Yayasan Al-Bait Al-Muhammadi mengadakan pengajian ilmiah pembacaan kitab Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq Al-Musthafa di bawah naungan Dr. Muhammad Muhammad, Dosen Fakultas Syariah wal Qanun Universitas Al-Azhar Mesir.

Pembacaan kitab karangan Al-Allamah Al-Qadhi Abu Al-Fadhl Iyadh ini diniatkan tolak balak agar Allah mengangkat wabah dan kesusahan dari umat Islam. Pengajian ilmiah ini digelar pada hari Kamis 7 Januari 2021 secara daring, karena mengikuti anjuran protok kesehatan demi mencegah penyegaran virus Covid-19.

Pengajian ilmiah dimulai dengan sambutan yang disampaikan anggota Yayasan Al-Bait Al-Muhammadi, Syekh Sayid Syalbi. Beliau mengatakan bahwa para ulama ketika tertimpa kesusahan atan malapetaka, mereka akan mendekat kepada Allah dengan bertawasul melalui sebaik-baik makhluk ciptaan-Nya, yakni Rasulullah SAW. Beliau mengutip syair,

ولما رأيت الأمر لله وحده وأن رسول الله خير الخلائق

توسلت في أمري وتفريج كربتي بأكرم مخلوق لأكرم خالق

Bilamana kusadari semua urusan di tangan Allah dan Rasulullah sebaik ciptaan-Nya

Agar urusan dan susahku dituntaskan, aku bertawasul dengan semulia ciptaan-Nya

Syekh Sayid Syalbi menambahkan bahwa di antara cara paling mulia yang dipilih para ulama untuk mendekatkan diri kepada Allah sesudah Al-Qur’an adalah kitab Asy-Syifa. Tidak sedikit ulama tekun membaca kitab tentang Nabi Muhammad SAW ini.

Imam Abu Al-Hasan Asy-Syadzili membaca kitab ini di majlisnya, hingga dihadiri oleh Sultanul Ulama Al-Izz bin Abdus Salam, Ibnu Daqiq Al-Ied dan Al-Hafizh Al-Mundzir.

“Dengan maksud meneladani manhaj para ulama, kami pun mengikuti langkah mereka membaca kitab ini,” ujar beliau dikutip akhbarelyom, Jumat (8/1).

Kemudian Syekh Idris Al-Ja’fari membaca beberapa ayat suci Al-Qur’an.  Disusul oleh Dr. Ahmad Mamduh, aminul fatwa Darul Ifta Mesir. “Pembacaan kitab Asy-Syifa  biasa dilakukan para ulama terdahulu. Mereka rutin membacanya di kala kondisi berat dan pada bulan Ramadhan,” kata beliau.

Kementerian Agama Mesir biasa membacakan kitab ini di Masjid Imam Asy-Syafi’i Kairo. “Guru-guru kami bercerita bahwa pembacaan Shahih Al-Bukhari dan Asy-Syifa termasuk salah satu cara terbaik mendekat kepada Allah sekaligus wujud meneladani iman-imam kita. Kita melakukan apa yang mereka dahulu lakukan, mudah-mudahan kita mendapatkan cucuran berkah,” imbuhnya.

Syekh Ibrahim Ash-Shufi anggota Yayasan Al-Bait Al-Muhammad mengatakan bahwa kitab Asy-Syifa termasukk salah satu kitab penting yang memperkenalkan sosok dan kepribadian Rasulullah SAW. Kitab ini sangat popular dan  dicetak di banyak penerbit.

Manuskrip kitab Asy-Syifa juga tidak terbilang sedikit. Ada 47 manuskrip di Perpustakaan Al-Asad Damaskus, 49 manuskrip di Perpustakaan Al-Azhar Kairo, 42 manuskrip di Darul Kutub dan 100 manuskrip di Perpustakaan Kerajaan Maroko di Ribat.

Pembacaan kitab ini secara bergantian dibaca oleh para dosen dan ulama dari Al-Azhar dan Darul IFta Mesir.  Rencananya akan dilanjutkan pada hari Senin 11 Januari  dan Kamis 14 Januari mendatang secara daring.

Yayasan Al-Bait Al-Muhammadi didirikan oleh Syekh Muhammad Muhanna pada 2016 dan bermarkas di Muqattam Kairo Mesir. Di antara salah satu tujuannya adalah menyebarkan ajaran tasawuf.

Adapun Syekh Muhammad Muhammad merupakan salah seorang ulama besar Al-Azhar, bermazhab Syafi’i dalam fikih dan bertarekat Syadziliyah dalam tasawuf.  Dikutip dari laman Facebook Pecinta Ulama Al-Azhar, beliau berguru tasawuf kepada Syekh As-Sayyid Abdul Haq dari Prancis yang merupakan murid dari Al-Allamah Renigino , seorang filosof sufi muslim dari prancis.

Ketika pertama belajar tasawuf di Prancis, beliau mendapatkan arahan dari Syeikh Abdul Haq untuk melanjutkan tasawuf sepulang ke Mesir. Kemudian Syeikh Muhanna bertanya, “Kepada siapa saya meneruskan spiritual tasawuf ketika di Mesir nanti?”

Sang guru mengarahkan beliau untuk meneruskan kepada Al-Imam Ar-Raid Syekh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim.

Sepulang dari Prancis, beliau segera mencari Syekh Muhammad Zakiyyuddin Ibrahim sesuai anjuran dan arahan sang Guru.

Syekh Muhammad Muhanna selalu bermulazamah kepada guru spiritual barunya itu sampai beliau wafat. Sampai-sampai sang guru telah mengizinkan beliau untuk memberikan baiat tarekat ketika masih hidup. Beliau mengemban amanat dari guru spiritualnya itu untuk menyebarkan dakwah Muhammadiyyah ke dunia.