Tasawuf dikepung dari dua arah: orientalis (sarjana barat) yang seenaknya sendiri menyetel tasawuf sesuai asumsi di kepalanya; di sisi yang lain ada Wahhabiyah modern yang dengan sinis selalu mendiskreditkan. Sehingga pemahaman kita mengenai tasawuf tak pernah benar-benar jernih. Kenyataan ini harus disadari oleh pembaca yang ingin menekuni tasawuf.

Konteks Umm Al-Qura

Sebuah produksi pengetahuan ditentukan, sedikit-banyak, oleh produser. Apa yang anda bayangkan tatkala dikepung musuh? Anda menyerah atau mencari cara dan waktu yang tepat untuk melarikan diri. Ini yang saya bayangkan tatkala membaca buku “Allah dan Alam Semesta, Perspektif Tasawuf Falsafi” karya Prof. KH. Said Agil Siroj.

Sebuah buku terjemahan yang berasal dari disertasi doktoral, yang menurut pengakuan penulisnya membutuhkan waktu 4 tahun untuk menyelesaikannya. Disertasi ini ditulis di Univ. Ummul Qura Mekkah, yang menganut Wahhabiyah sebagai mazhab resmi.

Sebagai ketum PBNU, Pak Said adalah panutan yang sempurna. Bahkan Gus Dur menjulukinya sebagai “kamus berjalan”, karena keluasan pengetahuannya. Tapi bagaimanapun sebagai mahasiswa yang puluhan tahun menikmati fasilitas beasiswa Univ. Ummul Qura mau tidak mau harus membalas atau setidaknya bermanis lidah dan tulisan untuk memuji apa yang dianggap pantas dipuji.   

Terlihat jelas bagaimana pemilihan tokoh representatif dalam disertasinya ini. Ibnu Taimiyah sebagai referensi utama dalam penulisan karyanya ini. Buku dua jilid yang kemudian diterjemah dengan ciamik oleh Ahmad Baso ini merupakan pendalaman materi dari kerangka berpikir Ibnu Taimiyah. Terlihat jelas dari pujian setinggi langit untuk Syaikh Al-Islam.

Sikap Ibnu Taimiyah sebagai kritikus paling bersemangat hingga menyebabkan pembacanya menjadi orang-orang anti sufi adalah kenyataan yang tak bisa disangkal. Seluruh bangunan buku ini seakan mendekorasi ulang bangunan kuno Ibnu Taimiyah. Tak ada apresiasi sama sekali pada tasawuf.

Persepktif tasawuf falsafi yang menjadi anak judul buku tampil buram (atau sengaja diburamkan) karena memang tak pernah didefinisikan oleh penulisnya. Pembaca awam pasti akan dibawa arus tulisan bahwa inilah “cetak biru” tasawuf, yang sayangnya tasawuf dipotret secara ‘gelap’.   

Pemilihan Tokoh

Sisi gelap tasawuf dalam buku ini dimulai dengan pemilihan tokoh-tokohnya. Demi memburamkan wajah tasawuf maka tokoh yang dipilih juga harus tokoh yang kontroversi. Maka muncullah nama “Jabir bin Hayyan” yang sepak terjangnya diasosiasikan pada sekte Syiah.

Tentu dengan cara merujuk pada Dr. Kamil Mustafa As-Syaibi yang dengan piawai mengkorelasikan tasawuf dengan Syiah dalam bukunya “As-Shilah baina At-Tasawuf wa At-Tasyayyu’”. Padahal dalam Syiah tak ada yang kenal ajaran tasawuf. Syiah juga menolak istilah “tasawuf” dan memilih istilah “irfan” yang dalam pengertiannya juga berbeda jauh.

Begitu pula dengan Ma’ruf Al-Karkhi yang diasosiasikan pada Bani ‘Ajl sebagai suku ekstrem Syiah. Al-Karkhi ditengarai berguru pada Ali Ar-Ridha dan ayahnya masuk islam di tangan Imam Ar-Ridha. Memang benar Ali bin Musa Ar-Ridha adalah Ahlil Bait (keturunan dan keluarga Nabi) tapi tidak semua Ahlul Bait kemudian dianggap Syiah. Al-Karkhi juga berguru pada sufi lain, Dawud At-Tha’i.

Dzun Nun Al-Misri, konseptor al-ma’rifah as-sufiyah, juga tak lepas dari stigma sebagai alchemi ulung dan pakar perdukunan yang mempelajarinya dari sisa kuil-kuil Aleksandria. Dzun Nun disebut menguasai al-ism al-a’dzam dan kerap berdoa dengan membakar kemenyan dan dupa.

Deskripsi Dzun Nun dalam buku pak Said ini sepenuhnya dikutip dari buku The Mystics of Islam milik Nicholson, yang memang cenderung berlebihan dalam memandang tasawuf. Di tangan Nicholson, tasawuf menjadi sebuah diskursus yang terasing dari Islam. Bahkan menurutnya, tasawuf meruntuhkan semua nilai-nilai etika dan agama apapun (Nicholson: 1951).

Pandangan kesufian Abu Yazid diasosiasikan dengan monisme agama Hindu. Sementara konsep al-fana-nya disamakan dengan kontemplasi Hindu. Kemiripan-kemiripan tasawuf dengan anasir di luar Islam dipertontonkan tanpa mencoba melakukan pembelaan sedikitpun. Ini berimplikasi buruk bagi pembaca: sehingga menganggap tasawuf sebagai penyusup. Padahal kedudukan tasawuf sangat jelas sebagai pilar agama islam; disamping iman dan islam, ada konsep ihsan sebagai presentasi tasawuf.

Istilah-istilah Tasawuf

Istilah-istilah populer dalam tasawuf falsafi juga mengalami nasib yang sama. Ia dicabut dari maskud aslinya. Terma-terma semacam ittihad, hulul, wahdatul wujud  menjadi sepertiga sajian buku ini. Namun dengan kesimpulan-kesimpulan yang mencengangkan para pengakaji tasawuf. Semisal konsep Wahdatul wujud Ibnu Arabi yang disamakan dengan pemahaman Panteisme Barat.

Belum lagi, bahasa kaum sufi yang simbolis, metaforis dan alegoris, yang muncul dalam kondisi kejiwaan tak biasa (fana) dipahami secara ‘telanjang’. Ini khas model kajian tokoh Wahhabiyah yang tekstualis. Efeknya sungguh menyakitkan: beberapa tokoh sufi dikafirkan, seperti Al-Hallaj (baca versi asli berbahasa Arab). Dan kita tahu “takfir” tidak merepresentasikan pemikiran mayoritas Ahlussunnah dan warga NU.  

Tapi kita harus maklum karena disertasi ini ditulis di Univ. Ummul Qura. Konsekuensi logis dari lingkungan akademik yang rigid. Yang terpenting, pandangan penulis saat ini sudah tak mewakili apa yang dia tulis dalam disertasinya. Sebuah pemikiran bersifat dinamis. Pak Said adalah ketua umum PBNU yang mewakafkan dirinya untuk menyebarkan moderatisme Islam.

Dan sepertinya, Ahmad Baso sebagai penerjemah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Sehingga anasir “takfiri” yang ada dalam disertasi sudah tereliminasi. Namun pembaca awam harus tetap waspada sebab imaji tasawuf benar-benar ambyar dalam buku versi terjemah ini.