Saya tak berani menulis biografi Imam Al-Ghazali karena akan bertemu dengan bahrun mughriq (samudera yang menenggelamkan) seperti deskripsi gurunya, Imam Haramain Al-Juwaini, “Al-Ghazali adalah samudera yang menenggelamkan, Al-Kiyya (Al-Harrasi) adalah macan yang menerkam dan Al-Hawafi adalah api yang membakar.”

Saat Al-Ghazali selesai menulis karya ushul fikihnya, Al-Mankhul, Imam Al-Haramain berkata,Kamu telah menguburku. Tidak bisakah kamu sabar menunggu hingga aku meninggal?!”

Karya-karya Al-Ghazali memang mengalahkan popularitas karya-karya gurunya. Sosoknya menenggelamkan gurunya. Dia benar-benar samudera yang menenggelamkan.

Suatu kebanggaan luar biasa bagi seorang guru yang berhasil mendidik santri sekelas Imam Al-Ghazali namun juga menjadi kegetiran tersendiri. Tak ada yang lebih membahagiakan selain menyaksikan santri didikannya menjadi ulama. Apalah guna seorang kiai besar dan masyhur tanpa berhasil mendidik santri yang kemudian menjadi ulama juga.

Mari bersama mendengarkan cerita Murtadha Az-Zabidi sebagai satu-satunya komentator (syarih) Ihya Ulumidin bertajuk “Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin. Tentu sudah puluhan atau bahkan ratusan orang menulis profil Imam Al-Ghazali, baik sarjana muslim maupun orientalis. Bahkan Al-Ghazali sendiri sudah menuliskan otobiografinya dalam Al-Munqidz Min Ad-Dhalal. Namun tulisan Az-Zabidi memiliki signifikansinya sendiri karena memiliki otoritas dalam hal ini.  

Belajar Bukan Karena Allah

Al-Ghazali dilahirkan pada 450 H di Thus, Khurasan (Iran saat ini). Ayahnya wafat saat masih kecil. Atas wasiat ayahnya, Al-Ghazali kecil bersama adiknya, Ahmad, dititipkan pada seorang shaleh yang hidup secara tajrid (menyandarkan hidupnya hanya pada Allah tanpa melakukan usaha lahir). Beberapa saat kemudian lelaki shaleh itu memanggil Al-Ghazali bersama saudaranya.Harta yang dititipkan ayahmu telah habis. Saya tak bisa lagi menanggung beban kalian berdua. Saya akan memasukkan kalian ke madrasah agar mendapat beasiswa.” Demikian lelaki shaleh memberi tahu.   

Di zaman itu, semua pendidikan gratis bahkan siswa mendapat uang saku. Peneliti di perpustakaan Isslam mendapat jaminan hidup dengan fasilitas VVIP. Sehingga Al-Ghazali mengatakan,Awalnya saya mencari ilmu bukan dengan tujuan mencari ridha Allah. Tapi ilmu sendiri menolak untuk dicari kecuali dengan tujuan ridha Allah.”

Disadarkan Perampok

Mula-mula dia bergabung di madrasah Ali bin Ahmad Ar-Razkani di kota kelahirannya, Thus. Kemudian melanjutkan ke Jurjan (Astarabad-Iran) berguru pada Abu Nasr Al-Isma’ili. Setelah beberapa tahun belajar pada Abu Nasr, Al-Ghazali memutuskan pulang ke Thus. Namun malang, kafilah yang diikuti Al-Ghazali dicegat oleh perampok di tengah jalan.

“Ambil semua barang berharga yang saya punya kecuali peti yang berisi kitab-kitabku. Saya berjuang keras mencatat ilmu dalam kitab-kitab itu.” Pinta Al-Ghazali pada pimpinan perampok.

Mendengar permintaan itu, si pimpinan hanya tertawa, Bagaimana kamu bisa mengaku punya ilmu kalau saya ambil peti berisi kitab-kitab ini?!”

“Sudah kembalikan padanya peti-peti itu!” Perintah pimpinan sambil menoleh pada anak buahnya.

