Alhamdulillah Sanad Media mendapat keberkahan menemani kunjungan dua cicit Syekhona Kholil Bangkalan ke sejumlah ulama Sunda yang dahulu belajar kepada beliau.

Lora Usman Hasan dan Lora Ismail Khalili melakukan anjangsana ke sejumlah pondok tua dan makam ulama di Jawa Barat selama empat hari. Mulai Senin hingga Kamis (14-17/12), beliau berdua menyambung silaturahmi ke sejumlah pesantren dan pesarean yang ada di Bandung, Garut, Tasikmalaya, Kuningan dan Cirebon.

Lora Usman tiba pada hari Senin Pagi di stasiun kereta api Bandung bersama Gus Mufti. Sedangkan Lora Ismail tiba pada hari yang sama di bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Tangerang.

Pada Senin hari pertama, kedua cicit Syekhona Kholil Bangkalan itu bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung. Kedatangan mereka berdua disambut oleh Pengasuh Ponpes KH. Abdul Azis.

Pesantren Sukamiskin tercatat sebagai salah satu pesantren tua di Tatar Sunda. Didirikan oleh KH. Muhammad bin Alqo pada 1881 M. Pendiri pesantren itu merupakan salah satu murid dari Syekhona Kholil

KH. Abdul Aziz antara lain menunjukkan sejumlah karangan kitab berbahasa Sunda yang ditulis oleh KH. Muhammad bin Alqo, KH. Ahmad Dimyati, KH. Haidar dan Bunyai Romlah.

Selanjutnya, Lora Usman dan Lora Ismail bersama Sanad Media berziarah di kompleks pemakaman Bupati Bandung. Salah satu makam yang diziarahi adalah Haji Hasan Mustapa. Terkenal sebagai ulama dan sastrawan Sunda serta pernah menjabat sebagai Penghulu Besar Bandung pada tahun 1895-1918. Beliau juga tercatat pernah berguru kepada Syekhona Kholil sebelum kemudian melanjutkan belajar ke Makkah dengan Syekh Nawawi Al-Bantani.

Menjelang sore, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Pesantren Cibeureum Kidul Cimahi Bandung. Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Pengasuh KH. Alan Nur Ridwan. Beliau bercerita sejumlah catatan dan manuskrip yang dimiliki pondok pendirian Embah Mukodar itu ludes hilang dalam kebakaran rumah.

Baca juga: Menjumpai Ilmu Gentur (Cianjur) di Kadipaten Majalengka

Perjalanan berikutnya diteruskan menuju Pesantren Darul Halim Parongpong Bandung Barat. Salah satu pengasuhnya KH Abdul Wahhab adalah alumni Suriah. Beliau banyak berbagi pengalaman berdakwah di lingkungan perkotaan semacam Bandung dengan basis masyarakat modern dari berbagai latar belakang. Di kediaman beliau pula, kami semua bermalam.

Selasa pagi, perjalanan dilanjutkan menuju Pondok Pesantren Fauzan I di Sukaresmi Garut. Dua cicit Syekhona Kholil itu disambut oleh KH. A. Muhammad Ali dan KH. Aceng Hilman Umar Basori serta beberapa pengasuh pondok yang lain. Pesantren Fauzan sendiri didirikan oleh Syekh Umar Basri yang tiada lain tercatat juga pernah belajar kepada Syekhona Kholil.

Meski hujan tak kunjung reda pada Selasa siang itu, perjalanan diteruskan menuju Yayasan Dahlan Almaymunah di Karangpawitan, Garut. Oleh salah satu guru yang mengajar di sana, kami diantarkan ke kompleks pemakaman para pendiri pesantren. Di sana kami mendapati makam Sayyid Abdullah bin Shodaqoh bin Zaini Dahlan, Sayyid Muhammad bin Abdullah Dahlan, Syarifah Zaenab binti Zen Alaydrus, Syarifah Maemunah binti Syarif Ali Abu Bakar Al-Qodry dan beberapa keluarga yang lain.

Sayyid Abdullah bin Shodaqoh merupakan putra dari saudara kandung Mufti Makkah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan guru dari Syekhona Kholil.

Seperti mengejar Maghrib, perjalanan berlanjut menuju kompleks pemakanan Syekh Azra'i ulama besar Sunda yang masyhur dikenal sebagai Syekhul Alfiyah yang terletak di kecamatan yang sama, Karangpawitan.

