Home Buku Al-Iqtishār: Kitab Fikih Syi’ah yang Pernah Diajarkan di Al-Azhar

Al-Iqtishār: Kitab Fikih Syi’ah yang Pernah Diajarkan di Al-Azhar

Sebelum menjadi mercusuar keilmuan mazhab Sunni, universitas Al-Azhar dikenal dalam catatan sejarah sebagai “kampus” yang dibangun oleh kelompok Syi’ah Ismailiyah. Tidak lama setelah pasukan al-Mu’iz li Dinillah tiba di Mesir dan menggeser kekuasaan Bani Ikhsyid pada tahun 969 M, mereka membangun masjid agung di kawasan Kairo sekarang pada April 970 M.

Masjid ini selesai dibangun dan langsung digunakan untuk shalat pada bulan Ramadhan tahun 972 M. Bermula dari tempat shalat, masjid yang nantinya diberi nama Al-Azhar itu juga berfungsi sebagai halakah keilmuan pada tahun 976 M, dan terus berkembang menjadi semacam pusat keadaban Islam terbesar yang menyaingi Baitul Hikmah di Bagdad, pada tahun 988 M.

Sebagai pembawa mazhab Syiah Ismailiyah, para penguasa Dinasti Fatimiyah memakai masjid Al-Azhar dan kampusnya untuk menyebarkan dan mengajarkan paham kebatinan Ismailiyah dan yurisprudensi Islam warisan ahlul bait. Hal serupa juga nantinya dilakukan oleh penerus Fatimiyah di Mesir, yaitu dinasti Ayubiyah yang menghapus mazhab Ismailiyah dan menggantinya dengan mazhab Sunni-Syafi’i dengan mendirikan madrasah-madrasah berhaluan fikih Syafi’iyah.

Sejak awal sekali, metode pembelajaran di Al-Azhar yang disponsori oleh para penguasa Fatimiyah berbentuk halakah dan ruwaq, mengikuti formula pembelajaran tradisional yang memang sudah berkembang sebelumnya.

Di masjid Al-Azhar, pembelajaran disampaikan oleh para guru melalui forum berbentuk lingkaran (halakah) yang diadakan di tiap sudut (ruwaq) yang ada di masjid. Materi pembelajaran kebanyakan berpusat kepada doktrinasi mazhab Ismailiyah dan fikih ahlul bait, meskipun tidak menutup ilmu-ilmu keislaman lainnya secara umum, utamanya bahasa, ilmu kalam, filsafat, hadis, tafsir, dan lain sebagainya.

Salah satu buku yang paling pertama diajarkan di kampus Al-Azhar adalah kitab al-Iqtishar, sebuah buku yang berisi penjelasan fikih mazhab ahlul bait yang ditulis oleh kadi Fatimiyah, yaitu Abu Hanifah an-Nu’man bin Muhammad al-Qairawani atau dikenal dengan sebutan “Ibnu Hayyun.” Buku tersebut nantinya diajarkan di al-Azhar oleh puteranya yang bernama Abu al-Husain Ali bin an-Nu’man.

Al-Iqtishar terbilang buku fikih Syi’ah yang sederhana. Penulisnya langsung memaparkan beberapa ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku baik dalam hal ibadah maupun lainnya. Dari buku ini juga diketahui bahwa adzan dalam mazhab Ismailiyah ditambahkan kalimat “Hayya ala khairil amal” (Mari kita melakukan kebajikan) di samping “hayya ‘alasholah” dan “hayya alal falah.” Nantinya, kalimat tersebut dihapus oleh sultan Salahuddin al-Ayyubi saat dia mengambil alih Mesir dari kekuasaan Fatimiyah, sebagaimana yang tertera dalam Niyahah al-Arab fi Funun al-Adab karya an-Nuwairi.

