Indonesia sebagai negara dengan tingkat keragaman yang cukup tinggi sangat memerlukan adanya kesatuan rasa yang menyatukan semua elemen bangsa dengan segala keragaman yang ada. Hal inilah kiranya yang dimaksud dengan ukhuwah wathniyah.

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi masyarakat terbesar di Indonesia sudah mengajarkan ukhuwah wathniyah. Lebih lengkapnya, NU memiliki ajaran tiga ukhuwah, yaitu ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah.

Kebesaran Nahdlatul Ulama ini tentulah tidak bisa dilepaskan dari kebesaran semua para kyai dan masyayikh NU dari masa ke masa. Sang muassis (pendiri), Hadhratusy Syeikh KH. M. Hasyim Asy'ari memiliki peran yang sangat besar dalam merumuskan dan memberikan haluan-haluan yang harus dijalankan oleh warga Nahdliyin dalam menjaga ke tiga ukhuwah ini.

Berikut penulis mencoba menuliskan beberapa ajaran Hadhratusy Syeikh Hasyim Asy’ari sebagai suatu ajaran yang bisa menjadi perantara kita menuju gerbang ke tiga ukhuwah di atas.

Beragama dengan Benar

Hadhratusy Syeikh Hasyim Asy’ari mengajarkan bahwa beragama tidaklah bisa dijalankan dengan pemahaman sendiri, melainkan harus berpegangan kepada salafus shaleh. Hal ini karena tidak semua individu dipandang memiliki kecakapan yang mumpuni dalam memahami nash (Al-Qur’an dan Sunnah) secara langsung.

Bagi yang memiliki kecakapan dalam berijtihad, tentulah boleh baginya untuk menjalankan agama ini dengan pemahamannya sendiri, tapi tentu ini adalah orang-orang pilihan, tidak semua orang bisa melakukan ini.

Dibutuhkan banyak penguasaan disiplin ilmu untuk menjadi seorang mujtahid. Selain mujtahid wajib baginya untuk mengikuti hasil pemahaman mujtahid dan hasil ijtihad mujtahid ini baginya adalah nash.

Baca juga: Mozaik Kehidupan Imam Ahmad Bin Hanbal

Beragama tentulah tidak hanya sekedar berfikih saja, melainkan mencakup keimanan; tauhid (ideology), syariat (fikih) dan tasawuf.

Ketiga hal inilah yang ditangkap oleh para ulama dalam memahami hadits Malaikat Jibril yang menjelma menjadi seorang lelaki lantas menanyakan Islam, Iman dan Ihsan kepada Rasulullah.

Ketiga elemen inilah yang menjadi wujud keberagamaan, tidak bisa diambil salah satu dan meninggalkan yang lain.

Hadhratusy Syeikh menangkap tiga elemen ini. Beliau menuliskannya dalam Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah menjadi satu formula yang disebut sebagai Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah. Yaitu sebuah corak beragama yang dulu menjadi satu corak yang disepakati dan dijalankan oleh seluruh penduduk jawa.

Corak beragama ini digambarkan oleh Hadhratusy Syeikh mengikuti Mazhab al-Imam Abi Hasan al-Asy'ari dalam tauhid, berfikih dengan Mazhab Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i dan menjadikan Imam al-Ghazali dan Imam Abu Hasan asy-Syadzili sebagai panutan dalam tasawuf.

Dalam penelusuran kami, berideologi Asy'ariyah sangatlah berperan dalam menciptakan ukhuwah. Mazhab ini sangat jauh dari terma takfir, sangat dihindari.

Sebutlah riwayat Ibnu Asakir yang menyatakan bahwa Imam al-Asy'ari menjelang wafatnya, memanggil salah satu santrinya seraya berkata: "Persaksikanlah diriku ini, bahwa aku tiada pernah mengafirkan seorang pun dari umat Islam ini. Hal ini karena aku memahami bahwa semua muslim menyembah Tuhan yang satu, dan jika ada perbedaan, itu hanyalah perbedaan retorika saja."

Inilah salah satu dari dua mazhab ideologi yang dikenal dengan Ahlu al-Sunnah wa al-Jama'ah yang harus diikuti. Mazhab yang pendirinya  dengan jelas menyatakan tidak adanya takfir yang beliau jatuhkan kepada sesama umat Islam.

Begitu pula dalam berfikih, Hadhratusy Syeikh dalam Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah serta dalam Risalah fi Taakkud al--Akhdz bi Madzahib al-Aimmah al-Arba'ah menekankan bagi kita untuk mengikuti 4 imam mazhabfikih yang muktabar, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Hadhratusy Syeikh dalam karya beliau yang lain, yaitu Al-Tibyan fi Nahy 'an Muqotho'ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan menggambarkan bahwa perbedaan fikih di era salafus shaleh tidaklah sama dengan hari ini. Walau berbeda banyak dalam fikih, tapi perbedaan itu tidal lantas menjadikan hubungan mereka menjadi buruk; sopan santun tetaplah terjaga walau pandangan fikih berbeda.

