Pada tahun 2015, novelis muda Kuwait Saud Alsanousi menerbitkan novel ketiganya yang berjudul Fi`ranu Ummi Hessah (Mama Hessa’s Mice). Beberapa hari berselang, Kementerian Penerangan Kuwait mengeluarkan keputusan yang melarang novel tersebut dengan alasan menyalahi norma dan etika masyarakat.

Fi`ranu Ummi Hessah mengulik fanatisme kelompok sunni-syiah dalam masyarakat Kuwait dari masa perang teluk I hingga kisaran tahun 2020. Fanatisme kelompok digambarkan layaknya wabah ganas yang menggerogoti tubuh si penderita tanpa sisa. Dengan mengambil alur masa lalu dan masa depan, kita dapat melihat bahwa wabah yang tak segera ditangani di masa lalu menciptakan petaka di masa depan: perang sipil dengan mayat-mayat bergeletak dan bau memualkan.

Mungkin apa yang dimaksud dengan melanggar norma dan etika yang dituduhkan pemerintah terhadap novel ini adalah bahwa penulis berani meramalkan perang sipil di masa mendatang. Pasalnya, ramalan semacam itu secara tidak langsung akan memunculkan sensi ras yang mungkin tidak disadari oleh masyarakat dan justru memprovokasi mereka untuk melakukan perang sungguhan. Kuwait baik baik saja.

Namun kenyataannya, isu sunni-syiah memang benar-benar ada dalam masyarakat Kuwait dan disadari keberadaannya. Dalam salah satu wawancara Sky News Arabia, Saud Alsanousi mengatakan bahwa isu sunni-syiah bukanlah hal tabu, isu ini berkembang dan dibicarakan sedemikian rupa di jejaring media sosial. Ia merasakan sendiri bagaimana seriusnya ketegangan yang dimunculkan oleh fanatisme kelompok ini. Kuwait tidak baik-baik saja.

Melalui Fi`ranu Ummi Hessah, Alsanousi ingin menyalakan alarm untuk membuat masyarakat siaga akan petaka yang akan datang. Alsanousi tidak berkehendak menawarkan solusi untuk menyelesaikan pertikaian sunni-syiah. Mungkin ia menyadari bahwa misi mewujudkan perdamaian dalam kehidupan nyata tak semudah mengampanyekannya di podium-podium. Alsanousi hanya ingin memberikan gambaran yang lebih dekat tentang bagaimana rumitnya isu sunni-syiah ini.

Novel yang berhalaman 473 ini mengisahkan seorang lelaki yang sejak kecil hidup dalam nuansa kebencian antar kelompok sunni-syiah. Dua tetangganya, Saleh yang sunni dan Abbas yang syiah, tidak pernah saling akur walaupun keduanya membolehkan anak-anak mereka untuk saling berteman. Dan walaupun berteman, Fahed anak Saleh dan Shadeq anak Abbas tak jarang bersitegang karena perbedaan keyakinan mereka. Sang tokoh utama yang tidak disebutkan nama dan kelompok yang diyakininya, selalu berusaha berada di tengah-tengah dan tidak memihak.

Setelah bertahun-tahun menahan gejolak dalam dirinya, sang tokoh utama ini berada dalam puncak keletihan dan kemuakan terhadap segala pertikaian yang terjadi atas nama sunni-syiah. Ia seakan melihat Saleh dan Abbas ada dimana-mana. Ia membenci mereka dan ia harus melakukan sesuatu.

Setelah berhasil membujuk empat sahabatnya (Fahed, Shadeq, Ayyyub dan Dhawi), ia resmi mendirikan kelompok Aulad Foadah yang memiliki misi untuk mengingatkan masyarakat tentang betapa bahayanya fanatisme kelompok. Slogan mereka adalah ‘selamatkan orang-orang dari wabah yang akan datang’.

Jika kisah hidup tokoh utama dalam novel Saqul Bambu (novel kedua Saud Alsanousi yang mendapatkan penghargaan International Prize for Arabic Fiction 2013) berakhir bahagia, maka kisah tokoh utama dalam Fi`ranu Ummi Hessah berakhir sebaliknya. Ia harus menerima kenyataan bahwa Aulad Foadah tak mampu mendamaikan permusuhan yang telah mendarah daging, bahwa Aulad Foadah tak mampu menghilangkan kebencian yang telah mengakar di alam bawah sadar.

Setelah empat tahun pelarangan Fi`ranu Ummi Hessah di Kuwait, Mahkamah Banding berhasil menghapus keputusan pelarangan tersebut pada tahun 2019. Alsanousi bahagia dengan kemenangannya ini namun ia menyebutnya sebagai kemenangan pribadi. Ia tahu bahwa tak sedikit dari karya para sahabatnya yang masih dilarang oleh pemerintah. Kebebasan berpendapat belum sepenuhnya menang. Dan sebelum kebebasan itu benar-benar terwujud, novel dan novelis berada dalam kondisi antara hidup dan mati. 

Dalam The Art of Novel, Milan Kundera mengatakan bahwa kematian novel terjadi ketika ia dibebani oleh larangan, penyensoran dan tekanan yang bersifat ideologi atau pemaksaan ideologi. Menurutnya, novel adalah dunia dengan relativitas dan ambiguitasnya, ia tidak akan dapat hidup di dunia totalitarian. Dan Fi`ranu Ummi Hessah berhasil mengukuhkan nama Saud Alsanousi sebagai novelis Arab muda yang ingin memberontak atas dunia totalitarian itu.

Ketika pemerintah ingin selalu mengatakan bahwa Kuwait baik-baik saja, Alsanousi menolak untuk mengatakan hal yang sama. Dengan kepekaan seorang novelis, ia mampu mengendusi setiap bau, mencermati setiap sudut, dan menangkap setiap suara. Dengan kepekaan semacam itu, Saud Alsanousi tak memiliki pilihan selain bersuara lantang dan mengatakan tanpa ragu bahwa Kuwait tidak baik-baik saja.