Sambil membawa peti kitabnya menjauh, Imam Al-Ghazali bergumam dalam hati,Perampok ini berbicara atas petunjuk Allah. Dia telah menyadarkanku.”

Sesampainya di Thus Al-Ghazali duduk; mulai membuka dan menghafalkan kembali semua catatan ilmunya selama di Jurjan. Selama tiga tahun Al-Ghazali menghafalkan semua catatannya, “Saya menghafal semua catatan saya selama di Jurjan. Sampai seandainya semua buku ini diambil perampok saya tak bergantung lagi padanya.”

Berguru Pada Imam Al-Haramain

Setelah merasa sudah memahami dan menghafal semua hasil bergurunya pada Abu Nasr di Jurjan. Al-Ghazali muda mulai merasa haus ilmu. Benar kata Nabi Saw, Dua orang yang tak akan pernah merasa puas: pencari ilmu dan pencari harta.”

Al-Ghazali melanjutkan petualangan ilmiahnya menuju Nishapur (Iran) untuk berguru pada Imam Al-Haramain Al-Juwaini, guru besar Madrasah Nizamiyah cabang Nishapur. Pada Imam Al-Haramain, dia belajar dan mendalami fikih mazhab, fikih khilaf, ilmu jadal (debat), ilmu kalam, ushul fikih, mantiq, hikmah (filsafat).

Guru Besar Madrasah Nizamiyah Baghdad

Pada 484 H Imam Al-Haramain wafat. Al-Ghazali keluar dari Nishapur menuju ibu kota Baghdad untuk menemui wazir Dinasti Saljuk yang sangat terkenal, Nizam Al-Mulk. Dia memang seorang wazir (semacam perdana menteri) namun pengaruhnya mengalahkan khalifah dan sultan: lihat saja deretan madrasah Nizamiyah yang dibangun atas nama dirinya di kota Baghdad, Balkh (Afganistan), Nisaphur, Herat, Asfahan, Basrah, Mosul, Marw, Thibristan.

Seljuk adalah dinasti yang menyaingi Abbasiyah. Secara administratif masih mengakui kedaulatan Abbasiyah di Baghdad, meski sebenarnya Seljuk yang mengendalikan. Tentara Tartar tak bisa melangkah ke Baghdad karena masih bisa diredam oleh Seljuk.

Di hadapan Nizam Al-Mulk, keilmuan Al-Ghazali diuji. Dia melakukan perdebatan dan diskusi panjang hingga kedalaman ilmunya benar-benar diakui oleh ulama di masanya. Al-Ghazali sesuai deskripsi gurunya, samudera yang menenggelamkan. Nizam Al-Mulk jatuh cinta padanya hingga diangkat menjadi guru besar madrasah Nizamiyah Baghdad di usianya yang masih 34 tahun. Sejak saat itu popularitas Imam Al-Ghazali menanjak cepat.

Al-Manawi menyebutkan bahwa yang hadir di majlis Imam Al-Ghazali di Nizamiyah ada sekitar 300 imamah (ulama bersorban = pembesar ulama). Jadi semua santrinya adalah para ulama besar.

Semenjak berguru pada Imam Al-Haramain, Al-Ghazali sudah menulis dengan lihai dan tajam. Bahasa yang dipakai mudah dipahami dengan logika yang menakjubkan. Tidak seperti karya gurunya yang terkenal rumit dan logika yang melangit. Imam Al-Ghazali berhasil melahirkan karya-karya spektakuler dalam setiap disiplin ilmu yang ditulis. Barangkali kenyataan ini pula yang membuat karya Al-Ghazali melampaui karya gurunya.

Meninggalkan Popularitas

Setelah hampir 5 tahun mengajar, mencetak generasi ulama, dan menulis karya-karya agung di Nizamiyah, Al-Ghazali mulai merasa gelisah. Dia mulai merasa kosong secara spritualitas; merasa semua gerak geriknya didasari keinginan duniawi dan serba pamrih, tak ada ikhlas. “Saya memperjuangkan semuanya untuk orang lain. Untuk saya apa?!” demikian pernyataan seriusnya seperti terekam dalam Al-Munqidz Min Ad-Dlalal.

Dua bulan sebelumnya, Al-Ghazali masih mencoba duduk di kursi kebesarannya untuk mengajar. Tapi lidahnya kelu dan tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Dia mencobanya berkali-kali namun tetap gagal. Selera makannya juga sudah hilang. Kondisinya sungguh kritis. Tabib yang memeriksa mengatakan Al-Ghazali tidak sedang sakit.

Tahun 488 H dia memutuskan pengunduran dirinya dari madrasah Nizamiyah. Posisinya digantikan oleh saudaranya, Ahmad Al-Ghazali. Nama lengkap Imam Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Dia meninggalkan Nizamiyah dengan semua popularitas, kehidupan nyaman dan gaji yang fantastis. Dalam setahun, Nizam Al-Mulk menyisihkan kas negara untuk pendidikan Nizamiyah sebanyak 10.000 dinar emas.

Suluk Ketat

Mula-mula, Al-Ghazali menuju Baitullah untuk melaksanakan haji. Setelahnya dia menuju ke kawasan Syam berpetualang layaknya kaum sufi masa itu, tanpa bekal dan tanpa tujuan. Al-Ghazali ingin menempa diri dalam suluk kaum sufi yang sangat ketat. Dia benar-benar meninggalkan semua kekayaan, popularitas, dan kejayaannya di Nizamiyah.

Menuju Baitul Maqdis di Palestina. Kembali lagi ke Syam dan beri’tikaf di menara barat masjid Damaskus Suriahkemudian menara ini terkenal dengan namanya (menara Al-Ghazali)—selama 10 tahun. Dalam petualangan suluknya, produktifitas Al-Ghazali sama sekali tak berkurang. Bahkan karya-karya abadinya lahir dari sana: Ihya Ulumidin, Al-Arba'in, dan risalah-risalahnya.

Kenyataan ini menegaskan bahwa tasawuf bukan penghalang produktifitas seseorang. Jika dengan masuk tarekat sufi membuat seseorang terhambat maka perlu dikaji niat dan visinya. Sebab untuk menjadi sufi, seseorang tak dibenarkan meninggalkan karirnya selama terhormat menurut pandangan syariat. Tasawuf adalah perilaku batin dan pembersihan hati.

Suatu ketika ada seorang syeikh sedang mengajar dan mengutip namanya, “Al-Ghazali berkata...” Muncul kemudian rasa ujub (bangga hati) dalam diri Al-Ghazali. Maka sejak itu dia memutuskan keluar dari kota Damaskus menuju Mesir, Iskandariyah (Mesir), masuk hutan dan gurun sahara demi melarikan diri dari sifat ujub yang mulai muncul.

Syeikh Suluk Al-Ghazali

Sayid Murtadha Az-Zabidi menegaskan bahwa dalam kelanjutan suluknya, Al-Ghazali berguru pada Abu Ali Al-Farmadi, salah seorang tokoh sentral dalam geneologi tarekat Naqshabandiyah. Farmad sendiri adalah sebuah kota yang dekat dengan Thus (tempat kelahiran Al-Ghazali). Ada lagi Yusuf An-Nassaj yang disebut-sebut sebagai guru Al-Ghazali dalam suluknya.

Setelah petualangan panjangnya, Al-Ghazali memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya, Thus. Di sana dia membangun Khanaqa (semacam pesantren) untuk mendidik murid-murid yang kelak menjadi ulama sekaligus sufi. Al-Ghazali wafat di usianya yang ke 55 pada Jumadil Akhir 505 H, dengan meninggalkan karya-karya abadi yang hingga saat ini masih terus dikaji selayaknya mata air yang tak pernah terputus.

Perlu sesi khusus untuk membincang karya-karya Al-Ghazali. Abdurrahman Badawi sampai menulis buku khusus untuk mengklasifikasi dan mengkategorisasikannya. Al-Manawi mengatakan, Saya telah menghitung semua kitab karya Al-Ghazali dan membaginya sesuai jumlah umur. Maka saya menemukan dalam satu hari Al-Ghazali menulis 4 halaman; terhitung semenjak lahir.”