Di bagian pertama buku ini, yang fokus membahas shalat, zakat, puasa, haji, dan jihad, tidak ditemukan pendapat-pendapat yang berbeda terlalu jauh dari tradisi fikih Sunni, bahkan beberapa aturannya menyamai fikih Syafi’i, seperti membaca basmalah secara keras pada shalat-shalat jahriyah (Maghrib, Isya, dan Subuh).

Di bagian kedua, yang membahas urusan-urusan mu’amalah seperti akad jual beli, masalah makanan, minuman, dan bahkan sampai pernikahan, hampir tidak jauh berbeda dengan ulasan-ulasan fikih yang terdapat pada kitab-kitab fikih lainnya. Dalam bab nikah, kitab ini bahkan tidak menyinggung pembahasan mengenai nikah Mut’ah, tradisi pernikahan tertentu yang kerap disematkan kepada kelompok Syi’ah.

Kitab al-Iqtishar adalah buku pertama yang diajarkan di Al-Azhar sekaligus menjadi saksi berkembangnya kajian-kajian fikih lintas mazhab di sudut-sudut masjid tua itu, menandakan prinsip keterbukaan Al-Azhar sudah tertanam kuat dalam abad-abad pertama pendiriannya. Karena meskipun iklim pembelajaran Al-Azhar masa Fatimiyah didominasi dengan doktrinasi mazhab yang bersifat sektarian, namun suasana keterbukaan tetap menjadi salah satu ciri paling dasarian dari Al-Azhar.

Pintu pengajian Al-Azhar selalu terbuka bagi siapa saja yang berasal dari lintas mazhab dan tradisi keagamaan yang berbeda. Banyak khalifah Fatimiyah yang bersikap terbuka terhadap mazhab di luar Ismailiyah.

Fakta ini pernah digambarkan oleh sejarawan Tunisia, Ibnu Khaldun, dalam Kitab al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada wa al-Khabar, yang mencatat sekelumit gambaran kehidupan keagamaan di wilayah Maghrib saat orang-orang Fatimiyah berkuasa di sana.

“Ada orang-orang yang takbirnya lima kali dalam shalat jenazah, tetapi yang takbirnya empat kali tidak melarang mereka yang lima kali. Ada orang mengucapkan hayya ala khairil amal dalam azan dan mereka tidak mengganggu orang lain yang tidak mengucapkannya dalam azan,” tulis Ibn Khaldun.

Seiring dengan paripuna Dinasti Fatihimiyah, dan Al-Azhar berganti haluan Sunni, kitab fikih Syi’ah ini sudah tidak diajarkan lagi di Al-Azhar.

Ade Gumilar
Ade Gumilar
Alumni Mahasiswa Al-Azhar Mesir. Melanjutkan S2 di Universitas Indonesia konsentrasi Kajian Timur Tengah. Sekarang menjadi dosen sejarah peradaban Islam IAIN Syekh Gunung Djati Cirebon

Must Read

Hikmah dan Manfaat Melestarikan Petilasan Orang Shaleh

Dekat masjid Imam Ibnu Atha’ as-Sakandari di daerah pegunungan Muqattam Mesir terdapat petilasan dengan ukuran + 2 meter persegi berbentuk ruang...

Fazlun Khalid Sang Pionir Fikih Lingkungan, Tinggalkan Zona Nyaman demi Islamekologi

Anda meyakini sepenuhnya bahwa agama Anda, Islam, peduli dan turut membantu menjaga kelestarian lingkungan. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini? Apakah Al-Quran menginstruksikan...

Palestina Marah karena Amerika Dukung Klaim Israel atas Yerusalem

Sejumlah pemimpin Palestina marah atas pernyataan Presiden Amerika Serikat Joe Biden karena mendukung klaim Israel atas kota suci Yerusalem al-Quds.

Kisah Mengharukan Keadilan Rasulullah Membela Orang Yahudi

Di antara kisah keadilan Rasulullah yang masyhur dan mengharukan adalah keberpihakannya kepada seorang Yahudi Madinah ketika dituduh mencuri. Meski yang menuduhnya adalah...