Imam asy-Syafi’i (w 204 H) radhiyallôhu ‘anh, berkisah: Suatu hari terbesit dalam diriku bahwa aku seorang yang berilmu (‘âlim).

Kemudian setelah itu aku bergegas untuk menjadi imam shalat Maghrib. Ketika aku mengimami shalat Maghrib tiba-tiba bacaan surat al-Fatihahku salah, dan orang-orang yang menjadi makmum pun membetulkan bacaanku.

Kemudian aku kembali mengimami shalat Isya. Aku pun kembali salah dalam membaca surat al-Fatihah untuk yang kedua kalinya. Orang-orang yang berada di belakangku pun kembali membetulkan bacaanku.

Dua kali salah dalam bacaan surat al-Fatihah membuatku bingung, dan aku yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan diriku. Aku pun segera melakukan shalat istikharah, memohon petunjuk kepada Allah.

Begitu selesai melakukan dua rakaat shalat istikharah, tiba-tiba aku ngantuk berat, dan aku pun tertidur. Dalam tidurku aku bermimpi, di mana aku saat itu sedang diadili di hadapan para hakim yang semuanya duduk di hadapanku dengan penuh wibawa. Aku diadili di hadapan mereka dengan tuduhan aku berbuat sû`ul adab (beradab tidak baik) kepada Allah.

Seorang hakim menghukumku bahwa aku harus dihukum mati karena aku berlaku sû`ul adab kepada Allah tersebut, dengan dalih bahwa mengaku diri sebagai seorang alim adalah kesalahan besar, karena hakikatnya tidak ada yang alim kecuali hanya Allah semata. Dialah yang Maha Mengetahui dan Berkuasa atas segala sesuatu.

Namun salah seorang hakim yang lain meringankan hukumanku dengan mengatakan, “Aku melihat harus ada keringanan hukuman untuk Syafi’i.”

Ketua para hakim mengatakan, “Mengapa dan dengan cara apa hukumannya diringankan?”

Hakim itu Kembali berkata, “Mengapa? Karena Syafi’i mempunyai peranan besar kepada seluruh ummat dengan ilmunya yang luar biasa, dan benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, “Akan muncul seorang laki-laki dari suku Quraisy yang ilmunya memenuhi alam dunia ini, dan saya melihat laki-laki dimaksud adalah Syafi’i.”

Hakim itu kemudian melanjutkan perkataannya, “Adapun cara meringankan hukumannya adalah dengan cara membiarkan Syafi’i berkeliling di jalan-jalan untuk melihat orang-orang kemudian ia harus mencari seseorang yang menurut Syafi’i orang tersebut adalah orang yang paling hina dan paling rendah di masyarakat. Kemudian Syafi’i harus mencium tangan orang itu sebagai bentuk adab sopan santun kepadanya.”

Imam asy-Syafi’i kembali berkata, “Begitu aku bangun, aku paham pesan dari mimpi itu, dan aku pun segera keluar rumah pergi ke jalanan untuk melihat orang-orang dan mencari orang yang menurutku paling hina dan paling rendah di masyarakat. Akhirnya aku mendapatkan seorang laki-laki yang bebadan dan berpakaian sangat kotor, wajah dipenuhi debu tanah, dan dari badannya mengeluarkan aroma yang sangat tidak sedap. Laki-laki itu sedang duduk di dekat tempat pembuangan sampah.

Aku pun segera mencoba untuk mendekatinya, namun hampir saja aku tidak dapat melakukannya karena aroma yang tidak sedap yang sangat menyengat dari tubuhnya. Namun, karena ini adalah putusan hakim yang harus aku lakukan, akhirnya aku pun memaksakan diri untuk mendekatinya.

Begitu aku sudah dekat dengannya, aku pun mencoba mengambil tangannya untuk aku cium sebagai wujud penghormatan dan adabku dengannya. Namun sebelum tanganku dapat meraih tangannya, tiba-tiba laki-laki itu menampar pipiku, dan berkata kepadaku, “Berlaku sopanlah wahai Syafi’i, ciumlah tanganmu itu (bukan mencium tanganku), dan ketahuilah aku ini adalah orang yang telah meringankan hukumanmu kemarin itu.”

Mendengar itu, Imam asy-Syafi’i pun segera menaburkan tanah ke tubuhnya lalu ia mencium tangannya sambil menangis tersedu-sedu.

Setelah itu, Imam asy-Syafi’i pun segera datang menemui guru beliau, Imam Waki’, mengadukan masalah yang sedang dialaminya. Lalu keluarkan bait nazham yang terkenal yang berbunyi:

شَكَوتُ إِلى وَكيعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ  فَأَرشَدَني إِلى تَرْكِ المَعاصي

وَأَخبَرَني بِأَنَّ العِلمَ نورٌ  وَنورُ اللَهِ لا يُهدى لِعَاصِي

Aku megadu kepada Imam Waki’ tentang hafalanku yang berkurang.

