Dalam perjalanan intelektual, seorang calon ulama harus giat dan sungguh-sungguh dalam belajar. Melalui berbagai jalan dan metode yang telah dipakai dari zaman ke zaman.

Jalan yang paling banyak dilalui adalah menghadiri majlis ulama secara terus-menerus dan diperkuat dengan  membaca kitab para ulama terdahulu. Kemudian menuliskan apa yang didapat dari kedua hal tersebut.

Dengan dua jalan ini para ulama terbentuk. Namun, ada orang-orang yang terpilih menjadi ulama dan intelektual muslim, tidak dengan jalan yang dilalui oleh para pendahulunya. Mereka diberi jalan khusus. Yaitu dengan mendengarkan dan hafalan yang kuat, karena mereka tidak diberikan kemampuan membaca dan menulis.

Dalam bahasa Arab, orang yang tidak bisa membaca dan menulis disebut dengan ummi. Dinamakan dengan nama tersebut karena dinisbatkan kepada ummi yang bermakna ibu. Sebab keadaan mereka dianggap masih sama ketika mereka baru dilahirkan oleh ibunya: tidak bisa membaca dan menulis.

Penisbatan ummi juga dilekatkan pada Nabi Muhammad, karena beliau juga tidak bisa membaca dan menulis sebagai bentuk mukjizat. Selain itu, agar orang Arab tidak mengira bahwa al-Qur'an merupakan karangan beliau, tapi murni firman Allah SWT.

Seorang penulis bernama Athiyyah Abu al-'Ila menulis sebuah buku yang berjudul 'Ulama al-Umiyyun. Dalam buku tersebut, beliau mengumpulkan ada 130 tokoh baik dari kalangan ulama maupun politikus yang tidak diberikan kemampuan membaca dan menulis, namun pengaruh mereka menembus berbagai kalangan.

Baca juga: Fenomena Ulama Muda, Definisi dan Siapa Saja Mereka?

Di antara ulama-ulama tersebut adalah:

Syekh Daud Al-Kabir bin Makhela

Disebutkan dalam kitab Lawafih al-Anwar karya Sidi Syekh Abdul Wahhab Sya'rani (W. 973 H) bahwa Syekh Daud merupakan guru Syekh Muhammad Wafa Asy-Syadzili. Beliau penasihat gubernur di Alexandria. Beliau memiliki isyarat khusus kepada gubernur akan orang yang harus dicurigai atau tidak.

Sidi Syekh Sya'rani kemudian menyebutkan bahwa beliau adalah seorang ummi  alias tidak bisa membaca dan menulis. Meskipun demikian, Syekh Daud memiliki kalam-kalam sufistik yang sarat makna.

Kalam-kalamnya disebutkan sangat banyak oleh Syekh Sya'rani dalam biografinya. Aantara lain:

إقبال القلب على الله حسنة يرجى أن لا يضر معها ذنب، و أعراض القلب عن الله سيئة لا يكاد ينفع معها حسنة

“Hati yang senantiasa terpaut kepada Allah merupakan kebaikan yang diharapkan tidak akan rusak dengan dosa apapun. Sedangkan hati yang berpaling dari Allah merupakan kesalahan yang hampir tidak bisa bermanfaat dengannya kebaikan apapun.”

Syekh Ali Al-Khawwas (W. 939 H)

Syekh Ali Al-Khawwas merupakan salah seorang wali besar di Mesir. Beliau guru Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani, yang kalam-kalam hikmahnya sering dinukil olehnya dalam  kitab-kitabnya.

Syekh Ali Al-Khawwas merupakan ulama yang tidak bisa membaca dan menulis. Keterangan ini dapat ditemukan dalam kitab Thabaqat karya imam Al-Munawi. Beliau menyebutnya “Seorang ummi yang terkenal di antara orang-orang khas dengan sebutan Al-Khawwas.”

Adanya Syekh Ali tidak bisa membaca dan menulis juga diperkuat dengan keterangan muridnya sendiri, Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani. Bbeliau berkata dalam kitab Lawafih, “Guruku, Syekh Ali merupakan sosok guru yang tidak bisa membaca dan menulis.”

Dalam kitab Lawafih, Imam Sya'rani menyebutkan banyak budi pekerti luhur yang beliau lihat dari sosok Syekh Ali Al-Khawwas. Antara lain: meskipun tidak bisa membaca dan menulis, beliau dapat berbicara tentang makna-makna dari al-Qur'an dan hadits dengan sangat rinci dan detail, bahkan ulama di zamannya dibuat takjub dan terheran-heran dengan keilmuannya.

Baca juga: Jangan Mudah Menuduh Munafik dan Pentingnya Belajar Sirah Nabi

Keilmuan Syekh Ali diakui oleh ulama zamannya, yaitu Syekh al-Futuhi. Beliau berkata, “Saya sudah berkhidmat dengan ilmu selama 70 tahun, dan saya tidak pernah sekalipun terlintas di otak saya ilmu-ilmu yang tertera pada kitab Al-Jawahir wa ad-Durar.”  Kitab al-Jawahir merupakan kitab yang ditulis oleh Syekh Sya'rani yang berisi pelajaran-pelajaran yang beliau dapat dari Syekh Ali.

