Akal adalah anugerah teristimewa yang diberikan oleh Sang Pencipta alam kepada insan. Oleh karenanya, manusia disebut sebagai makhluk yang sangat sempurna jika dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Amat sangat pantas jika anugerah tersebut dijaga dari kesesatan dan keterpurukan dengan semaksimal mungkin. Namun meski demikian, kita juga sangat menyadari betapa bahayanya akal ketika terjerumus dalam jurang kesesatan dan salah dalam merumuskan pemikiran.

Mantiq hadir sebagai salah satu disiplin ilmu yang mendapatkan perhatian khusus dari para ulama dan cendikiawan Muslim. Terlebih ketika pemikiran-pemikiran zionis, sekuler dan liberal semakin menjamur di tengah-tengah masyarakat awam.

Ilmu Mantiq atau yang juga dikenal sebagai ilmu Logika adalah ilmu yang menjelaskan tentang alat atau perangkat berpikir guna menemukan konklusi yang tepat dan benar, sehingga orang yang menguasainya tidak tersesat dalam berpikir, apalagi terjerumus dalam jurang kebinasaan.

Ilmu Mantiq merupakan salah satu media guna untuk memperjuangkan dan membela Ilmu Kalam. Oleh karenanya hukum mempelajari dan mengajarkan Ilmu Mantiq adalah sebuah keniscayaan bagi para pejuang pemikiran aliran Ahlus Sunah wal Jama'ah dan pembela kajian Ilmu Kalam. Dengan alasan, membela ilmu Kalam tidak cukup hanya dengan menggunakan dalil naqli, yang diambil dari Al-Qur'an dan Sunnah belaka, melainkan juga membutuhkan dalil aqli (rasio).

Hal ini dikarenakan tidak semua orang percaya dengan argumentasi yang bersifat naqli (Al-Qur'an dan Sunnah) saja, karena mereka mengunggulkan bahkan mendewa-dewakan nalar berpikirnya. Dan hal yang seperti ini tidak dapat tertangani kecuali dengan dalil aqli.

Semisal, kita mengetahui bahwa alam adalah sesuatu yang baru, karena alam mengalami perubahan mulai dulu hingga sekarang, dan sesuatu yang mengalami perubahan adalah barang yang baru.

Semisal lagi, Zaid yang melihat Umar bisa berbicara dengan lisannya, kemudian Zaid menyimpulkan bahwa setiap orang yang memiliki lisan berarti bisa berbicara.

Kesimpulan yang seperti itu sangat salah, karena terbukti banyak orang yang memiliki lisan namun tidak bisa berbicara, karena bisu, stroke dan lain sebagainya. Dan juga banyak makhluk yang tak memiliki lisan namun ternyata bisa berbicara dan bersuara.

Dalam mempelajari Ilmu Mantiq, memang ulama berbeda pendapat. Ada yang mengharamkan, ada juga yang memperbolehkan bahkan mewajibkan.

Kelompok yang mengharamkan bertendensi serta berargumen bahwa Ilmu Mantiq adalah produk Yahudi, namun mereka lalai bahwa banyak produk buatan Non-Muslim yang telah mereka manfaatkan, seperti alat transportasi, ilmu medis dan lain sebagainya.

Pendapat ini, mereka yakini akan kebenarannya, hanya berlandaskan bahwa yang memproduksi adalah Non-Muslim. Mereka sama sekali tidak menengok seberapa besar manfaat yang didapatkan dari Ilmu tersebut.

Imam Hatim bin Yusuf Al-Miliki pernah mendengar pernyataan ngawur dari pengikut kelompok tersebut. Dia mengatakan bahwa diperbolehkan cebok dengan menggunakan Kitab Mantiq dengan tujuan merendahkan. Sontak Imam Hatim-Al Maliki meminta kepada orang tersebut untuk mengeluarkan dalil atas pernyataan tersebut, namun ia tidak mampu menunjukkannya.

Ada juga yang bertendensi bahwa Mantiq adalah ilmu yang telah terkontaminasi dengan pemikiran filsafat, sehingga harus dihindari. Namun mereka tidak melihat seberapa jauh manfaat dan maslahat yang diraih dari Ilmu tersebut.

Sedangkan kelompok yang memperbolehkan meyakini bahwa mempelajari Ilmu Mantiq merupakan sebuah keharusan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemikiran-pemikiran liberal yang bertentangan dengan aturan Al-Qur'an dan Sunnah yang perlu untuk ditanggapi dengan serius.

Di samping itu, pemikiran yang tidak dilandasi karakter yang sehat dan logika yang benar, hanya akan menimbulkan kegaduhan, kesesatan, kehancuran dan juga tidak dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya, Al-Imam Hujjatul Islam, Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali mengomentari tentang pentingnya ilmu Mantiq:

مَنْ لَا مَعْرِفَةَ لَهُ بِالمَنْطِقِ لَا وُثُوقَ بِعِلْمِهِ

“Barangsiapa yang tidak mempunyai pengetahuan tentang Ilmu Mantiq maka ilmunya tidak dapat dipertanggungjawabkan.”

Imam Al-Ghazali juga mengatakan bahwa fungsi dari Ilmu Mantiq adalah menjaga pemikiran dan logika agar tidak mudah tergelincir. Hal ini diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali karena ia menyaksikan banyak pemikir yang tidak menggapai tujuannya tapi justru malah tersesat di konsep yang amburadul, ngawur dan serampangan.

Di samping itu, Mantiq juga untuk melindungi akal manusia yang menjadi pembeda antaranya dengan hewan. Oleh karena itu, Al-Imam Al-Hasan bin Sahal berpesan kepada putranya: Wahai anakku, pelajarilah Ilmu Mantiq, karena itu merupakan keunggulan manusia mengalahkan seluruh hewan, jika engkau semakin pandai tentang Ilmu Mantiq maka engkau lebih berhak untuk disebut sebagai Manusia.

Dan di antara keistimewaan Mantiq adalah mampu mengangkat derajat seseorang yang menguasainya di sisi Allah swt. Imam Al-Yusi berkata, “Ilmu Mantiq tidak akan diberikan secara sempurna oleh Allah kecuali kepada wali-wali-Nya, karena untuk mengenal Allah tidak dapat dicapai kecuali dengan Ilmu Mantiq.”