Beliau kemudian menasehatiku agar aku meninggalkan perbuatan maksiat.

Ia juga menyampaikan kepadaku bahwa ilmu itu cahaya.

Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”

(Diambil dari salah satu dars majlis ilmu yang disampaikan oleh ustadznal jalil, Maulana Prof. DR. Muhammad Muhanna, guru besar di Universitas al-Azhar Kairo, Mesir, dan pimpinan Akedemi ‘Ahlu Shuffah’ untuk kajian Ilmu Tasawuf dan Ilmu-Ilmu Turats (Akâdîmiyyah Ahlish Shuffah Lidirâsâth at-Tasawuf wa ‘Ulûmit Turâts) Kairo. Disampaikan di Cairo di al-Bait al-Muhammady, Muqattam, Cairo, pada tanggal 05 Oktober 2019).

Maulana Sidna Syaikh Prof. DR. Muhammad Muhanna juga mengatakan, bahwa itulah yang dimaksud dengan perbuatan maksiat yang disampaikan oleh Imam Waki’ kepada Imam asy-Syafi’i dalam bait nazham terkenal di atas. Perbuatan maksiat dimaksud bukanlah perbuatan maksiat berupa perbuatan lahir dan fisik, akan tetapi berkaitan dengan perbuatan hati (a’mâlul qulûb), yaitu ketika terbetik dalam hati Imam asy-Syafi’i bahwa beliau seorang yang alim (orang berilmu).

Dari kisah di atas banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik. Di antaranya dua pelajaran berikut ini:

Pertama, terdapat perbedaan sangat jauh antara yang disebut dosa atau maksiat menurut orang-orang shaleh terpilih dengan dosa dan maksiat menurut kita selaku orang awam. Sesuatu yang disebut dosa atau maksiat bagi mereka bukanlah dalam pengertian dosa dan maksiat menurut kita. Boleh jadi yang mereka pandang sebagai dosa dan maksiat adalah sebagai kebaikan bagi kita orang awam.

Karena itu, para ulama (di antaranya disampaikan oleh Imam Badruddin al-‘Ainy dalam ‘Umdatul Qâri (7/180), Imam al-Qasthalani dalam Irsyâdus Sâri (5/151)) mengatakan:

حَسَنَاتُ الْأَبْرَارِ سَيِّئَاتُ الْمُقَرَّبِينَ

“Kebaikan orang-orang baik adalah kesalahan orang-orang terpilih.”

Kedua, tidak diperbolehkan berlaku sombong dan memandang rendah, remeh, dan hina siapapun dari makhluk Allah. Karena boleh jadi orang yang kita pandang hina, rendah, dan tidak ada apa-apanya, namun di hadapan Allah ia orang mulia, bahkan boleh jadi ia di antara wali Allah (min auliyâ`illâh).

Sosok laki-laki tua kotor, bau dan lusuh yang duduk di pinggir tempat pembuangan sampah yang saat itu menurut masyarakat—termasuk menurut Imam asy-Syafi’i—yang paling hina dan rendah, ternyata ia adalah waliyullah, ia adalah seorang hakim yang telah meringankan hukuman yang akan diterima oleh Imam asy-Syafi’i dalam mimpinya.

Karena itu, Imam al-Ghazali bertutur dalam kitab Bidâyatul Hidâyah (hal 60), “Setiap orang yang memandang dirinya lebih baik dari satu makhluk Allah, maka ia adalah orang yang sombong.”

Kemudian beliau juga bertutur, “Seyogyanya manakala anda melihat seseorang siapapun dia, tanamkan dalam diri anda bahwa dia lebih baik dari anda.”

Semakna dengan apa yang disampaikan oleh Imam al-Ghazali, Maulana Sidna Syaikh Dr. Yusri Jabr, salah seorang syaikh shaleh ternama dari al-Azhar Mesir, dalam salah satu dars (pengajian) ilmunya memberikan nasehat sangat agung, “Manakala kamu keluar rumah, tanamkan dalam diri bahwa semua makhluk yang dilihat adalah wali Allah, kecuali satu yang bukan wali Allah, yaitu diri saya.”

Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang selalu rendah hati, mencintai, menghormati dan menyayangi semua makhluk Allah, siapapun dia, dan apapun status sosialnya. Karena boleh jadi orang yang kita pandang hina, rendah dan tidak ada apa-apanya itu, di hadapan Allah justru orang yang mulia dan luar biasa. Bahkan, tidak menutup kemungkinan boleh jadi dia juga yang akan menyelamatkan kita kelak pada hari kiamat. Semoga.

Washallallôhu ‘alâ sayyidinâ wa maulana Muhammadin, wa ‘alâ âlihî wa shohbihî wasallam.