Fenomena kemalasan intelektual yang dibungkus dengan semangat keagamaan menjadi hal yang menarik untuk dibahas, setidaknya untuk masa sekarang ini. Misalnya, beberapa hari yang lalu terjadi penyerangan di Mabes POLRI oleh seseorang yang mendaku dirinya sebagai seorang jihadis.

Lucunya adalah isi dari secarik surat yang dibawa oleh pelaku ini. Konsep-konsep pemahaman Islam yang tidak didasari dengan keilmuan akan berimbas pada kesalahpahaman memahami ajaran agama Islam itu sendiri. Tidak ayal, orang-orang yang memakai kacamata intelektual akan tertawa terbahak-bahak setelah membaca isi surat pelaku ini.

Tak hanya tertawa terpingkal, di sisi lain mereka juga dirundung kekhawatiran terhadap generasi-generasi berikutnya—yang bukan tidak mungkin—akan terjadi hal serupa atau bahkan lebih parah lagi.   

Problematika di atas, sudah semestinya harus diselesaikan dari akarnya. Dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan; memahami ajaran Islam dengan dasar ilmu pengetahuan terkait.

Atas dasar ini, saya hanya akan mencoba menampilkan dua hal yang akan mejadi sangat ‘luar biasa’ bila digabungkan, boleh jadi dua hal ini menjadi sesuatu yang sedang dirindukan oleh umat islam itu sendiri: shaleh ritual (agama) dan shaleh intelektual. Keduanya bisa saling berkolaborasi secara epik. Sampel yang akan saya ambil adalah kota Madinah.       

Madinah adalah satu dari sekian kota yang mengalami perkembangan pesat keilmuan Islam pasca Nabi hijrah. Selain itu, banyak penduduknya yang memiliki semangat keagamaan yang tinggi. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya mereka yang ingin bertetangga dengan Nabi Saw. agar bisa menimba ilmu dan beribadah secara langsung bersama beliau.

Sesudah Nabi Saw. wafat, kota ini menjadi pusat pemerintahan Khulafâ’ al-Râsyidîn. Khalifah kedua: Umar bin Khatab Ra penah memberi kebijakan terkait masalah penempatan para tawanan perang di Madinah. Kebijakan tersebut memberi dampak yang sangat besar bagi kota ini.

Para tawanan perang tersebut kebanyakan orang-orang Persia dan Romawi kelas atas (aristokrat). Mereka masuk Islam dan membawa pemikiran-pemikiran bangsanya. Ajaran-ajaran Islam yang sudah mereka dapatkan pun dikemas dan dikombinasikan dengan pemikiran masing-masing, hingga lahirlah berbagai diskursus keilmuan baru yang belum ada sebelumnya. Selanjutnya mereka tuangkan kedalam berbagai buku.

Fenomena pembukuan berbagai diskursus ilmu ini tidak dijumpai di Makkah, sehingga Madinah pada saat itu dapat dikatakan lebih unggul dalam bidang keilmuan dibandingkan Makkah. Sampai-sampai para muhajirin yang dulunya orang Makkah enggan balik lagi ke tanah kelahiran mereka dengan alasan di Madinah banyak dijumpai berbagai keilmuan yang melimpah.        

Sebelum Islam datang, Madinah tidak begitu ‘wah’ bila dibandingkan dengan Makkah. Jangankan ilmu agama, keilmuan sastra yang menjadi primadona bangsa Arab saat itu pun kurang banyak didengar. Berbeda dari Makkah yang sedari dulu banyak melahirkan para penyair ulung.

Namun siapa sangka seiring berjalannya waktu, perlahan Madinah mengalami perubahan yang signifikan. Di masa permulaan Islam hingga masa Khulafâ’ al-Râsyidîn, kota ini tidak hanya dikenal sebagai kota dengan segudang ilmu pengetahuan Islam maupun sastra, bahkan masyarakatnya tergolong memiliki semangat keagamaan yang kuat. Semangat keagamaan yang dimaksud di sini bukanlah sesuatu yang menjauhkan nilai-nilai toleransi, akan tetapi justu sesuatu yang membawa spirit toleransi itu sendiri.

Berbicara mengenai semangat keagamaan, konotasi makna yang ditimbulkan di era modern saat ini cenderung dibenturkan dengan nilai toleransi. Misalnya seseorang dianggap memiliki semangat keagamaan yang tinggi ketika ia rajin beribadah seperti salat, puasa, zikir, dan sebagainya. Dalam kaitannya dengan Islam, ibadah yang semacam ini disebut dengan ibadah mahdlah.

Sebenarnya anggapan seperti ini tidak masalah, yang menjadi masalah adalah ketika semangat keagamaan dijadikan tempat berlindung dari kemalasan intelektual. Seorang dengan semangat keagamaan tinggi dan mengesampingkan intelektual akan berdampak pada lahirnya agama yang tekstualis bukan kontekstualis. Dan imbas yang ditimbulkan bisa dilihat sendiri akhir-akhir ini, pengatasnamaan jihad yang salah kaprah. Atas dasar ini, orang yang shaleh secara ibadah digambarkan sebagai sosok yang sempurna dan lebih baik daripada yang lain, meskipun secara intelektual lemah.

Kajian-kajian agama di Madinah didekati dengan lintas disiplin: historis, sosiologis, dan literari. Pendekatan historis dibuktikan dengan lahirnya fikih Umar bin Khattab, dengannya kita dapat memahami bagaimana suatu konsep agama berkembang dari masa ke masa, lalu muncul setelahnya keilmuan-keilmuan seperti Ushul Fikih, ilmu Tafsir, ilmu Mushthalah Hadis, dan lainnya.

Pendekatan sosiologi dibuktikan dengan lahirnya ilmu Faraid (ilmu tentang pembagian warisan) oleh Zaid bin Tsabit. Pendekatan literari dibuktikan dengan sastra Hasan Bin Tsabit, dengannya kita dapat memahami formasi teks tertentu. Kemudian muncullah ilmu Balaghah sebagai sebuah pisau analisis terhadap keindahan ayat Al-Qur’an dan penelusuran maknanya lebih dalam.

Dengan beberapa pendekatan ini, peluang terjadinya penyalahartian terhadap ajaran agama Islam akan semakin menyempit. Menyadarkan masyarakat awam tentang hal ini sangat diperlukan dan harus senantiasa digalakkan.   

Madinah, sebuah kota dengan seabrek keilmuannya, telah membuat orang yang datang ke sana tidak akan merasa kering dengan nuansa intelektualnya. Ditambah lagi, penduduknya yang senantiasa antusias terhadap keilmuan dan semangat keagamaan yang tinggi menjadikan kota ini mampu menciptakan ruang harmonisasi antara keagamaan dan intelektual. Adakah wilayah ataupun negara dengan latar belakang agama Islam di masa modern sekarang ini yang benar-benar menciptakan ruang harmonisasi antar keagamaan-intelektual?