Sudah sepantasnya kita semua mengimani bahwa segala sesuatu yang wujud (ada) di muka bumi ini adalah bentuk ciptaan dari Dzat yang Maha Agung Allah swt. Tidak ada sesuatu sekecil biji dzarrah pun yang luput dari keterlibatan-Nya. Nur keilahian Allah menyokong adanya kehidupan di alam semesta.

Allah swt. berfirman dalam kitab suci-Nya:

الله نورالسماوات والأرض ۚ  مثل نوره كمشكاة فيها مصباح ۖ  المصباح في زجاجة ۖ  الزجاجة كأنها كوكب دري يوقد من شجرة مباركة زيتونة لا شرقية ولا غربية يكاد زيتها يضيء ولو لم تمسسه نار ۚ نور على نور ۗ  يهدي الله لنوره من يشاء ۚ ويضرب الله الأمثال للناس ۗ والله بكل شيء عليم

“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi,walaupun tidak di sentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah pemberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. an-Nur: 35)

Lantas apakah maksud makna dari “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi? Bagaimanakah wujud nur (cahaya) keilahian-Nya dalam memenuhi langit dan bumi? Apakah nur yang dipancarkan oleh-Nya sama dengan yang dipancarkan oleh matahari, bulan, bintang dan yang lainnya?

Berkaitan dengan hal ini, Imam al-Ghazali telah mengutarakan dan merumuskan penjelasannya dalam kitab “Misykatul Anwar” secara struktural dan logis. Sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai makna Nur Ilahi, beliau memaparkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kata “nur” itu sendiri.

Secara epistemologi, kata nur perlu dipahami dengan 3 sudut pandang: (1) secara Awwam (umum), (2) secara khowas (khusus) dan (3) secara khowasul khowwash (lebih spesifik).

Menurut sudut pandang yang pertama, maksud dari lafadz nur adalah memberikan isyarat terhadap segala sesuatu yang nampak. Adapun segala sesuatu yang nampak tentunya dapat diketahui dengan suatu perangkat informasi. Dan perangkat informasi inilah yang biasa disebut dengan “panca indera”, lebih tepatnya lagi yaitu kedua mata kita.

Namun, seperti apakah sesuatu yang pantas disebut nur menurut penglihatan kita? Untuk menjawab kemusykilan ini, Imam al-Ghazali membagi menjadi 3 macam sesuatu yang kaitannya dengan penglihatan:

(1) Sesuatu yang tidak memperlihatkan dirinya, seperti benda yang berada di ruang gelap.

(2) sesuatu yang bisa memperlihatkan dirinya sendiri, namun tidak bisa memperlihatkan terhadap sesuatu yang lain, seperti bintang, bara api yang tidak berpijar.

(3) sesuatu yang dapat memperlihatkan dirinya sendiri serta dapat memperlihatkan terhadap sesuatu yang lain, seperti matahari, bulan, nyala api yang membara dan lain-lain.

Dari 3 macam jenis yang telah dipaparkan tersebut, jenis yang ketiga lebih layak disebut dengan istilah nur, karena dapat memperlihatkan dirinya sendiri sekaligus yang lain.

Jika dipahami dari sudut pandang yang pertama, maka tolak ukur kelayakan sesuatu bisa dianggap sebagai nur adalah kedua mata kita masing-masing. Padahal kita tahu bahwa tidak setiap orang memiliki kapasitas penglihatan yang sama. Misalkan antara anak muda dan orang tua, tentu di antara mereka berdua memiliki kapasitas penglihatan yang berbeda. Begitu juga antara orang yang sehat dan orang yang mengidap penyakit katarak. Lebih dari itu, kondisi orang buta justru tidak dapat melihat sama sekali dengan mata kepalanya.

Setelah kita mengetahui dari sudut pandang yang pertama, ternyata kedua mata memiliki kekurangan untuk menilai segala sesuatu sebagai nur, karena menurutnya jika mata tidak melihat atau tidak berfungsi, maka sesuatu yang bersinar pun tidak bisa dikatakan sebagai nur.

Adapun menurut sudut pandang yang kedua (secara khusus), kekurangan yang terdapat pada kedua mata menjadikannya belum pantas untuk dinisbatkan kepada istilah nur, karena keterbatasan mata yang hanya dapat melihat sesuatu yang bersifat lahiriah saja.

Maka dari itu seharusnya ada yang lebih pantas untuk dinisbatkan dengan istilah nur daripada mata, yaitu adalah “ainul basiroh” atau mata batin. Mata batin mampu melihat terhadap sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata. Oleh karenanya, mata batin lebih layak untuk disebut dengan nur karena tidak memiliki berbagai kekurangan yang dimiliki oleh mata.

Adapun beberapa kekurangan yang dimiliki oleh kedua mata kepala dibandingkan dengan mata batin diantaranya adalah: mata kepala tidak mampu melihat sesuatu yang jaraknya jauh. Bahkan sesuatu yang paling dekat pun, mata kepala tidak dapat melihat siapa sebenarnya diri kita, namun dengan mata batin kita dapat melihat siapa sebenarnya diri kita, sifat apa saja yang melekat pada diri kita, potensi apa yang kita miliki sebenarnya.

