Peneliti dari Universitas Bahrain, Muhammad al-Kuhiji mengungkapkan bahwa pada era Baginda Nabi Muhammad saw. terdapat empat mata uang yang sering digunakan oleh kalangan orang Arab. Yaitu mata uang kerajaan Byzantium-Romawi, Sasaniyah-Persia, Himyar-Yaman,  dan Habasyah.

Empat kerajaan ini mengeluarkan mata uang berupa koin emas dan perak. Adapun koin emas Byzantium dengan gambar Raja Heraclius adalah yang banyak dipegang dan digunakan kala itu. Sedangkan koin perak Sasaniyah yang bergambar Raja Khosrawi menduduki posisi kedua dalam penggunaannya di era jahiliyah dan masa Baginda Nabi saw. Hal ini sebab kedua kerajaan itu adalah yang terbesar dan saling adu pengaruh pada wilayah-wilayah sekitarnya.

Orang Arab baik yang di Mekkah maupun di Madinah adalah dua peradaban yang terdiri dari suku-suku. Bukan sebuah kerajaan, di mana orang-orangnya gemar melakukan dagang ke negeri Syam dan Yaman. Dari situlah kaum Arab mengais rejeki, mendapatkan koin-koin berharga emas-perak yang kemudian dikenal dengan dinar dan dirham.

Kata "dinar" sendiri disinyalir bukan asli kata Arab,  sebab kebanyakan lafal (kata) Arab terdiri dari tiga huruf saja sedangkan dinar maupun dirham terdiri dari empat huruf. Dinar dari kata Yunani "Dinarius" sedangkan Dirham pun demikian dari kata "Dirkhomah".

Lebih lanjut Muhammad al-Kuhiji menyampaikan bahwa di era Khalifah Umar bin Khattab ra. kaum Muslim diperintahkan menempah emas menjadi koin-koin dinar emas dengan tulisan Arab "Allah Akbar", "Alhamdulillah", dan "Subhanallah".

Hal ini lalu dilanjutkan oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah. Lalu penggantinya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga memproduksi koin perak dirham.

Dengan demikian dapat kita pahami bahwa mata uang yang digunakan sebagai sarana bermuamalah maliyah adalah produk budaya dan peradaban. Tidak ada satu pun Hadis Qawli Baginda Nabi saw. yang memerintahkan penggunaan koin emas-perak sebagai alat transaksi dengan menafikan yang lain.

Sungguh tidak benar jika dikatakan bahwa sunnah Nabi saw. adalah bermuamalah dengan menggunakan koin emas-perak sebagai alat transaksinya. Jika hal itu sunnah, tentu tidak akan timbul dari diri Khalifah Umar bin Khattab ra. sebuah opini untuk membuat alat tukar (uang) dari tembaga atau kulit unta. Apa beliau sebagai murid dan sahabat Nabi saw. tidak tahu? Tidak memahami ajaran Baginda Nabi?

Memang emas-perak nilainya sangat stabil dan baik sebagai alat ukur untuk tukar menukar barang. Namun hal ini bukan produk syariah Islam sebab sebelum baginda Nabi saw. diutus pun koin emas-perak itu sudah digunakan oleh kerajaan-kerajaan sekitar Arab Jahiliyah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa yang baik akan terganti dengan yang lebih baik. Koin emas-perak di era dulu adalah baik namun sudah ada yang lebih baik saat ini yaitu uang giral dan e-money. Betapa mudaratnya kita kalau harus kekeh menggunakan koin emas-perak sebagai alat tukar dalam bermuamalah  dengan dalih sunnah Nabi saw. Bisa-bisa saat pergi haji, bagasi kita sudah sangat berat hanya sebab membawa uang koin tersebut.

Tidak ada ajaran mudarat dalam syariah Islam. Oleh karena itu kita tidak mendapati Hadis baginda Nabi saw. yang secara Qawli (perkataan) memerintahkan kita menggunakan koin emas-perak untuk transaksi. Adapun Hadis Fi'li (perbuatan) atau Taqriri (ketetapan) tentang baginda Nabi saw. yang bertransaksi menggunakan koin emas-perak, hal itu sebab peradaban saat itu yang mengkondisikan beliau melakukan itu.

Dan hal demikian tidak dapat dikatakan sebagai sunnah. Sebagaimana bepergian dagang ke luar kota menggunakan unta, apa kita mau melakukan perjalanan bisnis di era sekarang dengan naik unta dengan alasan sunnah Nabi? Membuat rumah dengan atap bergenteng pelepah kurma sebab sunnah Nabi? Mari memahami teks Hadis dan Ayat dengan konteksnya agar kita tidak salah pemahaman. Walllahu A'lam.