Zina diartikan sebagai memasukkan kemaluan lelaki ke dalam kemaluan perempuan yang tidak halal baginya. Perbuatan ini adalah dosa. Semua orang mengetahuinya. Dalam bahasa lain disebut ma'lum min al-din bi al-dharurah.

Al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari merekam sebuah hadits di mana Rasulullah saw. menanyakan perihal zina kepada para sahabat. Mereka menjawab:

حرام حرمه الله ورسوله

“Zina itu haram, Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya.”

Setelah mendengar jawaban ini, Nabi bersabda:

لأن يزني الرجل بعشر نسوة أيسر عليه من أن يزني بامرأة جاره

“Berzina dengan sepuluh perempuan (yang bukan tetangganya) lebih ringan dosanya daripada berzina dengan seorang istri tetangga.”

Fadhlullah ash-Shamad salah satu syarah (komentar) dari kitab Al-Adab al-Mufrad, memaparkan kandungan hadits di atas sebagai berikut:

1. Dalam riwayat lain, redaksi yang dipakai bukanlah يزني, melainkan أن تزاني حليلة جارك. Hal ini bermakna bahwa perzinaan itu bukanlah paksaan dari lelaki saja melainkan suka sama suka.

2. Ancaman dosa besar ini tidaklah terbatas pada perbuatan zina saja melainkan mencakup pula merayu dan menghasut istri tetangga agar membenci kepada suaminya.

3. Dosa ini bernilai lebih besar dibanding zina dengan selain tetangga karena adanya kewajiban yang dilanggar, yaitu Al-Ihsan bi al-Jar atau berbuat baik kepada tetangga.

4. Kata tetangga di sini mencakup seluruh orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Dicontohkan seperti orang-orang yang sudah mempercayai kita, orang-orang yang menjadi bawahan kita; asuhan kita dan lain-lain.

5. Lelaki dan perempuan di sini sama, punya peluang untuk saling menggoda dan tergoda.

Masihkah rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput sendiri? Na'udzu billah min dzalik. Wallahu a’lam.