Home Buku Mengapa Maroko Bermazhab Maliki?

Mengapa Maroko Bermazhab Maliki?

0
49
maroko bermazhab maliki
maroko bermazhab maliki

Allah SWT telah memberi nikmat agama Islam pada Maroko sejak awal pertengahan abad hijriah. Negeri seribu benteng itu mengalami penaklukan sebanyak tiga kali oleh tiga panglima. Mereka adalah Uqbah bin Nafi’(62 H) pada masa Khalifah Yazid bin Muawiyah; Musa bin Nashir (87 H) pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan; dan Maulay Idris bin Abdullah bin Hasan II (172 H).

Pada masa kepemimpinan Maulay Idris bin Abdullah bin Hasan II, Maroko memiliki hukum perundang-undangan serta dianggap sebagai negara dengan keamanan yang sudah stabil. Terbentuklah dinasti pertama di Maroko yang resmi secara konstitusional. Dinasti Idrisiyah namanya.

Sedari awal memeluk agama Islam, masyarakat Maroko telah mengikuti ajaran-ajaran para ulama salaf dalam bermazhab baik secara ushul dan furu’ maupun dalam hal keyakinan dan syariat. Seperti mazhab Imam Abu Hanifah, mazhab Imam Awza’i dan selainnya hingga mengikuti mazhab Imam Malik.

Semenjak Dinasti Idrisiyah berkuasa, mazhab Maliki memiliki pengaruh yang sangat besar bagi penduduk Maroko dalam bermazhab. Bahkan Maulay Idris bin Abdullah bin Hasan II menjadikannya sebagai mazhab resmi negara.

Para sejarahwan seperti Syekh An-Nashiri dalam kitabnya Al-Istiqsha’ menulis,

والمعروف أن مذهب مالك ظهر أولا باللأندلس ثم انتقل منها إلى المغرب الأقصى أيام الأدارسة

“Dan sudah masyhur bahwa mazhab Imam Malik muncul pertama kali di Andalus kemudian berpindah ke Maghrib Al-Aqsha (Maroko) pada zaman Dinasti Idrisiyah.”

Lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa penduduk Maroko berpegang teguh pada mazhab Imam Malik sejak zaman Dinasti Idrisiyah hingga sekarang?

Baca juga: Tradisi Masyarakat Maroko Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

Syekh Dr. Ahmad Rougi, mantan rektor Universitas Qarawiyyin mengarang kitab berjudul “Al-Maghribu Malikiyyun Limadza?”. Di dalam buku itu, beliau menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan Maroko menjadikan mazhab Maliki sebagai mazhab resmi negara.

Kitab karangan Syekh Ahmad Roughi yang berjudul Al-Maghribu Malikiyyun, Limadza?

Beliau menjelaskan bahwa faktor-faktor tersebut muncul dari sosok kepribadian Imam Malik sendiri yang memiliki kredibilitas yang mumpuni dalam bidang keilmuan, patut ditiru dan dijadikan landasan beragama.

Syekh Ahmad Rougi memberikan perincian mengenai keunggulan serta karakteristik Imam Malik daripada imam-imam mazhab lainnya hingga akhirnya dijadikan rujukan berfikih oleh penduduk Maroko. Ada beberapa point yang beliau sebutkan mengenai hal tersebut.

Pertama: Kealiman dan Kefakihan Imam Malik

Imam Malik terkenal memiliki keistimewaan tersendiri. Beliau merupakan orang yang sangat alim dan paham ilmu fikih pada zamannya. Selain itu, ilmu yang dimilikinya banyak dijadikan bahan rujukan oleh para ulama semasanya.

“Sosok Imam Malik merupakan qudwah hasanah dalam menjalankan sunnah-sunnah Nabi. Beliau orang pertama yang mengarang sebuah kitab yang disusun dengan beberapa bagian bab yang kemudian dijadikan rujukan oleh para imam dan ulama,” kata Qadhi Iyyad.

Pengakuan yang sama datang dari muridnya, Imam Asy-Syafi’i. Beliau berkata,

مالك أستاذي، وعنه أخذت العلم  وما أحد أمن علي من مالك، وجعلت مالكا حجة بيني وبين الله، وإذا ذكر العلماء فمالك النجم الثاقب ولم يبلغ أحد مبلغ مالك في العلم لحفظه وإتقانه وصيانته

“Imam Malik adalah ustadzku. Dari beliau aku menimba ilmu. Tidak ada seorang pun yang lebih aku percayai daripada beliau. Aku jadikan Imam Malik sebagai hujah antara diriku dan Allah SWT. Ketika disebutkan nama para ulama, maka Imam Malik adalah bintang kejoranya, dan tidak ada seorang pun yang kredibilitas keilmuannya mengungguli Imam Malik karena beliau sangat kuat hafalannya dan bersungguh-sungguh dalam menghormati ilmu.”

Kedua: Orang Paling Bertakwa dan Wirai pada Zamannya

Selain kealimannya yang mumpuni, Imam Malik juga memiliki sifat wirai dan takwa kepada Allah SWT. Kedua sifat itu baik dalam keadaan terang-terangan maupun sepi membuahkan ilmu yang bermanfaat.

Allah SWT berfirman,

إنما يخشى الله من عباده العلماء

“Sungguh yang benar-benar takut kepada Allah SWT hanyalah para ulama.”

