Anak generasi milenial tak lepas dari idola. Sosok idola menjadi panutan dalam segala bidang, termasuk fesyen. Survey Alvara Institut tahun 2019 menunjukkan bahwa 79% generasi milenial membuka smartphone 1 menit setelah bangun tidur. Hal ini menyebabkan banyak pergeseran pola pikir, termasuk menentukan idola.

Sebuah riset yang dirilis media daring baru-baru ini menunjukkan, selegram dan vlogger lebih diminati daripada seleb TV. Loh! Boleh nggak ya mengidolakan vlogger dan selegram? Selebritis jadi idola? Berikut ulasan tim sanad media yang berkenaan dengan idola.

Jawaban:

Mengidolakan seseorang hukumnya boleh, selama hal itu tidak berhubungan dengan keyakinan, akidah dan kemaksiatannya. Karena meneladani suatu kebajikan bisa dari siapapun, termasuk orang nonmuslim sekalipun.

Dalam Islam tidak ada aturan yang tegas dalam pembahasan secara spesifik mengenai boleh tidaknya mengidolakan artis, terutama nonmuslim.

Namun Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk senantiasa berlaku adil dan fair dalam menilai siapapun. Hal ini tertuang dalam firman Allah SWT,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah [5]: 8)

Allah SWT memberitahu kita bahwa dalam diri nonmuslim sekalipun terdapat sikap-sikap yang baik, dan kita boleh mengapresiasinya.

Dalam konteks mengidolakan seorang artis atau public figur, Imam Al-Ghazali menuturkan dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, jilid 2, hal. 184, cetakan: Maktabah Ash-Shafa, Cairo, dengan redaksi:

وان اجتمع في شخص خير وشر وجب ان يحب لأجل ذلك الخير ويبغض لأجل ذلك الشر

“Apabila terdapat suatu kebaikan dan keburukan pada diri seseorang, maka wajib menyukainya karena sisi kebaikannya, dan wajib mencela atau mengecamnya dari sisi buruknya.”

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila pengidolaan mencapai tahap fanatik dan tidak memilah-milah baik buruknya, maka hal itu tidak diperbolehkan. Wallahu a’lam.

Arif Khoiruddin, Lc.
(Anggota Tim Ahli Fikih Sanad Media)