Dengan tingginya ilmu yang dimiliki oleh Syekh Ali, kerendahan hati selalu melekat di hati beliau. Termasuk kebiasaan beliau adalah menyapu emperan masjid, dan mengisi tempat minum air anjing di pinggir jalan.

Syekh Syihabuddin Ahmad bin Abi Thalib (W. 730 H)

Dalam kitab ad-Durar al-Kaminah karya Ibnu Hajar Al-Asqolani, beliau dijuluki sebagai Musnid Dunya. Gelar ini adalah bentuk kehormatan bagi seorang ulama yang sudah menguasai sanad dari berbagai negara, dan mendalami ilmu hadits baik riwayah maupun dirayah.

Beliau pernah diundang ke Kairo untuk membacakan hadits. Menurut Imam Az-Zahabi, Syekh Ahmad bin Abi Thalib merupakan pemilik sanad yang tertinggi. Sebab pada zaman beliau, hanya beliaulah yang mendengar hadits dari Al-Husain az-Zabidi.

Beliau wafat di Damaskus pada tanggal 25 Safar tahun 730 H, pada umur 100 tahun lebih 7 minggu. Dimakamkan di samping Masjid al-Afram.

Syekh Sulaiman Al-Jamal Al-Mishri (W. 1204)

Beliau terkenal dengan karangan hasyiah (super-komentar) atas kitab Tafsir al-Jalalain, dan hasyiah atas kitab Syarah Al-Manhaj.

Ibnu Abdissalam menulis biografi beliau dalam kitab Rihlah al-Kubra. Beliau menyatakan bahwa Syekh Sulaiman Al-Jamal merupakan bentuk kuasa Allah yang terlihat nyata di depan mata.

Syekh Sulaiman Al-Jamal hidup di tengah lingkungan terpelajar, namun beliau tidak bisa membaca dan menulis. Kebiasaan beliau adalah mencari orang yang membacakan kepada beliau kitab yang ingin beliau pelajari.

Ketika kitab dibacakan, secara otomatis semua yang disebut langsung beliau hafal. Begitu juga ketika ingin mengajar, sebelum datang ke kelas, beliau meminta seseorang untuk membaca kitab-kitab yang diperlukan, kemudian beliau hafal, dan beliau sampaikan ke para muridnya.

Baca juga: Belajar Menghargai Waktu dari Para Ulama Terdahulu

Syekh Muhammad Wafa Asy-Syadzili (W. 765 H)

Beliau adalah murid dari Syekh Daud Al-Kabir yang disebutkan diatas. Beliau bernama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Muhammad. Bermazhab Maliki dan bertarekat Syadziliyah.

Dilahirkan dan besar di Alexandria, Mesir. Belajar dengan gurunya syekh Daud, kemudian pindah ke Kairo, tepatnya di daerah Raudhah di sisi sungai Nil.  Beliau dikenal sebagai penasehat, dan ucapannya memiliki pengaruh di hati para pendengar. Dalam salah satu riwayat dikatakan beliau tidak bisa membaca dan menulis.

Beliau memiliki banyak karangan tertulis yang masih berbentuk manuskrip dan belum tercetak. Karangan ini murni karya beliau yang didikte dan ditulis oleh muridnya. Antara lain; kitab Nafais al-'Irfan dan kitab Al-'Arus.

Syekh Abdul Wahab Asy-Sya'rani memiliki sebuah kitab yang berisi perjalanan dan biografi syekh Muhammad Wafa. Namun sependek pengetahuan penulis, kitab tersebut masih berbentuk manuskrip dan belum tercetak.

***

Itulah beberapa nama ulama yang tidak dianugerahkan kemampuan membaca dan menulis oleh Allah, namun ilmunya tersebar luas hingga saat ini.

Baca juga: Meneladani Keulamaan Imam Al-Bukhari

Ketidakmampuan mereka bukanlah sebuah aib, melainkan cabang dari mukjizat nabi Muhammad. Karena Nabi juga tidak bisa membaca dan menulis sebagai bentuk bukti bahwa al-Qur'an bukan tulisan beliau, melainkan murni dari Allah SWT.

Begitu juga para ulama yang tidak bisa membaca dan menulis. Mereka membuktikan bahwa ilmu dan pengetahuan merupakan murni anugerah dari Allah, dan manusia hanya berusaha untuk mendapatkannya sebagai bentuk ikhtiar, dan menjalani perintah Tuhan.

Sederet kisah ulama yang tidak bisa membaca dan menulis di atas bisa dibaca di kitab Al-ulama al-Ummiyun karya Athiyyah Abu al-'Ila yang dicetak di Dar Shalih Mesir.