Dalam kitab tersebut beliau menceritakan bagaimana kesopanan dan penghormatan yang sangat tinggi diajarkan oleh Imam asy-Syafi'i saat berziarah ke maqbarah Imam Abi Hanifah.

Imam Asy-Syafi'i sebagai imam mazhab yang menyunnahkan qunut di setiap sholat Shubuh, meninggalkan pendapatnya dengan tidak qunut selama beliau ziarah di maqbaroh tersebut.

Tentu ziaroh ini pun sudah bernilai bagi kita sebagai pelajaran di dalam menjaga ukhuwah di tengah keragaman fikih yang kita anut .Sekalipun banyak pandangan fikih yang berbeda, Imam asy-Syafi'i hormat kepada Imam Abi Hanifah dengan berziarah ke maqbarahnya selama 7 hari. Setiap hatam membaca Al-Qur'an, beliau menghadiahkan pahalanya kepada pemilik kubur itu.

Inilah yang dituliskan Hadhratusy Syeikh sebagai ajaran yang harus kita pegangi dalam menjalankan agama ini; berideologi dengan menjauhi takfir, berfikih yang terbuka dengan menerima perbedaan dan tasawuf, yakni berperangai dengan akhlak mulia. Jika ini kita jalani tentulah ukhuwah akan menjadi sebuah keniscayaan.

Mencintai Sesama

Hadhratusy Syeikh KH. M. Hasyim Asy'ari menegaskan dalam karya beliau yang berjudul al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin bahwa sebagai umat muslim haruslah mencintai Hadhratur Rasul Muhammad Shollallahu 'alaihi wa Sallam. Lebih lanjut beliau memberikan beberapa indikator sebagai tolak ukur apakah benar kecintaan kita kepada Hadrotur Rasul ataukah hanya halusinasi.

Diantara indikator itu adalah:

  • Kecintaan kita kepada seluruh umat Rasulullah.
  • Kasih sayang kita kepada umat Rasulullah,.
  • Kepekaan kita untuk menasehati demi kebaikan seluruh umat Nabi.
  • Kontribusi kita guna kemashlahatan semua umat.
  • Pencegahan kita guna menghindarkan semua umat Rasul dari seluruh mara bahaya.

Baca juga: Imam Asy-Syafi’i, Ulama Asuhan Dua Mazhab Fikih

Inilah sebagian indikator yang diabadikan Hadhratusy Syeikh dalam karyanya guna kita pelajari dan tentunya untuk kita jalankan. Jika satu indikator ini sudah ada pada diri kita maka lenyaplah rasa iri dengki, dendam, marah dan sifat-sifat jelek yang lain pada diri kita kepada sesama. Dan akhirnya nanti ukhuwah akan mudah tercapai. Tanamkan cinta kepada sesama, persatuan akan menjadi buah dari cinta yang sudah ada.

Menjaga Hubungan Baik

Diantara jalan menuju tercapainya ukhuwah adalah menjaga kualitas hubungan kita dengan yang lain. Hubungan yang baik adalah pembuka jalinan ukhuwah. Dalam menjaga hubungan yang baik ini kita dituntut untuk bisa menempatkan diri dengan baik. Bagaimana cara kita memperlakukan pimpinan, rakyat, cendekiawan dan orang awam, tentulah pola tata laku kita harus disesuaikan sehingga kita bisa diterima oleh semua kalangan.

Hadhratusy Syeikh ketika menyarah hadits yang menerangkan bahwa agama ini adalah nasihat. Beliau menjelaskan bahwa posisi kita dengan pemimpin haruslah dalam posisi mentaatinya, harus membantu menyukseskan program-program kerjanya, hal ini tentu dalam batas yang ada, yaitu selama itu benar.

Kemudian jika pemimpin kita nilai tidak berada dalam jalan yang benar maka kita dituntut untuk memintanya dan memberi masukan kepadanya guna kembali ke jalan yang benar. Namun dalam posisi ini Hadhratusy Syeikh mengajari kita untuk menyampaikan kritik dan saran ini dengan cara yang elok lagi baik, bahkan Hadhratusy Syeikh menyebutnya dengan ahsan wajh; cara yang terbaik.

Beliau pun mengingatkan kita agar tidak menyatakan keluar dari pemimpin yang ada. Disamping itu beliau juga melarang kita untuk melakukan provokasi atau melakukan propaganda kepada masyarakat dengan tujuan membuat mereka benci kepada pemimpin kita. Inilah yang digariskan oleh Hadhratusy Syeikh dalam menjalin hubungan dengan para pemimpin kita. Jika ini kita jalankan maka terbangun sinergi yang bagus antara rakyat dengan pimpinannya.

