Tak banyak dari kita yang sejak kecil tidak dikenalkan kepada Tuhan dan kemudian mencari dengan dayanya sendiri siapakah dzat yang maha menciptakan. Mayoritas dari kita iman kepada Tuhan karena pendidikan, baik di lingkup keluarga maupun di lingkup sosial secara umum. Keimanan kita tersebut, dengan demikian, diwarisi oleh generasi terdahulu, dan, suatu nanti, juga akan diwariskan kepada generasi mendatang.

Tak usahlah kita berdebat soal bagaimana status keimanan kita yang demikian. Anggap saja itu anugerah dari Tuhan untuk kita. Toh juga tak ada jaminan bagi para pencari Tuhan yang akhirnya menemukan Tuhan yang Maha Esa, kebanyakan berhenti di jalan dan beberapa terjebak dalam konsep pemberhalaan.

Pun tak ada jaminan bahwa keimanan yang diturunkan kepada insan dari keluarga dan lingkungan akan sanggup bertahan di tengah berbagai cobaan dalam kehidupan.

Hal itu, bagi saya, menunjukkan bahwa ‘keimanan’ yang diwarisi tak sepenuhnya doktrinal. Terdapat sisi pencarian sekecil apa pun denyutnya, baik hasilnya positif maupun negatif.

Ibnu Taimiyyah melalui al-Quran surat Ar-Rum ayat 30 menyatakan bahwa fitrah manusia adalah makhluk bertuhan, bahkan lebih khusus bertauhid, lebih khusus lagi bahkan berislam (beragama yang hanīf). Baginya fitrah ini diwariskan semenjak Nabi Adam. Itulah sebabnya ‘ide’ tentang Tuhan (lebih umum kekuatan transenden) dalam peradaban manusia tak akan pernah padam. Semacam ada kerinduan sekaligus kegentaran di hadapan Sang Maha.

Dengan konsep fitrah itu, Ibnu Taimiyyah sampai kepada kesimpulan bahwa ‘Tuhan tidak perlu dibuktikan ada-Nya’, konklusi yang sama persis dengan beberapa sufi Islam sebut saja Ibnu Arabi. Dalam salah satu puisinya, Ibnu Arabi berkata: “Bagaimana mungkin dibayangkan Dia ditutupi oleh sesuatu, sementara Dia tampak bagi segala sesuatu?”. Membuktikan Tuhan melalui sesuatu (semesta) tidak benar karena Tuhan lebih tampak jelas dari segala sesuatu.

Pendapat Ibnu Taimiyyah ini dibantah oleh kalangan ahli Kalam dan filsuf. Premisnya: jika Tuhan tidak perlu dibuktikan karena fitrah manusia adalah makhluk bertuhan, maka (i) tidak perlu Tuhan mengutus rasul untuk mengenalkan mereka akan Tuhan, dan (ii) tentunya tidak akan ada insan ateis.

Membantah kaum sufi, Ibnu Rusyd dalam Manâhij al-Adillah berkata bahwa agama diturunkan untuk semua kalangan, dan tidak semuanya bisa sampai kepada makam sufi. Jadi, adanya Tuhan perlu pembuktian.

Perdebatan semacam ini dapat ditekan dengan mengatakan bahwa ‘fitrah’ yang dimaksud adalah ‘dorongan’ untuk dapat menerima keimanan dan dengan begitu ia bermakna umum. ‘Fitrah’ ini memang ada, tetapi lingkungan dan bahkan data indrawi acap kali menutup katupnya. Maka diutuslah para rasul untuk membuka katup itu dan sekaligus memberi pendasaran akidah yang benar.

Hal itu dilakukan al-Quran yang jika boleh disimpulkan akidahnya memuat: (i) pembuktian adanya Tuhan, (ii) penetapan sifat yang layak bagi-Nya, (iii) memperkenalkan nama-nama agung-Nya, dan (iv) menunjukkan tindakan-tindakan-Nya.

Iman kita memang diwarisi dari generasi sebelumnya dengan cara membiarkan katup fitrah terbuka untuk menerima kebenaran tentang adanya Tuhan. Tetapi keimanan tentang ‘bagaimana’ Tuhan itu sebetulnya tidak sepenuhnya warisan.

Dari sini, melalui kisah Nabi Ibrahim, harus saya bedakan antara keimanan dan kemantapan. Nabi Ibrahim masyhur sebagai nabi yang mencari Tuhan yang Esa di tengah masyarakat yang mendewakan berhala. Imannya tidak diwarisi dari ayahnya. Namun demikian, keimanannya butuh bukti.

Setelah Nabi Ibrahim mendapatkan keimanan yang kokoh, dalam perjalanan hidupnya, ia masih mencari kemantapan hati dalam perkara ‘tindakan’ Tuhan. Dalam surat Al-Baqarah ayat 260 diceritakan bahwa ia meminta bukti ‘bagaimana’ Tuhan menghidupkan yang sudah mati. Dijawab Tuhan dengan pertanyaan: “Apakah kamu tidak iman (bahwa Aku dapat menghidupkan yang sudah mati)? Nabi Ibrahim menimpali: “Tentu hamba beriman, hanya saja agar hati hamba mantap (tenang).” Dengan alasan itu, Allah kemudian mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim untuk menunjukkan kuasa-Nya.

Kisah ini bukan hanya luar biasa dari segi keintiman Tuhan dengan hamba-Nya, namun sekaligus menunjukkan bahwa ‘keimanan di satu sisi butuh kemantapan dan kemantapan butuh bukti’.

Semenjak lahir kita memang telah iman, tetapi bukankah dalam perjalanan hidup kita sering merasa butuh bukti ‘kenapa’ suatu hal begini dan ‘bagaimana’ sesuatu hal bisa begitu.

Saya enggan menyebut fenomena ini sebagai ‘keraguan’ karena konotasinya akan bermacam-macam. Saya lebih suka menyebutnya, meminjam doa Nabi Muhammad, dengan ‘kebingungan’ (tahayyur). Kebingungan bukan hasil dari kekosongan pengetahuan dan keimanan. Sebaliknya, kebingungan justru adalah penegasan atas pengetahuan dan keimanan. Dengan kata lain, semakin kita tahu banyak hal semakin bingung pula kita.

Kebingungan inilah yang mengantarkan kita kepada pengetahuan lanjutan. Pengetahuan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, baik di tataran fitrah maupun non-fitrah, akan naik tingkat jika kita bingung akan(tindakan)-Nya.

Tersebab kebingungan tak akan hilang tanpa bukti, maka pencarian atas bukti jadi niscaya sifatnya. Pencarian inilah—dari mana pun sumbernya—yang tidak diwarisi oleh dan diwariskan kepada kita.

“Sebanyak manusia di dunia, sebanyak itulah jalan menuju Tuhan.” Adagium ini layak untuk menggambarkan apa yang ingin saya katakan dalam tulisan sederhana ini. Biarpun keimanan diwarisi dan diwariskan, kemantapan harus dicari, diburu, dan diminati, hingga akhir hayat.