Mariam al-Ijliya yang dikenal dengan Mariam al-Astrulabi membawa ilmu astrolab ke level berikutnya. Lebih dari seribu tahun kemudian, dia menjadi tokoh sentral dalam Binti, novel fiksi ilmiah karya Nnedi Okorafor, novelis Nigeria-Amerika.

Antara abad ke-8 dan ke-15, para cendekiawan Muslim memberikan kontribusi yang sangat besar kepada dunia sains. Mereka menemukan alat-alat canggih di bidang kedokteran, astronomi, fisika, dan kimia. Penemuan mereka yang menginspirasi para ilmuwan selanjutnya untuk membuat terobosan baru selama era Renaisans.

Mulai dari Ali al-Qushji hingga Ulugh Bey dan Al-Biruni hingga Ibnu Sina, puluhan karya pemikir Muslim besar di Abad Pertengahan itu membuka jalan baru bagi generasi cemerlang berikutnya.

Satu misal dalam hal astronomi, para cendekiawan Muslim memperbaiki dan menyempurnakan sistem Ptolemeus. Perbaikan ini menyangkut model matematika alam semesta yang dirumuskan oleh astronom dan matematikawan kelahiran Alexandria itu. Tidak hanya ini belaka, kontribusi ekstensif astronomi Islam juga mengungkap beberapa kelemahan dalam sistem Aristotelian.

Hingga abad ke-15, selama periode abad pertengahan, para ilmuwan Muslim murah tangan memberikan berbagai kontribusi di bidang astronomi. Karya mereka sebagian besar didasarkan pada sumber kuno dari Yunani, Iran, dan India.

Namun, satu keistimewaan yang membawa mereka ke menara kejayaan astronomi adalah dengan adanya penemuan perangkat-perangkat baru untuk mengukur dan menghitung pergerakan bintang dan planet.

Pada abad ke-10, seorang wanita Muslim bernama Maryam al-Ijliya, yang juga dikenal sebagai Mariam al Astrulabi, membawa keterampilan membuat astrolab ke level yang lebih tinggi. Astrolab adalah alat kuno yang digunakan untuk mengukur waktu serta posisi matahari dan bintang.

Mariam dikenal karena kecerdasan akademis dan pikirannya yang sangat terfokus dalam meletakkan dasar-dasar komunikasi menggunakan astrolab.

Lahir di Suriah pada abad ke-10, kecenderungannya dalam mengembangkan astrolab terinspirasi oleh ayahnya, Al-Ijliyy al-Asturlabi. Sang ayah dikenal masyhur pernah bekerja bersama seorang pembuat astrolab di Baghdad.

Desain astrolab yang begitu kompleks mengharuskan Mariam bekerja dengan perhitungan dan presisi matematis yang rumit. Tetapi secara bertahap ia mampu menguasai desain tersebut. Hasil kerja Ini mengesankan Saif ad-Daulah, pendiri keemiran Aleppo yang menguasai sebagian besar Suriah utara dan sebagian Jazira barat. Ia memerintah dari 944 hingga 967 Masehi.

Saif ad-Daulah menganggap karya Mariam sangat rumit namun inovatif. Saat ketenarannya mulai menjulang, dia memutuskan untuk mempekerjakannya di pengadilan di Aleppo. Selain itu, dia juga ikut membantu mengembangkan teknik navigasi dan ketepatan waktu.

Bagaimana Cara Kerja Astrolab Buatan Mariam?

Astrolab adalah perangkat yang dibuat dengan menggunakan benda-benda astral seperti matahari dan bintang untuk menunjukkan posisi Anda di garis lintang, atau menentukan waktu setempat. Selain itu, ia juga dapat digunakan untuk mengukur peristiwa langit seperti goyangan sumbu bumi.

Instrumen astronomi ini terdiri dari piringan logam atau kayu dengan keliling penanda dalam derajat dan jarum putar di tengah disk yang disebut alidade. Piranti-piranti itu berguna dalam menentukan posisi matahari, bulan, dan bintang.

Selaih kebutuhan astronomi, astrolab juga berfungsi untuk menemukan arah kiblat, menentukan waktu shalat dan hari-hari awal Ramadhan dan Idul Fitri.

Penemuan buah karya Mariam digunakan dalam mata pelajaran astronomi, astrologi, dan horoskop. Dengan bantuan astrolab, para astronom dapat menghitung posisi benda-benda langit, waktu siang dan malam, waktu dalam setahun, ketinggian benda, garis lintang dan informasi astronomi lainnya.

Kontribusi penting Mariam dalam astronomi secara resmi diakui ketika asteroid  sabuk utama, diberi nama 7060 Al-Ijliyye, setelah penemuan Henry E.Holt di Palomar Observatory pada tahun 1990.

Sangat penting untuk dicatat bahwa astrolab pertama kali ditemukan oleh orang Yunani untuk mengukur garis lintang.

 

Pada tahun 2016, novel karya Nnedi Okorafor yang berjudul Binti dengan tokoh utamanya adalah Mariam, menerima Penghargaan Nebula. Mariam adalah inspirasi di balik Binti, tokoh protagonis dalam novel fiksi ilmiahnya itu.

 

Okorafor menyatakan bahwa dia mengetahui tentang Mariam di festival buku di UEA. Tokoh utama novel Binti menjadi seorang wanita muda yang ahli membuat astrolab.

 

Diterjemahkan dari artikel berjudul Mariam al Astrulabi: A Muslim woman behind the 10th-century astrolabes karya Ufuk Necat Tasci.