Kita sekarang memasuki bulan Sya'ban atau "Ruwah" menurut orang Jawa. Pada bulan tersebut terdapat malam yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan yang besar.

فضل شعبان على سائر الشهور كفضلي على سائر الانبياء

“Keutamaan bulan Sya'ban terhadap bulan-bulan yang lain seperti keutamaanku atas semua para Nabi.”

من احيا ليلتي العيدين وليلة النصف من شعبان لم يمت قلبه حين تموت القلوب

“Barang siapa yang menghidupkan dua malam hari Raya dan malam Nisfu Sya'ban, maka hatinya tidak akan mati pada waktu umum nya hati pada mati.”

Salah satu tradisi orang Jawa yang dilakukan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya'ban adalah membaca surat yasin sebanyak tiga kali.

Sebagai bagian dari mereka mengisi malam pertengahan bulan Sya’ban (Nisfu Sya’ban), di sebagian tempat di Indonesia umat Islam membaca surah Yasin atau yasinan setelah shalat Maghrib. Ada yang membacanya secara berjamaah di masjid atau mushalla. Ada pula yang membaca di rumah masing-masing.

Hukum Yasinan di Malam Nisfu Sya’ban

Secara umum, ada yang mengatakan amalan dan ibadah di malam Nisfu Sya’ban adalah kesesatan dan tidak dianjurkan oleh ulama salafus shalih. Termasuk membaca Yasin.

Tentu saja pandapat ini sebuah pernyataan yang dangkal dan keliru. Dr. Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki, dalam karya khususnya tentang bulan Sya’ban, yakni kitab Madza fi Sya’ban, menulis khusus tentang atsar (kebiasaan) ulama salaf di bulan ini.

Tentu apa yang termuat dalam kitab tersebut bukan pernyataan yang mengada-ada dan tanpa dasar. Termasuk ketika membahas tradisi membaca surah Yasin di malam Nisfu Sya’ban. Menurut beliau, yang menciptakan tradisi yasinan di malam Nisfu Sya’ban adalah Syaikh Ahmad bin Ali bin Yusuf Abu al-Abbas al-Buni.

Hal ini seperti ditulis oleh Muhammad bin Darwisy bin Muhammad al Hut al Biruti asy-Syafi’i dalam karyanya, Asna al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalifah al-Maratib. Dalam kitab tersebut beliau menyatakan:

وَأَمَّا قِرَاءَةُ سورة يٰسٓ لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُّعاَءِ الْمَشْهُورِ فَمِنْ تَرْتِيبِ بَعْضِ أَهْلِ الصَّلَاحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ. قِيلَ هُوَ الْبُونِيُّ وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ

“Adapun tradisi yasinan pada malam Nisfu Sya’ban setelah Shalat Maghrib dan doanya yang masyhur, itu merupakan kreasi salah seorang ahli shalah (ulama shaleh). Ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah al-Buni. Mengamalkan tradisi seperti Yasinan Malam Nisfu Sya’ban itu tidak apa-apa (boleh).”

Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitabnya Latha`if al-Ma’arif Fii ma Li Mawasim al-‘Am Min al-Wadhaif, para tabiin yang ada di daerah Syam sangat mengagungkan malam Nisfu Sya’ban. Pada malam itu mereka lebih giat beribadah. Para tabiin seperti  Khalid bin Ma’dan Makhul, Luqman bin Amir dan selainnya begitu tiba malan Nisfu Sya’ban sangat antusias dan memperbanyak amalan.

Sebagian orang menuduh bahwa beberapa amalan tersebut merupakan atsar israiliyat. Namun, ketika di berbagai negeri hal tersebut terkenal berasal dari para tabiin tersebut, maka para tabiin yang lain menerimanya dan mengikuti mereka dalam mengagungkan malam Nisfu Sya’ban, termasuk sekelompok ahli ibadah Kota Bashrah dan lainnya.

Mengenai tradisi yasinan di malam nisfu Sya’ban terutama setelah shalat Maghrib sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh sebagian besar umat Islam disertai dengan berdoa, mereka memanjatkan permohonan agar diberikan umur panjang, rezeki yang halal, wafat dalam keadaan husnul khatimah, dan lain-lain.

Terkait tradisi religi itu, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki memandang kegiatan tersebut sebagai hal yang positif. Menurutnya, malam Nisfu Sya’ban  merupakan momen yang sangat tepat untuk memperbanyak amal shaleh dan berdoa kepada Allah supaya dikabulkan hajat dunia maupun hajat akhirat.