Kemudian kedua mata kepala juga hanya sebatas mampu melihat dan mengetahui sesuatu yang bersifat jism (fisik), tidak mampu mengetahui sesuatu yang bersifat ruh (non-fisik) seperti hembusan angin, rasa panas, rasa dingin, rasa senang, rasa sedih, rasa sakit, rasa rindu, rasa gundah dan lain sebagainya. Dengan mata batin, kita sadar bahwa adanya sesuatu di alam semesta ini tidak hanya yang bisa dikalkulasikan, tetapi juga sesuatu yang tidak bisa dikalkulasikan. Bukti nyatanya adalah ketika terjadi dialog antara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW. Rasulullah saw. memulai dialog sebagai berikut:

قال صلى الله عليه وسلم لجبريل عليه السلام: {أزالت الشمس؟} فقال: {لا, نعم} فقال عليه السلام: {كيف؟} قال: منذ قلت: {لا} إلى أن قلت: {نعم} قد تحركت مسيرة خمس مئة سنة.

Rasulullah saw. bersabda (bertanya) kepada Jibril as., “Apakah matahari telah tergelincir?

Jibril menjawab, “Tidak, iya.”

Rasulullah bertanya kembali, “Bagaimana maksudnya?

Jibril menjawab, “Sejak aku berkata (tidak) sampai aku berkata (iya) matahari telah bergerak dengan kisaran jarak yang ditempuh selama 500 tahun.”

Secara eksplisit, isi dalam perbincangan ini mengisyaratkan bahwa apa yang kita lihat dengan mata kepala, sangatlah terbatas tidak seperti apa yang kita lihat dengan mata batin.

Dari sudut pandang kedua ini (khowas), kita tahu bahwa mata batinlah yang lebih pantas diistilahkan dengan makna nur daripada kedua mata kepala kita.

Namun akankah setiap yang terlihat oleh mata batin kita selalu benar? Menurut sudut pandang ketiga (khowasul khowash), meskipun mata batin memiliki kapasitas lebih tinggi dalam melihat segala sesuatu, namun tidak selalu yang dilihatnya itu benar. Mengapa? Karena sebagian besar mata batin juga dikelilingi oleh beberapa ilusi dan khayalan yang pada akhirnya mencegah kita untuk mengetahui atau menangkap informasi secara hakiki. Ilusi dan khayalan inilah yang membatasi mata batin kita untuk menggali pengetahuan dengan absolut.

Allah swt. berfirman dalam kitab suci-Nya:

فكشفنا عنك غطآءك فبصرك اليوم حديد

“Maka kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Qaf: 22)

Maksud dari lafadz غطاء (tutup) menurut Imam al-Ghazali adalah suatu tabir-tabir yang menutupi mata batin kita untuk melihat dengan pandangan hakiki seperti keyakinan yang sesat , khayalan yang tidak semestinya, tipu daya setan dan sejenisnya.

Perlu diketahui juga bahwa mata batin perlu adanya kontrol dengan sistem tertentu agar dapat berfungsi dengan baik dan benar. Sistem atau alat yang dimaksud untuk mengontrol jalannya mata batin dengan baik adalah kalam hikmah yang terlontar dari firman-firman Allah swt. Adapun sebaik-baik firman Allah swt. tidak lain adalah Al-Quran Al-Karim.

Kedudukan Al-Quran bagi mata batin bagaikan kedudukan cahaya matahari bagi kedua mata kepala. Pancaran sinar matahari menerangi kedua bola mata sehingga mampu melihat dengan jelas. Begitu juga Al-Quran yang menerangi mata batin karena di dalamnya mengandung kalam hikmah berupa firman Allah swt, sehingga mampu melihat dengan suatu pandangan “ainul yaqin” (pandangan penuh keyakinan).

Oleh karena itu, Al-Quran lebih layak untuk diistilahkan dengan sebutan nur, sebagaimana firman Allahswt.:

فأمنوا بالله ورسوله والنور الذيۤ أنزلنا

“Maka berimanlah kamu sekalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-quran) yang telah kami turunkan.” (QS. at-Taghabun: 8)

Hakikat Nur Ilahi

Dalam pembahasan sebelumnya, kita tahu bahwa setiap pancaran nur yang dihasilkan oleh setiap sesuatu tentu memiliki silsilah atau mata rantai terhadap sumbernya masing-masing sehingga dapat menghasilkan nur. Seperti nur (cahaya) pada siang hari dipancarkan oleh nur matahari, nur pada bulan dipancarkan oleh nur matahari, nur pada suatu ruangan dipancarkan oleh nur lampu, nur pada ruangan gelap dipancarkan oleh nur senter, dan sebagainya.