Disamping memberi garis-garis haluan berhubungan dengan pimpinan, Hadhratusy Syeikh pun juga menyarah lanjutan hadits tersebut, yaitu al-nush li 'ammatihim; menasehati masyarakat biasa. Dalam membangun komunikasi dengan masyarakat, Hadhratusy Syeikh menekankan semangat untuk memberikan petunjuk kepada masyarakat guna kemaslahatannya.

Berkontribusi dalam mengantarkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik dalam menjalankan agama serta meraih kesuksesan di dunia juga merupakan wujud al-nush li 'ammatihim. Lebih tajam lagi Hadhratusy Syeikh menyatakan sebagai wujud al-nush li 'ammatihim adalah mengingatkan yang lalai, mendidik yang bodoh, menyukupi yang kekurangan, menutupi aib, mencegah mara bahaya dan menciptakan kebaikan bagi semua masyarakat.

Baca juga: Meneladani Keulamaan Imam Malik

Inilah pola tata laku yang diajarkan Hadhratusy Syeikh yang kami pahami sebagai jalan menuju ukhuwah, yaitu menjaga hubungan yang baik dengan semua elemen yang ada; semua diperlakukan sesuai dengan porsi yang ideal.

Membuat Wadah Pemersatu

Fitrah setiap manusia untuk menjalani kehidupannya ini dengan cara berinteraksi satu dengan yang lain. Di dalam membangun interaksi ini tentunya jika ada sebuah wadah yang bisa menjadi titik temu dan menjadi haluan bagi semua anggota yang ada maka menuju kata persatuan ini akan terasa lebih mudah.

Sebutlah Hadhratur Rasul sesuai dengan yang dijelaskan oleh Hadhratusy Syeikh dalam Muqoddimah Qonun Asasi berhasil mempersaudarakan para sahabat yang secara nasab tidaklah bertemu namun setelah dipersaudarakan maka ikatan persaudaraan ini begitu kuat.

Hingga dibahasakan oleh Hadhratusy Syeikh sebagai ikatan yang jika ada sebagaian yang sakit maka yang lain akan merasakan sakit yang sama layaknya satu tubuh. Dan dengan kekuatan persatuan dan persaudaraan ini mereka para sahabat dengan bimbingan Hadhratur Rasul berhasil mencapai kemenangan dan kegemilangan.

Mengambil ibrah dari ini semua, maka kita melihat bahwa Hadhratusy Syeikh KH. M. Hasyim Asy’ari pun melakukan hal yang sama, yaitu membuat wadah untuk menyatukan umat islam dalam wadah Nahdhotul ‘Ulama. Sebagai sumber acuan dalam berNU ini, Hdhrotusy Syeikh pun meninggalkan ajaran-ajaran beliau, diantara adalah Muqoddimah Qonun Asasi yang diantara inti ajarannya adalah menjaga persatuan dan kesatuan.

Epilog

Jika keberagamaan kita benar adanya sesuai dengan garis yang ditinggalkan oleh Hadhratusy Syeikh maka ia akan melahirkan rasa cinta kepada sesama dan rasa cinta ini akan melahirkan hubungan yang baik dengan semuanya.

Baca juga: Kewiraian Imam Abu Hanifah dan Pilihan Politik Kontroversial

Inilah ukhuwah, seperti yang diartikan dalam Mu’jam al-Ghani sebagai shilah al-tadhomun wa al-mawaddah, yaitu hubungan yang dibangun dengan rasa saling menjaga, menjamin dan mencintai.

Dan untuk mengakomodir itu semua diperlukan adanya wadah besar untuk menaungi itu semua. Tapi tentulah persatuan dan kesatuan adalah modal utama utuk mencapai segala kesuksesan yang dicita-citakan.

Atas nama seagama, sebangsa dan atau sesama manusia cukuplah kiranya menjadi wadah pemersatu kita semua.

Referensi

1. Risalah Ahli al-Sunnah wa al-Jama'ah karya Hadhratusy  Syeikh KH. M. Hasyim Asy'ari,

2. Risalah fi Taakkud al-Akhdz bi Madzahib al-Aimmah al-Arba'ah karya Hadhratusy Syeikh KH. M. Hasyim Asy'ari,

3. Al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin karya Hadhratusy Syeikh KH. M. Hasyim Asy'ari,

4. Muqoddimah al-Qonun al-Asasi karya Hadhratusy Syeikh KH. M. Hasyim Asy'ari,

5. Al-Tibyan fi Nahy 'an Muqothoah al-Arham wa al-Aqorib wa al-Ikhwan karya Hadhratusy Syeikh KH. M. Hasyim Asy'ari,

6. Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah karya Prof. Dr. Syeikh Ahmad Thoyyib,

7. Qawaid al-Tasawwuf wa Syawahid al-Ta'arruf karya al-Syeikh al-Imam Abi al-'Abbas Ahmad Zarruq al-Fasi,

8. Mu’jam al-Ghani karya Dr. Abdul Ghoni Abu al-‘Azm.