Air mata Sayidina Ubay bin Ka’ab RA seketika menetes mendengar kabar tiada tara menggembirakan untuknya dari lisan seorang yang paling jujur tutur katanya, “Wahai Ubay, Allah menyebut namamu, Dia memerintahkanku untuk membacakan Al-Quran untukmu?”

Air mata haru Ubay jatuh mengetahui bahwa ijazah membaca Al-Quran dia terima langsung dari Sang Pemilik Kalam. Sehingga riwayat Al-Quran yang melalui jalurnya menjadi salah satu yang paling terkenal hingga saat ini. Apa rahasia keberuntungan Ubay bin Ka’ab mendapatkan kemuliaan amat besar ini di tengah keberadaan sahabat-sahabat lain yang mulia?

Di Mesir banyak qurra’ yang sangat mutqin hafalan Al-Quran dan tajwidnya, serta indah suara lantunannya. Tetapi mengapa yang paling diterima secara luas adalah: Syekh Muhammad Shiddiq Al-Minsyawi, Syekh Abdul Bashit Abdul Shamad, Syekh Mahmud Khalil Al-Hushari dan Syekh Mahmud Ali Al-Banna? Kira-kira apa rahasianya?

Sebagai tambahan permisalan, dalam syarah-syarah untuk Kitab Shahih Imam Muslim. Banyak yang mensyarah kitab ini dengan sangat bagus, misalnya Imam Al-Maziri, Al-Qadhi ‘Iyadh, Imam Al-Qurtubi, dari kalangan muta’akhirin yang menurut Syekh Zahid Al-Kautsari sangat komprehensif, ada juga syarah milik Syekh Syibbir Al-Utsmani berjudul Fathu Al-Mulhim. Tetapi mengapa yang justru paling terkenal dan beredar luas adalah syarh milik Imam An-Nawawi, yang padahal bisa dikatakan hanya syarah sederhana. Apa rahasia Imam Al-Nawawi?

Kembali ke teka-teki keistimewaan yang didapatkan Sayidina Ubay, apa rahasianya?

Apabila kita renungkan dan kawinkan riwayat ini dengan bukti-bukti dari riwayat lain, kita menjumpai, pada suatu riwayat Ubay pernah mendatangi Nabi SAW dan bertanya, “Ya Rasulullah, berapa persen saya alokasikan untuk bershalawat untukmu dalam sehari?”

Nabi SAW hanya menjawab, “Semampu yang kau bisa.”

Ubay bertanya, “Bagaimana kalau sepertiganya?”

“Itu bagus. Jika lebih banyak, akan lebih bagus.”

“Bagaimana kalau setengahnya?

“Itu bagus. Jika lebih banyak, akan lebih bagus.”

“Bagaimana kalau dua pertiganya?”

“Itu bagus. Jika lebih banyak, akan lebih bagus.”

“Baiklah, duhai Rasulallah. Akan kujadikan lisan ini sepanjang hari untuk bershalawat kepadamu.”

Begitulah komitmen Sayidina Ubay yang disampaikan di hadapan Nabi SAW. Dalam artian, dalam dzikir dan doanya, Ubay tak pernah meminta kepada Allah untuk diri pribadi, semuanya adalah permintaan untuk menyampaikan shalawat kepada Nabi SAW.

Keranjingan Ubay dalam bershalawat inilah yang kemungkinan besar menjadi rahasia ia mendapatkan kemuliaan yang tiada tara, menjadi ulama spesialis Al-Quran dari kalangan sahabat.

Ini pula nampaknya yang menjadikan seorang Imam Al-Juzuli, nama dan karyanya begitu terkenal di kalangan umat Islam. Kita semua akrab dengan Kitab Dalâil al-Khairât berisi kumpulan shalawat yang beliau susun. Kitabnya ini dibaca dari masa ke masa dan di berbagai tempat di dunia.

Syekh Yusuf An-Nabahani menceritakan sebab Sidi Al-Juzuli menyusun Dalâil al-Khairât:

Suatu hari ketika waktu shalat tiba, Al-Juzuli hendak mengambil air wudhu. Dia mendatangi sebuah sumur. Ternyata ia menemukan sumur tersebut tengah kering. Ia pun kebingungan hendak mencari air ke mana. Kebingungannya itu pecah ketika tiba-tiba dia mendengar seorang bocah perempuan lewat dan bertanya kepadanya, “Siapa anda?”

“Saya adalah Juzuli.”

“Oh, jadi anda yang dipuji-puji orang-orang dengan bermacam kebaikan. Tetapi saat ini anda tidak bisa berbuat apa-apa untuk mendapatkan air?” Bocah itu mendengus mencibir, lalu meludah ke dalam sumur tersebut dan seketika sumur itu penuh oleh air sampai meluap.

Setelah Syekh Al-Juzuli selesai berwudhu dengan air sumur itu, dia berkata kepada bocah, “Demi Allah, beritahu aku, mengapa kamu bisa mencapai martabah ini?”

Bocah itu menjawab, “Dengan banyaknya aku bershalawat kepada seorang yang apabila berjalan di tanah yang tidak bertuan, maka semua binatang buas akan menjadi jinak padanya dan berjejer berjalan di belakangnya.”

Mendengar jawaban itu, Imam Al-Juzuli bersumpah akan menyusun sebuah kitab kumpulan shalawat untuk Nabi SAW dan akan banyak mengamalkannya setiap hari. Walhasil, terlahirlah Kitab Dalail al-Khairat ini.

~Ringkasan dari penyampaian Maulana Syekh Abdullah Izzuddin Al-Azhari di Acara Pengijazahan Shalawat Dalâil al-Khairât tadi malam (Malam Jumat, 13 Sya’ban 1442 H di Griya KSW, Hay 10, Nasr City Kairo Mesir).