Kementrian Kebudayaan, Pariwisata dan Purbakala Irak telah meresmikan proyek rehabilitasi untuk Madrasah Mustansiriya, sebuah gedung sekolah bersejarah yang didirikan di ibu kota Baghdad selama masa kepemimpinan Abbasiyah pada 1230 M.

Kementrian menyangkal rumor tak sedap jika perbaikan struktur bersejarah dapat merusak nilai sejarahnya.

Foto terbaru sendiri membuktikan empat pipa limbah yang menembus dinding luar komplek, menghadap sungai Tigris dan mengelilingi sekitar Madrasah Mustansiriya dari belakang. Bangunan juga tampak menghilang di dalam koridor yang dikelilingi banyak toko dan pasar dengan gang sempit dan berliku, terutama pasar Khaffafin dan Saffaren.

Seperti yang dilansir juga dari Al-Monitor, beberapa faktor di atas dan banyak lagi yang belum tersebut menjadi alasan kuat Kementerian Baghdad untuk merehabilitasi salah satu situs elit bergengsi di Baghdad ini.

Madrasah Mustansiriya merupakan salah satu universitas tertua di dunia dan salah satu karya terbesar peradaban Islam. Universitas mengajarkan ilmu Al-Qur’an, kedokteran dan matematika, di tangan syekh dan ilmuwan senior di Irak dan Levant. Hanya siswa berprestasi yang diterima universitas ini.

Madrasah tersebut juga telah mencetak kurang lebih 8.000 buku.

Iyad Mohammed Hamzah selaku Direktur Jendral Departemen Pemeliharaan dan Pelestarian Purbakala di Kementrian Kebudayaan Baghdad menyatakan,

“Madrasah Mustansiriya dan Istana Abbasiyah telah dinominasikan untuk masuk dalam daftar tentatif warisan dunia UNESCO sejak 2014,” katanya.

Dia juga berharap,  modernisasi dan restorasi yang diadakan secara ilmiah dan sesuai dengan kondisi yang telah ditetapkan UNESCO untuk meningkatkan kesempatan Madrasah Mustansiriya agar masuk ke dalam daftar warisan dunia.

Berkenaan dengan detail pekerjaan pengembangan, Hamzah menjelaskan kembali, “Upaya pemulihan akan difokuskan untuk menghilangkan bahaya air tanah yang mengancam struktur. Ketinggian air sungai Tigris yang berdekatan dengan halaman belakang Madrasah Mustansiriya sangat mempengaruhi pondasi, apalagi ketika permukaan air tinggi.”

Hamzah menyangkal semua kabar burung yang ramai di media tentang pelanggaran terhadap keaslian bangunan madrasah dan menyatakan bahwa semua karya dengan detail terkecil menggunakan material asli yang sama.

Hamzah mencatat proses pemeliharaan Madrasah yang terakhir pada 2013 dalam bidang proyek Baghdad yang ditangani oleh Pusat Kebudayaan Arab.

Saat itu operasi pemeliharaan terbaru mulai dilakukan sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Direktorat Pemeliharaan dan Pelestarian Purbakala, yang meliputi bagian interior halaman, atap, prasasti, pintu, jendela, jaringan pengeringan hujan dan pagar luar.

Sedangkan operasi pemulihan yang akan dilakukan juga akan mengulang terfokus ke beberapa infrastruktur yang membutuhkan perhatian lebih, termasuk merehabilitasi jaringan pencahayaan laser, menangani kebocoran air dan menghentikan kelembapan agar tidak merembes ke fondasi.

Dia juga menjelaskan bahwa pencemaran lingkungan dihasilkan dari lalu lintas yang merupakan risiko paling penting yang mengancam madrasah saat ini.

“Madrasah berlokasi di area dengan lalu lintas padat. Komplek tampaknya hilang di tengah kekacauan komersial yang gaduh, dan toko-toko menyembunyukan nilai sebenarnya sebagai arkeologi penting,” tambahnya lagi.

Hamzah menegaskan Kementrian akan mengatasi kekurangan untuk mengubah madrasah menjadi tempat pariwisata dan budaya.

