Syeikh Abdullah al-Talidi merupakan ulama Maroko yang terkenal dengan kepakarannya dalam ilmu hadits. Beliau lahir di desa al-Shaf dari kabilah bani Kraft. Beliau sudah hafal al-Quran sejak berumur 12 tahun.

Ulama Maroko ini memiliki banyak karangan dalam bidang hadits, sejarah, aqidah, fiqh, ushul fiqh, sirah nabawiyah, dan membahas beberapa masalah kontemporer. Beliau meninggal di kota Tangier, Maroko pada hari Sabtu 5 Agustus 2017 lalu.

Kali ini saya akan membahas tentang tulisan beliau di kitab Beberapa Kkenangan di Masa Hidupku” (ذكريات من حياتي). Buku itu antara lain memuat kritikan beliau atas metode menghafal al-Quran yang sering digunakan di Maroko, berdasarkan pengalaman hidup beliau bersama teman-temannya para penghafal al-Quran yang mencukupkan diri dengan hafalan saja.

Beliau mensifati metode seperti ini dengan kata “mandul dan tidak tepat.” Meskipun mereka benar-benar sudah hafal al-Quran dan memiliki hafalan yang kuat, tapi menurutnya hal itu tidak cukup. Karena orang yang hanya hafal al-Quran tanpa mengetahui kandungan isinya dengan mempelajari ilmu-ilmu syariat lainnya, maka orang seperti ini masih akan tetap bodoh seumur hidupnya. Meskipun ia sudah menjadi imam masjid, mengimami shalat lima waktu, dan shalat tarawih dll.

Ia pun menyebutkan beberapa contoh rusaknya akhlak para pengahafal al-Quran di zamannya, dikarenakan kurang memahami ilmu syariat dan kandungan ayat-ayat yang mereka hafalkan. Bahkan hal-hal yang fundamental alam Agama, mereka pun tidak mengetahuinya.

Contoh pertama beliau menyebutkan: bahwa sering kali para penghafal al-Quran di zamannya sengaja meninggalkan shalat lima waktu lalu mengerjakannya di luar waktu shalat. Mereka menganggap hal seperti ini biasa, tidak haram dan tidak berdosa.

Suatu ketika temannya pulang dari pondok tahfidz, lalu menziarahi orang tuanya. Ia tinggal di rumah orang tuanya selama seminggu dan tidak shalat sama sekali, walau hanya satu rakaat.

Lalu pada hari ke-8, ia mengqadha shalat-shalat yang ia tinggalkan selama seminggu dalam satu waktu, hingga ia pun kelelahan, dan meneruskannya dengan duduk.

Kemudian datanglah seorang lelaki bertanya kepadanya, “Kamu sedang shalat apa? Saya perhatikan kok banyak sekali, dan tidak berhenti-berhenti. Kenapa juga kamu shalat dengan duduk?”

Ia pun menjawab bahwa ia sedang menqadha shalat yang ia tinggalkan selama seminggu. Laki-laki itu pun menegur dan menasehatinya, Sungguh hal ini tidak benar dalam agama dan haram dilakukan.” Ia pun tidak menjawabnya, dan meneruskan mengqadha shalat.

Contoh yang kedua, ketika beliau bercerita tentang temannya yang tidak mengetahui tata cara berwudhu. Suatu ketika ia berwudhu di tempat umum. Di suatu sudut ada seorang anak kecil yang memperhatikannya. Si kecil pun berkata kepadanya, “Hai kak, wudhu seperti itu tidak benar.” Setelah itu si kecil berinisiatif memberitahu tatacara berwudhu yang benar kepadanya. Langsung ia berkata kepada si kecil tadi,Pergi sana, kalau tidak, nanti aku tampar kamu.”

Dari pengalaman dan cerita-cerita beliau yang telah kita sebutkan, bisa kita petik hikmah dan pelajaran:

1. Mengahafal al-Quran saja tidak cukup untuk menjalankan ibadah dan kehidupan di dunia ini.

2. Hafal al-Quran tidak bisa dijadikan sebagai objek atau cita-cita terakhir, tanpa memahami kandungan dan isi ayat-ayatnya.

3. Hafal al-Quran memang memegang peran yang sangat penting untuk mempermudah mempelajari ilmu-ilmu syariat lainnya. Karena tidak ada satupun ilmu syariat yang terlepas dari ayat-ayat al-Quran dan kandungannya.

4. Objek kritikan penulis tertuju kepada orang-orang yang mencukupkan diri dengan hafalan al-Quran, tanpa mempelajari ilmu-ilmu syariat lain yang menafsirkan dan menjelaskan kandungan isi al-Quran. Wallahu a’lam bis shawab.