Tahun baru Islam baru berjalan beberapa hari. Bulan Muharram menjadi tahun baru untuk memperbarui segala hal, termasuk ibadah. Harus lebih baik, lebih berisi dan tentu makin kece.

Medsos sudah ramai dengan keutamaan ibadah di tahun baru (Muharram), di antaranya puasa. Eit! Menyinggung puasa, tentu ada dong pembaca Sanad Media yang masih "nunggak" puasa Ramadhan? Lalu, bagaimana kalau hutang puasa kita bayar bulan ini? Eh, pas lagi puasa, berkunjung ke rumah camer, ditawari kudapan pula, gimana dong solusinya ? Berikut ulasan Tim Fatwa Sanad Media.

Puasa Qadha’ (Ramadhan) hukumnya sama wajibnya dengan puasa ramadhan. Dan termasuk hal yang membatalkan puasa adalah sampainya suatu materi tertentu ke dalam Jauf (rongga tenggorokan yang menjadi saluran utama ke perut).

Berkaitan dengan hal ini, meminum sedikit dari minuman yang disuguhkan, jika sekiranya sudah mencapai Jauf maka puasanya dianggap batal, walaupun diniatkan untuk menghormati tuan rumah.

Namun jika ia dalam keadaan berpuasa sunnah, maka ia diperbolehkan untuk menikmati hidangan dalam rangka menghormati tuan rumah, dan hal tersebut termasuk diantara udzur syar’i bagi orang yang berpuasa sunnah.

Hal ini dikemukakan dalam kitab Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin, jilid 3, hal. 614-615, cetakan: Dar Al-Hadits, Cairo, dengan redaksi berikut:

فروع: يندب الأكل في صوم نفل ولو مؤكدا لإرضاء ذي الطعام بأن شق عليه إمساكه ولو أخر النهار للأمر بالفطر ويثاب على ما مضى وقضى ندبا يوما مكانه. فإن لم يشق عليه إمساكه لم يندب الإفطار بل الإمساك أولى. قال الغزالي: يندب أن ينوي بفطره إدخال السرور عليه.

“Disunnahkan untuk menikmati hidangan dalam keadaan berpuasa sunnah, meskipun dalam puasa sunnah yang muakkadah, demi keridhaan pemilik makanan, jika menahan puasanya dikhawatirkan dapat menyinggung perasaan pemilik makanan tersebut, meskipun di akhir siang karena ada perintah untuk membatalkan puasa, dan dia tetap mendapatkan pahala puasa yang telah lewat dan dianjurkan untuk menggantinya di lain hari. Namun apabila menahan puasa tidak menyinggung perasaan pemilik makanan, maka disunnahkan untuk tidak membatalkan puasanya. Imam Ghazali berkata bahwa dalam keadaan ini disunnahkan berniat untuk menyenangkan pemilik makanan.”

Dalam Hasyiyah-nya disebutkan:

وقوله: (في صوم نفل) خرج به الفرض كنذر مطلق وقضاء ما فات من رمضان فيحرم الخروج منه ولو توسع وقته

Ketentuan di atas tidak berlaku dalam puasa fardhu seperti puasa nadzar dan qadha puasa ramadhan, jadi membatalkannya tanpa ada udzur syar’i (termasuk untuk menghormati tuan rumah) hukumnya haram walaupun masih ada waktu longgar untuk mengganti puasanya. Wallahu 'alam.

Baca juga: