Berkata Rabi’ kepada istrinya, “Dinda, tolong buatkan khabish! Pokoknya yang enak ya.” Khabish adalah makanan semacam puding, salah satu makanan mewah pada masa itu.

Istrinya dengan senang hati memasakkan khabish. Jarang-jarang Rabi’ memintanya membuat makanan khusus.

Setelah khabishnya masak, ternyata Rabi’ tidak memakannya. Ia malah membawa khabish itu kepada tetangganya yang punya gangguan jiwa (gila).

Rabi’pun menyuapi khabish tadi kepada tetangganya yang gila itu, sambil air liur menetes-netes dari mulutnya, sampai ia selesai makan.

Mengetahui apa yang dilakukan Rabi’, istrinya pun marah, “Uda, susah payah dimasakkan khabish malah uda kasih pada orang gila. Mana pula orang gila itu tahu apa yang ia makan?”

Rabi’ pun menjawab, “Tapi Allah tahu.”