Musim panas sudah hampir berakhir tahun itu. Kalender menunjukkan bulan Oktober 1355 Masehi ketika Amir Syaikhu dan Amir Syarghatmisy an-Nasiri bersama pasukannya mengkudeta Ash-Shalih Salih dan Amir Taz dari pemerintahan Mamluk Mesir. Kedua amir ini ingin mengembalikan An-Nasir Hasan ke puncak tahta Kesultanan Mamluk. Hasan pun dibebaskan dari tahanan rumah di Citadel dan memulai pemerintahan periode keduanya.

Di awal periode keduanya an-Nasir Hasan langsung melancarkan gerakannya untuk memonopoli kekuasaan eksekutif Kesultanan Mamluk. Langkah pertamanya adalah menyingkirkan Amir Taz yang telah menggulingkan dan memenjarakannya di periode pertama pemerintahannya. Namun Syaikhu dan Syarghatmisy mengintervensi tindakan Hasan ini, sehingga Amir Taz hanya diasingkan tanpa dipenjarakan. Akhirnya Hasan setuju menjadikan Taz sebagai na`ib atau gubernur di Aleppo dengan tetap membatasi kekuasaannya.

Kebijakan memonopoli kekuasaan eksekutif pada akhirnya berujung pada penyingkiran para amir yang terlalu kuat pengaruhnya dan terlalu lemah. Dalam hal ini termasuk amir yang berjasa membantunya menggulingkan ash-Shalih Shalih dan Taz dan membebaskannya dari tahanan rumah yaitu Amir Syaikhu.

Bagian Pertama: An-Nasir Hasan, Sultan Muda di Tengah Kemelut Politik Mamluk

Tahun 1357 Syaikhu akhirnya dibunuh di tengah pengasingannya di Aleppo. Setelah kematian Syaikhu, Hasan melakukan pengasingan paksa kepada para mamluk pendukung syaikhu untuk menghindari pemberontakan dari para pendukung Syaikhu. Gerakan ini dipimpin oleh Khalil bin Qawsun. Para pendukung Syaikhu yang tidak diasingkan lantas dipenjara di Alexandria.

Manuver politik Hasan ini berakibat meninggalkan Amir Syarghatmisy sebagai satu-satunya amir terkuat di istana Kesultanan Mamluk. Hal ini memunculkan potensi kudeta dari Syarghatmisy. Untuk menghilangkan kemungkinan kudeta dari Syarghatmisy, Hasan pun menyingkirkan Syarghatmisy yang juga pernah punya jasa membebaskannya dari tahanan rumah.

Waktu itu Mesir tengah berada di puncak musim panas di bulan Agustus 1358 ketika Amir Syarghatmisy ditangkap dan bawa ke Alexandria untuk dijebloskan ke penjara di sana. Ternyata penjara hanya sebuah tempat untuk menyembunyikan niat yang lebih licik lagi dari Hasan. Di penjara Alexandria itulah akhirnya Syarghatmisy dibunuh. Setelah seluruh amir yang berada di lingkar kekuasaannya tersingkir, kini Hasan menjadi satu-satunya pemilik kekuasaan tunggal di Kesultanan Mamluk.

Setelah Syarghatmisy tersingkir, an-Nasir Hasan pun menyingkirkan tentara-tentara mamluk Syarghatamisy dari pos-pos militer dan menggantinya dengan tentara-tentara mamluk miliknya. Ia juga mempromosikan awlad an-nas untuk jabatan-jabatan dan posisi-posisi penting di Kesultanan Mamluk. Awlad an-nas adalah keturunan para mamluk yang tidak melalui proses perbudakan dan pembebasan. Promosi awlad an-nas ke jabatan-jabatan dan posisi penting di Kesultanan Mamluk belum pernah terjadi sebelumnya.

Sepuluh dari dua puluh empat jenderal Mamluk yang memegang pangkat militer tertinggi yaitu amir mi`ah (Amir dari seratus pasukan kavaleri mamluk) adalah awlad an-nas. Kasim Awlad al-nas dan non-mamluk memegang banyak jabatan administratif senior, termasuk banyak jabatan gubernur provinsi di wilayah Suriah termasuk niyabah (gubernur) di Aleppo dan Safad. Kasim adalah pelayan atau budak yang telah dikebiri untuk menjadikan mereka budak yang dapat diandalkan di istana kerajaan di mana akses fisik ke penguasa dapat memberikan pengaruh yang besar. Di antara mereka yang mencapai pangkat amir mi`ah adalah dua putra an-Nasir Hasan.

Bagian Kedua: Sultan An-Nasir Hasan, Dari Wabah Hingga  Dijebloskan ke Penjara

Alasan an-Nasir Hasan mempromosikan para awlad an-nas ke jabatan-jabatan penting di Kesultanan Mamluk adalah karena kepercayaannya yang tinggi pada kemampuan mereka menjalankan administrasi kerajaan. Selain itu juga karena mereka dipercaya sangat lemah untuk sampai melakukan kudeta dan pemberontakan. Para awlad an-nas secara perilaku lebih baik dari pada para Mamluk. Di lain sisi mereka lebih menguasai ilmu administrasi pemerintahan dibandingkan para Mamluk. Namun eksperiman Hasan ini ternyata tidak bertahan lama. Hal itu karena hadirnya para awlad an-nas ternyata tidak memperkuat posisi an-Nasir Hasan dan mempertahankan kekuasaannya dari pemberontakan para Mamluk.

Pada 17 Maret 1361, ketika musim dingin mulai berakhir dan musim semi menjelang, Hasan tewas dibunuh salah satu mamluknya sendiri yang bernama Yalbugha al-Umari. Ia adalah pemimpin faksi Mamluk penentang kebijakan an-Nasir Hasan meninggikan awlad an-nas ke posisi-posisi penting di Kesultanan Mamluk. Jenazah an-Nasir Hasan tidak pernah ditemukan sejak kematiannya tersebut. Kematian an-Nasir Hasan terus memicu konflik internal yang kelak berakibat pada keruntuhan dinasti Mamluk Bahri. An-Nasir Hasan wafat di usia 27 tahun, usia yang masih sangat muda untuk ukuran seorang sultan.

Tamat.