Sebagian kitab karya Syekhona Kholil Bangkalan

Ba'da Maghrib, kami meneruskan perjalanan menuju kompleks pemakaman Sumurkondang, Desa Kertajaya, Kecamatan Cibatu, Garut. Di sana terdapat makam KH. Ahmad Nahrowi yang masyhur dikenal Mama Nahrawi Keresek Garut. Beliau juga tercatat sebagai murid Syekhona Kholil. Beliau adalah pengasuh pesantren Keresek yang didirikan oleh ayahnya KH. Muhammad Tobri pada 1887.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kabupaten Tasikmalaya. Tempat pertama yang kami tuju adalah makam Mama Sujai Kudang di Cipedes Tasikmalaya. Dia juga merupakan salah satu murid Syekhona Kholil. Selanjutnya kami meluncur menuju Pondok Pesantren Zumrotul Muttaqin di Singaparna Tasikmalaya. Keluarga pengasuh pondok bercerita bahwa Kyai Zumrotul Muttaqin dulu berangkat mondok ke Bangkalan dengan berjalan kaki selama 14 hari. Sejumlah manuskrip dan tulisan tangan karya beliau juga diperlihatkan kepada kami.

Baca juga: Kitab “Campaka Mulia” dan Awal Mula Sejarah Percetakan Kitab-Kitab Sunda Pegon

Menginjak tengah malam, perjalanan dilanjutkan menuju kompleks pemakaman Abah Sepuh dan Abah Anom di Suryalaya Tasikmalaya. Abah Sepuh juga tercatat sebagai santri Syekhona Kholil. Turun seusai ziarah, kami baru sadar bahwa jam menunjukkan pukul setengah dua Kamis dinihari.

Di tengah cuaca malam yang dingin, akhirnya diputuskan untuk meneruskan perjalanan menuju Kuningan. Kami memutuskan silaturahmi serta beristirahat di kediaman Kyai Aik Ihsan Anshori, kepala SDIT Al Fattah Kuningan. Kami juga sowan ke kediaman Kyai Aang Asy'ari. Direktur Aswaja Center Kuningan ini juga sama-sama belajar di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang dengan Lora Ismail meski beda masa di bawah asuhan KH. Maimun Zubair.

Kamis siang, kami diajak mengunjungi Rumah Adat Kyai Hasan Maolani, ulama Sunda yang hidup sezaman dengan Pangeran Diponegoro. Kami juga ditunjukkan beberapa manuskrip karya ulama yang diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1843 dan dibuang ke Kampung Jawa Tondano, Sulawesi Utara.

Kemudian kami bertolak menuju makam Kyai Ahmad Shobari pengasuh Pondok Pesantren Pusaka Ciwedus di Cigandamekar Kuningan. Ulama yang masyhur dengan sebutan Mama Ciwedus ini juga tercatat sebagai salah satu murid Syekhona Kholil dari Sunda.

Tujuan terakhir silaturahmi cicit Syekhona Kholil adalah Cirebon. Kami bersilaturahmi kepada Pengasuh Pondok Pesantren Buntet di Mertapada, Astanajapura Cirebon. Ketua Yayasan KH Salman Al-Farisi bercerita bahwa selain Kyai Abbas Buntet, Kyai Abdul Mun'im juga pernah belajar kepada Syekhona Kholil. Kyai Abdul Mun'im adalah saudara kandung dari Kyai Abdul Jamil ayahanda Kyai Abbas. Kyai Abdul Mun'im adalah paman dari Kyai Abbas.

Pada setiap kunjungan ke pondok pesantren, Lora Usman dan Lora Ismail tidak lupa memberikan kenang-kenangan berupa lima kitab karya Syekhona Kholil Bangkalan terbitan Lajnah Turats Ilmi Syekhona Muhammad Kholil.

Baca juga: Kitab Pasolatan Sunda Pegon Karya KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal

Pukul sudah menunjukkan waktu 6 sore lewat. Terdengar hujan turun dengan deras. Hari itu juga berpapasan dengan jadwal kepulangan Lora Usman. Sebenarnya ada satu destinasi lagi yang dituju, yaitu Balerante. Di sana ada makam Kyai Masduqi bin Ismail dan Kyai Jauhar Arifin Balerante. Keduanya juga tercatat pernah belajar kepada Syekhona Kholil.

Karena sudah mepet, perjalanan silaturahmi ini berakhir menuju stasiun kereta api Cirebon. Kami mengantar Lora Usman dan Gus Miftah menuju stasiun karena kereta akan berangkat pukul 19.00 WIB. Sementara Lora Ismail sudah pulang terlebih dahulu pada Rabu malam dari stasiun Tasikmalaya.

Perjalanan dua cicit Syekhona Kholil Bangkalan ini ditemani oleh Ahmad Ginandjar Sya'ban, Mabda Dzikara, Abdul Majid dan Muhammad Harir dari Sanad Media.