dalam kitab tersebut. Pembahasan ini melampaui karya sebelumnya yang ditulis Al-Hakim Al-Nisaburi dengan menghasilkan 52 cabang pembahasan. Adapun pembahasan dalam karya-karya lainnya masih berada di belakang kitab Ma’rifatu Ulûm al-Hadîts karya al-Hakim. Tidak berlebihan rasanya jika para muhadditsin  pasca Ibnu Shalah memberinya gelar sebagai Shâhib Kitâb Ulûm al-Hadîs berkat revolusinya dalam menyempurnakan ilmu Hadits.

Di samping itu, kitab ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan para pendahulunya dalam tiga hal. Pertama, Pengambilan istinbath secara detail terhadap madzhab-madzhab ulama dan kaidah-kaidah mereka. Kedua, Menjelaskan seluruh terminologi dalam ilmu Hadits secara tepat, termasuk definisi-definisi yang belum dibahas sebelumnya. Ketiga, Memberikan komentar atau review dan verifikasi terhadap ungkapan para ulama berdasarkan ijtihadnya.

Babak Baru Ilmu Hadits

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa karya Ibnu Shalah ini menandai munculnya ‘periode baru’ dalam kodifikasi ilmu Hadits. Hal tersebut didukung dengan isi kitabnya yang mendetail dan sistematis untuk ukuran saat itu. Bahkan menjadi rujukan utama dalam standarisasi pembelajaran ilmu Hadits.

Pada titik ini, ilmu Hadits dianggap telah mencapai puncaknya. Namun bukan berarti ilmu Hadits tidak mengalami perkembangan lebih lanjut. Karena perkembangan ilmu Hadits pasca Ibnu Shalah ditunjukkan oleh generasi setelahnya dengan men-syarah kitabnya, meringkas (ikhtishâr) bahkan mengkritik metodenya.

Hal tersebut dapat ditelusuri melalui kitab Al-Taqyîd wa al-‘Îdhah karya Imam Al-‘Iraqi (w.806 H) dan kitab Al-Ifsâh ‘alâ Nukat Ibn Shalâh karya Ibn Hajar Al-‘Asqalani (w.852 H) yang keduanya merupakan syarah dari kitab Muqaddimah Ibn Shalâh. Selain itu ada juga kitab Al-Manhal al-Râwî karya Badruddin bin Jamaah (w.733 H) yang merupakan kitab ringkasan dari kitab Muqaddimah Ibn Shalâh.

Apabila kita teliti lebih jauh, tiga kitab tersebut mengawali geliat perkembangan ilmu-ilmu Hadits pasca Ibnu Shalah. Ketiganya menjadi cermin dalam pensyarahan dan peringkasan dari kitab ilmu Hadits yang sudah ada. Tidak jarang ditemukan di dalamnya kritik terhadap karya Ibnu Shalah yang menjadi cermin paripurnanya ilmu Hadits.

Di samping itu, ada beberapa kitab pada masa penyempurnaan ilmu Hadits yang tidak berkaitan erat dengan Ibnu Shalah. Sebut saja kitab Al-Irsyâd karya Imam An-Nawawi (w.676 H) dan kitab Tadrîb al-RâwiSyarhi Taqrib al-Nawâwî karya Imam Jalaluddin Al-Syuyuti (w.911 H). Untuk kitab yang kedua terdengar lebih familiar karena banyak digunakan dalam pembelajaran ilmu Hadits, termasuk di Universitas Al-Azhar, Cairo.

Hal tersebut dikarenakan metodologi penyusunan kitab yang digunakan oleh Imam al-Syuyuti berbeda oleh para pendahulunya. Antara lain; Pertama, Imam Syuyuti banyak menambahkan faedah dan pengembangan materi dalam kitabnya yang tidak ada dalam kitab Al-Taqrîb. Kedua, Imam Syuyuti menjelaskan materi yang ada dalam kitab Al-Taqrîb dengan menggunakan redaksi Imam An-Nawawi dengan penjelasan kata-kata yang ambigu. Ketiga, Imam Syuyuti membantah semua tuduhan yang ditujukan kepada kitab Al-Taqrîb dan Muqaddimah Ibnu Shalah dengan mengutip beberapa pendapat ulama.

Rentetan karya ilmu-ilmu Hadits yang dihasilkan para pengkaji Hadits pada kurun abad ke-7 hingga ke-10 H menjadi bukti konkrit atas kejayaan ilmu Hadits. Tidak dapat dipungkiri pula keberadaan karya-karya ilmu Hadits pada abad ke-10 juga memprakasai masa penyempurnaan Ilmu Hadits seperti langkah yang ditempuh Imam As-Syuyuti.

Sebagai pengkaji ilmu Hadits, kita tahu bahwa perkembangan ilmu Hadits seakan ‘mati suri’ setelah abad ke-10 H. Padahal tidak demikian. Adanya proses penerjemahan karya-karya tersebut dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia merupakan kemajuan tersendiri. Kita yang tidak bisa memahami kata kunci ilmu Hadits secara langsung dari bahasa Arab, justru sekarang diuntungkan dengan terjemahan-terjemahan yang ada.  

Di samping itu, pembahasan-pembahasan dalam ilmu Hadits juga telah masuk proyek digitalisasi. Contohnya proses Takhrij Hadits yang dulunya jlimet dan memakan waktu, sekarang jadi lebih efisien. Akhirnya memudahkan kita untuk melihat status perawi, matan, serta isnad (jalur) dalam menentukan kualitas hadits tersebut.


Terobosan semacam ini memberikan dampak positif kepada umat Islam. Setiap hadits bisa disampaikan secara utuh mulai dari perawi, sanad dan matan beserta penjelasannya yang komprehensif. Tentu hal ini tidak terlepas dari kontribusi para pengkaji ilmu hadits terdahulu, khususnya Ibnu Shalah melalui kitabnya Ma’rifatu Anwâ’i Ulûm al-Hadits yang lebih familiar dengan sebutan Muqaddimah Ibn Shalâh. Wallahu A’lam.