Madrasah Mustansiriya terdiri dari struktur persegi, dan dibagian tengahnya terdapat halaman luas yang mengarah ke koridor menuju sekitar 80 ruang samping yang dikelilingi oleh gapura. Ruangan-ruangan tersebut digunakan sebagai ruang kelas di era Abbasiyah dan terdapat jendela untuk ventilasi.

Mantan Gubernun Baghdad, Salah Abdul-Razzaq, yang telah menulis beberapa buku dan telah mengadakan seminar tentang sejarah Baghdad, turut menyatakan keprihatinannya,

“Madrasah telah diabaikan selama era Ottoman dan digunakan sebagai gudang untuk departemen bea cukai. Banyak fitur, dekorasi dan prasasti yang menghiasi dinding dan pintu hilang. Direktorat Purbakala mendapatkan kembali kepemilikan Madrasah Mustansiriya pada 1940, dan berusaha untuk merehabilitasi itu.”

Abdul-Razzaq mengatakan operasi pemeliharaan pertama dilakukan pada 1960 dan terfokus pada penyelesaian masalah air bawah tanah karena tingkat halaman sekolah lebih rendah dari tingkat pasar tetangga. Halaman gedung telah direhabilitasi menggunakan batu bata kuning.

“Setelah penyerbuan US terhadap Irak pada tahun 2003, Madrasah dirampas dan disabotase. Gedung itu beralih jadi sarang bagi pencuri dan penjahat. Pada tahun 2005, delegasi UNESCO dan Misi Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Irak mengunjunginya untuk memeriksa kondisi,” ujarnya.

Untuk menjaga nama Madrasah Mustansiriya tetap hidup, pemerintahan Irak turut mendirikan universitas modern- Universitas Mustansiriya pada tahun 1963.

Ghaith Salim, profesor sejarah kuno dan peradaban di universitas, berkata bahwa Madrasah seharusnya sudah masuk dalam daftar warisan dunia sebagai pusat sejarah Baghdad.

Salim berharap Madrasah Mustansiriya tercantum dalam daftar UNESCO setelah proyek pemulihan ini selesai.

 “Bangunan budaya ini membawa warisan agama yang menceritakan sejarah sekolah-sekolah Islam yang digunakan hampir 798 tahun yang lalu, sejak pemerintahan Khalifah Abbasiyah Al-Mustanshir Billahyang membangun sekolah tersebut dari genangan tanah liat.”

Ketua Komite Kebudayaan, Pariwisata dan Purbakala di Parlemen Irak, Sumaya al-Ghalab, juga turut menyampaikan simpati dan dukungan terhadap proyek rehabilitasi Madrasah ini.

“Pemerintah telah memastikan semua pekerjaan pemeliharaan didasarkan pada praktik ilmiah dan profesional sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan internasional.”

Tariq Harb, seorang aktivis yang telah menuliskan beberapa buku tentang sejarah Baghdad, meyakini pekerjaan perbaikan sebelumnya memiliki jejak tersembunyi di era Abbasiyah dan gaya arsitekturnya.

“Pelanggaran dan kerusuhan dari penduduk local yang justru terus mengancam madrasah,” catatnya.

Dia juga menyebutkan bahwa bangsawan Mongol, keturunan Hulagu Khan, yang menaklukan Baghdad pada tahun 1258, selalu berdoa di bangunan bersejarah ini setiap mereka datang ke Baghdad sebelum pergi ke markas besar pemerintahan.

Meski lokasi Madrasah Mustansiriya terletak di jantung kota Baghdad dan mungkin bakal mempengaruhi nilai estetika budayanya, jika proyek pemulihan ini berjalan baik, Madrasah bisa beralih menjadi situs pariwisata sebagai salah satu sumber investasi negara yang menguntungkan. Tentunya Madrasah juga diharapakan untuk menjadi pusat budaya seni.

Madrasah juga bisa saja dialihfungsikan menjadi museum sejarah yang menampilkan era-era keemasan Baghdad.