Dari lima penjagaan primer—yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta—mana yang memiliki eksistensi rill? Atau lebih khusus: dari kelima hal itu, mana yang merupakan manusia itu sendiri? Pertanyaan ini harus diajukan sehubungan dengan ontologi teror yang bakal membantu kita untuk menentukan logika teror.

Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan mengandaikan suatu keadaan darurat, suatu keadaan yang berada di ambang hidup dan mati. Maka ketika pertanyaan itu dilontarkan berdasarkan asumsi keadaan darurat, jawabannya tidak lain: jiwa, atau kehidupan itu sendiri.

Agama adalah komunitas terbayang, ia tidak memiliki entitas riil. Akal, keturunan, dan harta adalah bagian dari manusia yang strata keterjagaannya bisa berubah tergantung situasi. Namun jiwa adalah penopang. Jiwa adalah kehidupan itu sendiri yang memungkinkan adanya agama, akal, keturunan, dan harta. Tanpa jiwa, bagaimana mungkin keempatnya bisa dijaga?

Pertanyaan kedua sebenarnya sudah terjawab melalui pertanyaan pertama, hanya saja saya ingin menambahkan satu hal: manusia adalah individu. Keadaannya tidak tergantikan oleh siapa pun dan bahkan sosial tidak dapat meleburnya menjadi tiada. Sosial berisi semua manusia, kata sebagian pakar ilmu sosial, kecuali individu manusia itu sendiri. Manusia sebagai makhluk sosial adalah ‘konsep terbayang’ yang mengandaikan idealitas tertentu: sistem, standar, nilai, norma, dan seterusnya. Jadi, manusia adalah kehidupannya. Tanpa kehidupannya, ia bukan manusia. Kehidupan manusia ditopang oleh jiwa. Rusaknya jiwa, yakni ruh, berarti berhentinya kehidupan manusia.

Setelah mukadimah ini, kita akan masuk ke ontologi teror.

Apa saja yang ada di dalam teror? Ini adalah pertanyaan ontologis. Pertanyaan metafisisnya: apa itu teror? Atau apa itu kesejatian teror? Jika kita bertanya secara ontologis, maka kita mengandaikan adanya semacam ‘rukun’ teror. Apa saja? Jawabannya: (i) orang yang melakukan teror, (ii) sarana melakukan teror, dan (iii) objek atau sasaran teror. Ketiga rukun ini pasti dan harus ada dalam teror.

Suatu teror pasti ada pelakunya, atau aktornya. Pelaku di sini bisa siapa saja, dan kadangkala menyentuh: apa saja. Alam semesta bisa menjadi teror bagi manusia. Macan yang berkeliaran di kampung-kampung bisa menjadi teror bagi penduduk kampung tersebut.

Sarana teror bisa berbentuk apa saja. Sarana adalah alat, dan segala hal dapat dijadikan alat untuk teror. Kata kuncinya adalah ‘ancaman’. Segala sesuatu dapat dijadikan ancaman, tergantung ‘ketakutan objek’. Kata-kata atau intimidasi juga bisa menjadi teror. Pun ‘pengungkapan’ sejarah, bisa menjadi teror bagi orang yang tidak nyaman dengan kebenaran sejarah. Apa pun bisa menjadi sarana teror.

Sedangkan objek teror adalah sasaran bagi subjek teror yang menggunakan sarana teror. Objek ini tidak bisa lain kecuali makhluk hidup, dan jika lebih rinci: makhluk hidup berakal. Benda mati tak mungkin merasakan ancaman dari pihak luar. Benda mati adalah “Ada-untuk-dirinya” sendiri, kata Sartre, yang artinya: ia selalu dikondisikan orang Liyan dan tidak punya pilihan untuk mengaktualkan dirinya sendiri, dan dengan demikian tak ada satu pun yang bisa mengancam eksistensinya karena ia tidak bisa merasakan eksistensinya tersebut.

Itulah basis ontologis teror. Bagaimana dengan basis metafisisnya? Sudah disinggung di atas bahwa pertanyaan metafisis soal teror adalah mempertanyakan kesejatian eksistensi teror. Menjawab hal ini, saya berkata: kehidupan adalah inti dari teror. Teror tidak berurusan dengan objek mati.

Dalam strata makhluk, benda mati adalah makhluk terendah. Ia tidak punya kehendak untuk mengaktual. Eksistensinya selalu dikondisikan oleh sesuatu di luar dirinya. Maka tak ada teror apa pun yang dapat mengancamnya.

Strata setelahnya adalah makhluk hidup tidak berakal. Kita menyebutnya binatang. Dalam bahasa manusia, binatang bisa menerima ancaman dan bisa mengancam. Di sini berarti kita berbicara rantai makanan. Binatang satu memangsa binatang lain. Satu sama lain saling mengancam, sampai kepada tingkat tertinggi dan tingkat terendah rantai makanan. Tingkat tertingginya adalah binatang yang tidak menjadi makanan bagi binatang lain, sementara tingkat terendah adalah binatang yang memakan tumbuhan. Binatang yang berada di puncak rantai makanan tidak lepas dari ancaman. Kadang objek makanannya dapat melawan dan mengancam kelangsungan hidupnya. Pun di strata selanjutnya ada makhluk berakal. Ialah manusia yang menjadi ancaman bagi seluruh makhluk hidup tak berakal.

Manusia adalah mahluk hidup dengan tingkat otomatisasi paling rendah. Ketika manusia lahir, ia tidak langsung terarahkan kepada objek makanannya. Untuk bertahan hidup, ia masih membutuhkan manusia dewasa. Hewan lain lahir dengan sejenis pengetahuan secara otomatis. Kita menyebutnya dengan ‘instisng’. Bayi kambing otomatis akan tahu bahwa makananya bukanlah daging melainkan rerumputan. Begitu juga bayi singa atau serigala.