Terjadinya silsilah seperti demikian rupa, tidak lain adalah berasal dari sumber pertama kali yang memberikan serta menyumbangkan cahaya (nur) terhadap lainnya. Tidak ada sumber lain yang mendahuluinya. Dan istilah nur selain bagi sumber yang pertama hanyalah sebuah majaz, bukan hakikat. Imam al-Ghazali memberikan ungkapan sebagai berikut:

“Apa pandanganmu terhadap orang yang meminjam suatu pakaian, perabot, transportasi, kemudian memakainya dengan menyewa dari orang yang meminjamkan dan diberikan jangka waktu tertentu. Siapakah yang sejatinya kaya? Orang yang meminjam atau yang memberi pinjaman? Tidakkah orang yang meminjam itu sebenarnya orang yang fakir (membutuhkan) dan orang yang meminjamkanlah yang kaya, karena sejatinya dia yang memiliki barang tersebut dan mendapatkan upah?”

Ungkapan yang diutarakan oleh beliau ini, memberikan suatu logika bahwa setiap sesuatu yang kita pakai atau segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tidaklah abadi atau hanya sekedar pinjaman belaka dan semua yang diberi pinjaman yaitu berstatus faqir (butuh). Adapun yang memiliki status ghani (kaya) adalah satu-satunya Dzat yang Maha Kaya.

Sudut Pandang Ilmu Mantiq

Jika kita lihat dengan kacamata Ilmu Mantiq, logika semacam itu sudah bisa dibenarkan. Dalam membuktikan legalitas suatu kebenaran, hal yang paling utama atau mendasar untuk diperhatikan adalah qadiyat (proposisi).

Proposisi merupakan beberapa susunan kalimat berita atau informasi yang mengandung nilai benar dan salah, seperti berita mengenai keberadaan rasul, malaikat, informasi bahwa angka satu merupakan setengah dari delapan, dan lain-lain. Salah satu macam jenis dari proposisi adalah “Proposisi Hipotesis” (Qadiyat Syartiah), yaitu proposisi yang memuat satu ketetapan hukum serta berkaitan dengan hukum lainnya yang berada dalam proposisi lain, seperti:

إذا كانت الشمس طالعة فالنهار موجود

“Jika matahari telah terbit maka akan ada siang hari.”

Proposisi pertama memberi kesimpulan bahwa matahari terbit, proposisi kedua memberi kesimpulan bahwa ada siang hari. Dari kedua proposisi tersebut, dapat dimengerti bahwa jika seandainya matahari tidak terbit, maka siang dan pagi hari tidak akan ada, karena adanya suatu kelaziman yang terjadi antara satu hukum dengan hukum yang lain.

Begitu juga apa yang ada dalam alam semesta ini pada umumnya  dan diri kita masing-masing pada khususnya. Segala keindahan yang menghiasi cakrawala, bumi hingga seisinya. Segala kekuatan, kecerdasan, keterampilan yang kita miliki semuanya adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri jika ada yang memberi, meminjami, dan menciptakan. Dialah satu-satunya Dzat yang Maha Kaya, yaitu Allah swt. Nur-Nyalah yang mengisi di setiap ruang dan waktu dalam alam semesta ini. Tidak ada satu pun makhluk yang luput dari Nur-Nya. Imam al-Ghazali memberi analogi sebagai berikut:

“Di saat kita melihat dedaunan berwarna hijau pada siang hari yang terik, maka tidak lain kita hanya melihat sosok daun tersebut dengan warna hijau. Namun ketika matahari mulai terbenam, terdapat perbedaan yang mencolok pada saat kita melihat daun tersebut. Yang semula kita melihat hanya sebatas sosok daun yang berwarna hijau, menjadi ada sosok lain yang mengiringi dedaunan tersebut, yaitu bayangan daun.  Sehingga nampak suatu area yang berbeda antara tempat yang terkena cahaya dan tempat bayangan (tidak terkena cahaya). Cahaya yang berada di daun dapat diketahui karena adanya bayangan yang mengiringinya. Sebaliknya, pada siang hari yang terik cahaya pada daun tidak dapat diketahui karena saking dekatnya dengan daun tersebut.”

Demikianlah kondisi Nur Ilahi-Nya dalam memenuhi alam semesta ini. Nur-Nya yang dekat sekali dengan setiap ciptaan-Nya hingga tidak dapat dijangkau dengan kasat mata. Itulah mengapa setiap nabi serta para kekasih-Nya selalu merasa dekat dengan kehadiran-Nya. Mereka semua sadar bahwa dalam dirinya masing-masing terdapat Nur Ilahi yang tidak boleh dinodai. Begitu juga setiap orang mukmin yang pandangannya atas segala sesuatu tidak pernah luput dari kehadiran-Nya. Sebagaimana firman Allah swt:

سنريهم أياتنا في الأفاق و فيۤ أنفسهم

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada  diri mereka sendiri.” (QS. Fushshilat: 53)

Berbeda dengan kondisi orang-orang kafir yang tidak merasakan dan jauh dari Nur Keilahian-Nya. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam. Wallahu a’lam.