Home Artikel Dakwah Itu Mengajak Bukan Saling Mencaci

Dakwah Itu Mengajak Bukan Saling Mencaci

Rasulullah diutus dengan membawa misi dan visi yang harus disampaikan kepada umat manusia. Selain mengajarkan manusia untuk mengesakan Allah, Rasulullah diberi tugas untuk memperbaiki perilaku dan budi pekerti manusia.

Soal budi pekerti, Rasulullah memperbaiki dari berbagai aspek. Mulai dari berinteraksi dalam masyarakat, bergaul dengan sesama teman, dan yang terpenting adalah menjaga sikap diri sendiri.

Dalam menjaga sikap, ada hal terpenting yang banyak orang lupakan di zaman modern ini; yaitu menjaga ucapan. Hal tersebut merupakan koridor yang sering diterobos oleh pengguna media sosial.

Tulisan merupakan salah satu dari dua lisan, begitu kata seorang yang bijak. Berbagai macam ujaran kebencian dan kata-kata kotor banyak menghiasi dinding-dinding media. Semuanya berawal perbedaan pendapat, atau hal-hal sepele lainnya yang dapat diatasi dengan singkat tanpa harus saling mencaci.

Rasulullah bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليسكت

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq ‘Alaih)

Jika diperhatikan seksama, dalam hadits tersebut, Rasulullah menjadikan bukti dari kesempurnaan iman seorang hamba ada pada ucapannya yang baik, jika ia tidak mampu berucap yang baik, maka pilihan yang lain hanyalah diam.

Baca juga: Memahami Fitrah Beragama dalam Berakidah

Dan apabila seseorang sudah tidak bisa menjaga ucapannya, maka ia akan terjatuh kepada lubang-lubang kebinasaan. Di antara yang terbesar pengaruhnya adalah mencaci, karena mencaci berkaitan dengan harga diri orang lain.

Mencaci adalah sikap buruk yang sangat mempengaruhi hubungan seseorang. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa mencaci merupakan kefasikan, meskipun cacian ditujukan untuk orang yang mencaci.

Seorang sahabat yang bernama ‘Iyadh bin Hammar pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki dari kaumku yang mencaci diriku, sedangkan derajatnya lebih rendah dariku, apakah ada kebolehan untuk ku membalasnya?”

Rasulullah menjawab,

المتسبان شيطانان يتعاويان و يتهارجان

“Dua orang yang saling mencaci merupakan bentuk dari dua setan yang sedang saling menggonggong dan saling menyerang.” (HR. Abu Daud)

Dalam hadits tersebut, dipahami bahwa membalas mencaci bukanlah solusi yang baik dalam menyelesaikan permasalahan. Niat ingin hidup damai, justru akan makin kacau jika memutuskan cacian sebagai solusi.

Ketika dicaci oleh orang lain, maka solusi terbaik bukanlah balik mencaci. Tindakan yang tepat adalah diam. Rasulullah bersabda, “Barang siapa diam, maka ia akan selamat.”

Dalam hal ini, Imam Asy-Syafi’i pernah menuliskan bait-bait syiir:

قالوا سكت و قد خوصمت قلت لهم # ان الجواب لباب الشر مفتاح

Mereka terheran dan bertanya, “Kenapa kamu diam, sedangkan kamu telah didebat dan dicaci?” Imam Asy-Syafi’i menjawab, “Karena menjawab merupakan kunci untuk membuka pintu keburukan.”

و الصمت عن جاهل أو أحمق شرف # و فيه أيضا لصون العرض إصلاح

Imam Asy-Syafi’i melanjutkan, “Biam dari orang bodoh adalah sebuah kemuliaan, dengan diam maka harga diri akan terjaga.”

أما ترى الاسود تخشى و هي صامتة # و الكلب يلعب و هو لعمري نباح

“Apakah kamu tidak melihat singa yang ditakuti padahal ia hanya terdiam, sedangkan anjing selalu dipermainkan padahal ia selalu menggonggong?!”

Baca juga: Pandangan Badiuzzaman Said An-Nursi tentang Tasawuf

Agar penyakit saling mencaci ini dapat diberantas, maka solusi yang terbaik adalah mengubah ruang lingkup pertemanan. Karena sebab lidah sering melontarkan cacian adalah pengaruh teman sepergaulan.

Imam Al-Ghazali (w. 505 H) menerangkan dalam kitab Ihya Ulumiddin jilid 3 hal 168:

و الباعث على الفحش إما قصد الايذاء و إما الاعتياد الحاصل من مخالفة الفستق و أهل الخبث و اللؤم و من عاداتهم السب

Hal yang mendorong seseorang untuk mencaci adalah hanya bertujuan untuk menyakiti, atau kebiasaan yang didapat dari seringnya berkumpul dengan orang fasiq dan orang yang buruk perilakunya, yang mana salah satu kebiasaan mereka adalah mencaci maki.

Alhasil, sebagai seorang yang beriman dan mencintai Rasulullah, alangkah baiknya jika kita ikut serta dalam medan dakwah.

Berdakwah tidak mesti ceramah, tidak juga baca kitab, berdakwah dapat dilakukan dengan sebatas tidak mencaci, karena dengannya Islam akan terus dipandang sebagai agama yang damai.

Fahrizal Fadil
Fahrizal Fadilhttps://sanadmedia.com
Mahasiswa Indonesia di Mesir, asal dari Aceh. Saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Fakultas Bahasa dan Sastra Arab. Aktif menulis di Pena Azhary. Suka kopi dan diskusi kitab-kitab turats.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Zain Al-Wadud Syarah Nazham Al-Maqshud Karya Santri Sarang yang Kuliah di Al-Azhar

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang digunakan oleh jutaan umat manusia. Bahkan dijadikan sebagai bahasa resmi di beberapa negara, terutama negara...

Hukum Melewati Orang Shalat dan Pandangan Ulama Tentang Sutrah

Tidak jarang ketika seseorang menunaikan shalat baik sendiri atau berjamaah, tiba-tiba ada orang melintas di depannya. Bisa jadi orang yang berjalan tadi...

Kisah Nabi Adam Saat Pertama Kali Turun ke Bumi

Menurut Imam Ibnu Abbas, Nabi Adam dan Hawa berada di surga selama setengah hari saja, menurut hitungan akhirat. Kalau menurut hitungan dunia...

Mengenal Istilah Amrad dalam Fikih dan Hukum Melihatnya

Para ulama fikih memiliki kaidah-kaidah universal yang menjadi patokan mereka dalam menetapkan sebuah hukum. Salah satunya: Adh-Dhararu Yuzalu, "marabahaya harus dihilangkan".

Kisah Cinta Abdullah bin Salam dan Akhlak Mulia Cucu Rasulullah, Husain bin Ali

Yazid bin Muawiyah mendengar kabar kecantikan Zainab binti Ishaq, istri Abdullah bin Salam al-Qurasyi. Zainab merupakan sosok perempuan paling cantik, paling berakhlak,...