Tersebab manusia adalah makhluk hidup dengan tingkat otomatisasi terendah, ia harus belajar. Dan karena ia harus belajar, ia diberkati dengan akal. Dari akal inilah ia bisa membedakan mana yang merupakan objek makanannya dan mana yang tidak. Artinya, manusia punya pilihan yang didasarkan pada akal budinya. Pilihan adalah inti dari moralitas. Dan moralitas adalah timbangan baik dan buruk. Adanya kebaikan dan keburukan dikondisikan oleh pilihan akal budi manusia. Amat banyak teori moral yang bertebaran, tetapi satu hal yang agaknya menyatukan semuanya: kehidupan adalah tonggak dari moralitas. Kita mampu menimbang kebaikan sejauh yang mendukung kelangsungan hidup, dan begitu juga sebaliknya.

Dari sinilah kita mendapati konsep teror berhubungan dengan moralitas. Kehidupan adalah nilai tertinggi dari moralitas. Segala sesuatu yang mengancam kehidupan adalah teror. Tentu tidak hanya soal ancaman ‘hidup’ dan ‘mati’. Ancaman kehidupan juga mencakup ancaman terhadap kenyamanan, keamanan, dan ketentraman. Ketiga unsur inilah yang mencakup empat penjagaan primer setelah jiwa. Jiwa adalah kehidupan itu sendiri. Urusannya adalah hidup dan mati. Sementara yang lainnya adalah soal kenyamanan, keamanan, dan ketentraman. Lima penjagaan primer adalah parameter teror. Dan jiwa berada di puncak parameter tersebut.

Nah, setelah kita tahu ontologi dan metafisika teror, kita akan menyitir soal logika teror. Logika ini berkisar pada kesalahan dalam menerapkan strata penjagaan primer. Dalam kondisi apa pun, penghilangan jiwa adalah puncak dari kesalahan itu.

Para pakar Maqashid asy-Syari’ah berdebat soal strata lima penjagaan primer. Ada yang meletakkan agama di awal dan ada yang meletakkan jiwa. Saya setuju dengan pakar yang meletakkan jiwa di awal. Salah satu pakar itu adalah Syekh Ali Jum’ah. Kenapa jiwa? Karena ia adalah inti dari semua penjagaan yang lain. Agama tidak akan ada tanpa jiwa, yaitu tanpa kehidupan.

Dalam kondisi yang sangat mendesak di antara hidup dan mati, seseorang harus mengorbankan larangan agama agar jiwanya selamat. Dalam Fikih, memakan bangkai hukumnya haram. Tetapi jika ada orang yang kelaparan sampai hampir mati dan tidak menemukan makanan selain bangkai, maka ia wajib memakan bangkai tersebut untuk menyelamatkan hidupnya. Pun kisah tawaran Jibril untuk memusnahkan penduduk Thaif dengan menghempaskan gunung, ditolak oleh Nabi Muhammad. Tentu pertimbangan Nabi soal kehidupan. Iman atau agama adalah proses. Tak ada proses tanpa kehidupan. Membiarkan penduduk Thaif hidup adalah membiarkan mereka belajar agama. Mereka berproses dan akhirnya mereka, atau keturunan mereka, mendapatkan hidayah keimananan.

Logika berurusan dengan timbangan akal. Timbangan ini, pada prakteknya, berurusan dengan pertimbangan. Keadilan adalah kata kuncinya. Timbangan kebenaran logika adalah keadilan dalam meletakkan prinsip dan hukum logis pada tempatnya. Sedikit saja prinsip atau hukum itu melenceng, maka logika akan melenceng, atau keadilan logis tidak bisa ditegakkan.

Dalam kehidupan praktis, logika adalah soal pertimbangan logis. Kita tidak bisa secara spontan menerapkan timbangan logika ke kehidupan praktis. Maka, pertimbangan logis adalah jalan tempuhnya. Pertimbangan logis paling bisa diterima semua manusia adalah petimbangan penjagaan primer.

Di masa modern, lima penjagaan itu dinamakan ‘hak asasi’. Segala hal yang dapat mengancam hak asasi adalah teror, dan dengan demikian tak ada teror yang dapat dikatakan adil. Orang tidak boleh serampangan dalam beragama. Keadilan harus ditegakkan di tingkat individu yang memeluk agama. Tanpa keadilan ini ia akan fanatik dan mengabaikan pertimbangan logis. Pun orang tidak boleh serampangan dalam bernegara. Tak ada harga mati bagi negara. Harga mati adalah kehidupan itu sendiri. Kekuasaan negara nyatanya bisa melegalkan penghilangan jiwa. Negara tak mungkin ada tanpa jiwa, tanpa kehidupan. Negara hanyalah komunitas terbayang. Ia ada karena dibayangkan ada oleh sekumpulan orang. Kehidupan adalah subjek dan objek riil. Tak ada kehidupan tanpa individu.

Dengan demikian, yang paling rill adalah kehidupan individu. Individu inilah yang dapat merasakan afeksi, cinta, kasih, kemarahan, dan teror. Ancaman bagi negara tidak lebih penting ketimbang ancaman bagi individu yang ada di dalamnya. Pun ancaman bagi penjagaan primer selain jiwa. Berpikir logis yang merupakan keadilan pikiran adalah kunci utama. Bertindak adil yang merupakan logika perimbangan adalah kunci selanjutnya. Tanpa kedua kunci itu, apa artinya hidup, apa artinya beragama, dan apa artinya bernegara?