Home News Al-Azhar Jelaskan Hukum Haji Terbatas di Masa Pandemi

Al-Azhar Jelaskan Hukum Haji Terbatas di Masa Pandemi

Al-Azhar Fatwa Global Center seperti dikutip harian youm7.com pada Senin (22/6) merilis pernyataan resmi berisi pandangan hukum agama seputar penyelenggaraan haji di tengah pandemi Covid-19.

Fatwa Al-Azhar ini datang sebagai respon atas keputusan Kerajaan Arab Saudi tentang penyelenggaraan haji terbatas. Pernyataan resminya berbunyi sebagai berikut:

Apabila para dokter spesialis yang kompeten telah menetapkan bahwa kemungkinan besar tingginya angka penyebaran virus Covid-19 terjadi akibat kerumunan masa di berbagai negara, terlebih lagi ketika mereka datang dari berbagai penjuru dunia sebagaimana saat melaksanakan ibadah haji dan umrah, maka diperlukan perencanaan dan penertiban yang serius guna menghentikan rantai penyebaran virus dengan tetap menyelenggarakan ibadah haji namun dengan jumlah jamaah terbatas dan sedikit.

Jamaah dalam jumlah sedikit yang diizinkan menunaikan ibadah haji dalam kondisi wabah Covid-19 ini, dibatasi hanya untuk penduduk Kerajaan Arab Saudi. Hal itu karena dalil-dalil syariat mengharamkan adanya perpindahan penyakit dari satu daerah ke daerah lain, dan juga dalam rangka melindungi nyawa orang banyak dari kemudharatan (ancaman kematian).

Pasalnya, menjaga nyawa manusia termasuk salah satu maksud dan tujuan utama syariat Islam,  sebagaimana firman Allah swt.,“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195)

Banyak sekali hadits Nabi saw. yang mendukung hal ini. Di antaranya sebagai berikut:

–  Rasulullah saw. bersabda,  “Sesungguhnya wabah taun adalah suatu peringatan Allah yang ditimpakan kepada kaum sebelum kalian, atau kepada Bani Israil. Maka dari itu jika wabah itu menjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah kamu keluar lari darinya, dan bila wabah itu menjangkiti suatu negeri, maka janganlah kamu memasuki negeri itu.” (Muttafaq Alaih)

Rasulullah saw. sangat melarang seseorang memasuki suatu daerah yang tengah dilanda wabah penyakit menular dan juga melarang keluar dari daerah tersebut (bila sudah berada di sana). Makna hadits ini menunjukkan keharusan karantina diri sebagaimana yang diputuskan dan dikampanyekan oleh ilmu kedokteran modern saat ini, setelah diketahui banyak orang terjangkit penyakit menular Covid-19.

– Rasulullah saw. juga bersabda: “Janganlah orang yang sakit dicampur dengan orang yang sehat.” (HR. Al-Bukhari)

– Beliau juga bersabda: “Larilah kamu dari orang yang berpenyakit kusta, layaknya kamu lari dari singa.” (HR. Al-Bukhari)

Apabila interaksi sosial menjadi salah satu sebab penularan suatu penyakit, tentu semua itu sudah sesuai dengan takdir dan kehendak Allah swt. Namun kita wajib menghindari sebab itu. Itulah mengapa ketika melihat seorang perempuan yang terkena penyakit menular sedang melakukan tawaf di Baitullah bersama orang banyak, sahabat Umar ra. berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, janganlah kamu menularkan penyakit kepada manusia. Seandainya kamu duduk diam di rumah, itu lebih bagi bagimu.” Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa`.

Sebagaimana Umar ra. juga pernah melarang seorang penderita kusta untuk masuk ke dalam masjid, padahal dia pernah mengikuti dua perang (jihad).  Para sahabat tidak ada yang memprotes dan mengingkari sikap Umar, sehingga hal ini kemudian dianggap sebagai ijmak (konsensus).

Pembatasan jamaah haji untuk mencegah penyebaran wabah virus Covid-19 yang diputuskan oleh otoritas Kerajaan Arab Saudi, sudah sesuai dengan berbagai kaidah hukum syariat. Di antaranya kaedah yang berbunyi,

إن تصرفات الإمام في أمور الراعية منوطة بالمصلحة

“Semua kebijakan imam yang berkaitan dengan urusan rakyat harus berasaskan kemaslahatan.”

Dan juga sesuai kaedah yang berbunyi,

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Menolak kerusakan didahulukan di atas mendatangkan kemaslahatan.”

إذا تعارضت مصلحتان حصلت العليا منها

“Dan jika bertemu dua kemaslahatan yang saling bertentangan, maka yang dimenangkan adalah kemaslahatan yang lebih besar.”

Dirujuk dari kitab Al-Asybâh wa an-Nazhâ`ir, karya Ibnu Najim, hlm. 90.

Semoga Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa segera mengangkat wabah ini dari kita dan dunia, dan semoga Allah swt. melindungi negara kita dari segala yang buruk, serta tidak mengharamkan kita dari berkunjung ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sebagai jamaah haji dan umrah. Sesungguhnya Allah Maha Suci lagi Maha Mengetahui.

Arif Khoiruddin
Arif Khoiruddin, Lc., lulusan Universitas Al-Azhar Mesir. Pengajar di Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan. Tinggal di Pati. Penggila Real Madrid.

Must Read

Sejumlah Masjid di Belanda Didanai Kelompok Fundamentalis

Komite Parlemen Belanda memperingatkan adanya beberapa masjid yang didanai asing. Pendanaan ini dicurigai untuk mempromosikan Islam garis keras, menurut laporan India Blooms...

Dosakah Orang Mampu Tidak Berkurban?

Harian elbalad.news pada Senin (6/7) membagikan beberapa fatwa dan hukum keagamaan yang bersumber dari lembaga keagamaan resmi Mesir. Salah satu persoalan yang...

Biografi Ibnu Daqiq al-Ied

Beliau dijuluki Ibnu Daqīq al-Īed sama seperti ayahnya. Julukannya bermula ketika kakeknya yang mana pada saat hari raya mengenakan jubah putih.

9 Pesan Al-Azhar untuk Atasi Pelecehan Seksual

Al-Azhar Fatwa Global Center menegaskan bahwa sexual harrasement atau pelecehan seksual adalah tindakan agresif yang bertentangan dengan semua nilai agama dan kemanusiaan,...

Syekh Ali Jum’ah: Apa yang Harus Suami Lakukan, Jika Istrinya Belum Bisa Shalat?

Seorang suami yang tengah bingung dengan apa yang terjadi pada pasangannya, menanyakan sesuatu pada Maulana Syekh Ali Jum'ah hafizhahullah dalam sebuah majelis....