Ketika huru-hara mulai terjadi di Suriah, Syeikh Ramadhan al-Buthi merupakan salah satu pihak yang tegas menyeru masyarakat untuk bersatu dalam barisan pemerintah. Aksi untuk menurunkan rezim Bashar al-Assad bukanlah aksi demo damai seperti yang terjadi di Tunis dan Mesir. Mereka yang ‘berdemo’ membawa senjata yang dipasok oleh negara-negara asing.

Kepada para jamaahnya, Syeikh Ramadhan al-Buthi mengatakan bahwa kudeta yang terjadi di Suriah adalah rancangan oknum luar yang tidak diketahui siapa dalang dan apa yang diinginkannya. Beliau menekankan bahwa mengikuti kepemimpinan yang belum diketahui seluk beluknya (al-qiyadah al-majhulah) dilarang secara hukum syariat. Revolusi haruslah lahir dari keinginan dan rancangan rakyat, bukan dari orang asing yang tak dikenal.

Syeikh Ramadhan al-Buthi meyakini bahwa penggulingan rezim pemerintah yang terjadi di negaranya bukanlah revolusi namun konspirasi. Beliau memaparkan secara terang-terangan bahwa Amerika dan Israel sudah membuat rencana untuk memecah belah Suriah menjadi negara-negara kecil yang dapat mereka kendalikan. Dan pemberontakan untuk melengserkan rezim pemerintah tidak lain merupakan awal realisasi rencana tersebut dengan menggaungkan isu Sunni-Syiah di mana rezim Syiah yang zalim membantai muslim Sunni yang lemah.   

Syeikh Ramadhan al-Buthi berusaha menyadarkan masyarakat bahwa perang yang terjadi di antara mereka bukanlah perang melawan kekafiran dan kebatilan. Bahkan secara gamblang, beliau mengatakan bahwa tentara Suriah yang melawan para pemberontak adalah tentara rabbani. Penisbatan rabbani kepada tentara ini harus dipahami dalam konteksnya. Melalui penisbatan tersebut, beliau ingin mengatakan bahwa perang di Suriah adalah perang antar sesama saudara yang tak seharusnya terjadi.

Karena sikap terang-terangan yang menentang aksi pemberontakan itulah, Syeikh Ramadhan al-Buthi dianggap sebagai ulama yang menjilat penguasa (‘ulamâ` as-sulthah). Karena sikap terang-terangan yang menentang aksi pemberontakan itulah, beliau dibunuh dalam sebuah aksi bom bunuh diri ketika beliau sedang memberikan pengajian tafsir di salah satu masjid Damaskus.

Baca juga: Hukum Akting dalam Islam Menurut Syekh Ramadhan Al-Buthi

Konflik yang terjadi di Suriah tidaklah sederhana seperti yang terekspos di media-media. Letak geografis, kekayaan alam serta sejarah permusuhannya dengan Israel, menjadikan Suriah ancaman bagi kepentingan Barat dan Israel. Syeikh Ramadhan al-Buthi sangat memahami kenyataan ini. Dan berdasarkan kenyataan inilah, beliau mengambil sikap tegas yang menitikberatkan kemaslahatan yang lebih besar walaupun beliau dianggap sesat dan kafir oleh sebagian pihak: berada di bawah pemerintahan otoriter jauh lebih baik daripada terjebak dalam perpecahan dan perang sesama saudara yang tidak ada akhirnya. 

Berangkat dari sini, Syeikh Ramadhan al-Buthi menyerukan masyarakat untuk berjihad, bukan dengan mengangkat senjata dan berperang, namun dengan memperbaiki diri dan mendekatkan diri masing-masing kepada Allah. Keinginan untuk mewujudkan masyarakat islami hanya akan terdengar sebagai ambisi muluk yang tidak realistis jika tidak dimulai dengan memperbaiki dasar pondasi masyarakat itu sendiri: kesucian dan ketakwaan hati setiap individu. Beliau menyerukan jihad ini kepada seluruh lapisan masyarakat: penguasa dan rakyat.  

Di tengah spirit fanatisme kelompok yang sengaja dikobarkan sedemikian dahsyat, beliau mengingatkan bahwa semangat keagamaan harus diimbangi dengan sikap rasional dan kembali merenungi ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw.. Jauh sebelum pemberontakan terjadi di Suriah, Syeikh Ramadhan al-Buthi sebenarnya telah konsen mengkaji isu fanatisme di dalam Islam dalam buku-buku beliau. Beliau menekankan bahwa fanatisme membabi buta hanya akan melahirkan gerakan-gerakan ekstrimis dan radikalis yang justru melenceng dari hakekat ajaran agama.    

Semenjak awal konflik di Suriah, Syeikh Ramadhan al-Buthi tidak berhenti berjuang sesuai dengan kapasitas beliau sebagai ulama. Ketika banyak orang memilih untuk meninggalkan Suriah karena perang yang semakin menegang, beliau memilih untuk tetap bertahan. Dalam sebuah wawancara terakhir sebelum terbunuh, beliau mengatakan bahwa meninggalkan Suriah bagi beliau seperti halnya seorang ayah yang sengaja meninggalkan keluarganya tanpa memedulikan nasib yang akan mereka hadapi.

Baca juga: Kiat Menghafal Al-Quran Tanpa Pernah Lupa Ala Syekh Yusri

Demikianlah, Syeikh Ramadhan al-Buthi memilih tetap bertahan di Suriah hingga akhir hayat. Beliau membuktikan betapa besar cinta beliau kepada negaranya. Menjaga keutuhan instansi negara (terkhusus di negara-negara rawan seperti Timur Tengah), bukan hanya menjadi tuntutan strategis dan pilihan satu-satunya agar selamat dari cengkaraman musuh. Lebih dari itu, menjaga keutuhan instansi negara adalah menerjemahkan spirit keagamaan yang mengajarkan bahwa mencintai negara adalah sebagian dari iman.

Apa yang diprediksi oleh Syeikh Ramadhan al-Buthi terbukti kebenarannya. Setelah sepuluh tahun konflik bergulir, negara-negara asing masuk ke Suriah dengan berlagak seperti halnya pahlawan, Suriah terpecah belah dan rakyat terjebak di antara perang yang tak kunjung berakhir.