Satu riwayat dari Abu Mus’ab menceritakan ketika suatu hari Imam Malik sedang shalat, beliau memperpanjang waktu rukuk dan sujud, seakan-akan seperti kayu kering yang tidak bergerak sedikit pun. Dan ketika dipukul oleh seseorang di dalam shalat, beliau tidak terusik sama sekali. Beliau justru menanggapi, “Tidaklah sepatutnya seorang hamba beribadah kepada Allah SWT kecuali dengan menyempurnakannya.”

Baca juga: Bersyafi’i di Negeri Maliki

Ketiga: Menyebarluasnya Ilmu Penduduk Madinah

Setelah wafat Rasulullah SAW, banyak peninggalan yang bernilai positif dan mengubah pola hidup penduduk Madinah. Di antaranya adalah dalam hal amaliah sehari-hari yang dilakukan oleh beliau, nasehat, kisah perjuangan, ilmu yang diajarkan kepada para sahabat, dan lain-lain. Hal tersebut akhirnya menjadi sebuah warisan serta rutinitas yang tetap dilakukan oleh penduduk Madinah sejak zaman sahabat, tabi’in, dan seterusnya.

Hingga tiba era Imam Malik yang kemudian berinisiatif untuk melakukan ijtihad sendiri dan merumuskan beberapa disiplin ilmu seperti ushul fiqih. Kemampuannya berijtihad tidak lain adalah karena beliau banyak mewarisi ilmu-ilmu nabi dan para sahabat sehingga kredibilitas keilmuannya tidak diragukan.

Bukti Imam Malik banyak mewarisi ilmu dari para sahabat, telah disampaikan oleh Ali bin Al-Madini. Beliau berkata, “Ada 21 sahabat yang mengikuti pendapat dan pemikiran Zaid bin Tsabit, dan di antara ilmu yang mereka dapat telah diwaris oleh 3 orang: Ibnu Syihab, Bakir bin Abdullah, dan Ibnu Zinad. Kemudian ilmu yang mereka bertiga peroleh tersebut telah diwaris oleh Malik bin Anas.”

Pernyataan Ali bin Al-Madini ini menunjukkan bahwa sanad keilmuan Imam Malik memiliki status Sanad ‘Ali ( sanad yang luhur) sehingga dijadikan rujukan oleh penduduk Madinah pada saat itu. Hamid bin Al-Aswad mengatakan, “Penduduk Madinah bertaqlid kepada qaul (pendapat) Imam Malik sejak sepeninggal Zaid bin Tsabit.”

Keempat: Para Pengikutnya Menghindari Bid’ah

Di antara riwayat yang terdapat dalam manaqib Imam Malik, tidak ditemukan satu pun riwayat yang menegaskan bahwa pengikut dan murid-murid beliau berujung pada kesesatan dan ahli bid’ah.

Imam Ar-Ra’i memaparkan pujian-pujiannya kepada Imam Malik mengenai hal tersebut. “Sungguh Imam Malik memiliki keistimewaan tersendiri, mazhab yang dibawanya tidak ada unsur bid’ah sama sekali. Penduduk negara sebelah barat yang mayoritas bermazhab Maliki tidak ada yang terjerumus dalam aliran Khawarij seorang pun.”

Hal ini juga menjadi pertimbangan penduduk Maroko untuk bertaqlid kepada mazhab Maliki.

Baca juga: Imam Asy-Syadzili, Perekam Jejak Sang Guru Maulaya Abdussalam Bin Masyisy

Kelima: Kemoderatan dan Sikap Adil Mazhab Maliki

Selain keunggulan yang telah disebutkan di atas, Imam Malik juga dikenal adil, bijak, dan selalu memberikan jalan tengah dalam memutuskan suatu permasalahan hukum. Di beberapa riwayat disebutkan bahwa sikap bijak beliau adalah ketika memberi jalan tengah di antara dua pendapat hukum yang saling bertentangan dalam  suatu mazhab.

Contoh sederhana ada dalam permasalahan ibadah. Ketika Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Thalaq bin Ali dengan redaksi,

هل هو  إلا بضعة منك

“Tidakkah dzakar juga termasuk bagian anggota darimu?”

Sedangkan di sisi lain Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa menyentuh kemaluan itu membatalkan wudhu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bisrah binti Sofwan,

من مس ذكره فليتوضأ

“Barang siapa menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu.”

Menanggapi hal ini, Imam Malik memberikan keputusan hukum dengan mengambil jalan tengah. Dengan menggabungkan dua dalil, beliau menyimpulkan bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu jika muncul syahwat dan tidak membatalkan wudhu jika tidak disertai syahwat.

Adapun contoh dalam hal muamalat, lebih tepatnya dalam masalah jual beli, adalah ketika Imam Abu Hanifah dan Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa masa khiyar syarat berlaku selama 3 hari. Sedangkan menurut Imam Ahmad, khiyar syarat tidak memiliki batasan waktu tertentu.

Menanggapi perbedaan pendapat seperti ini, Imam Malik berusaha merumuskan untuk mengambil jalan tengah dari perbedaan pendapat yang ada. Hasil dari ijtihadnya  menyimpulkan bahwa khiyar sarat dalam jual beli memilki temponya masing-masing, tergantung dari barang yang dibeli.

Beliau membagi masa berlaku khiyar syarat menjadi beberapa golongan. Masa khiyar jual beli makanan adalah sehari; masa khiyar barang yang diperdagangkan berlaku selama satu minggu, dan masa khiyar untuk jual beli tanah selama satu bulan.

Masih banyak lagi contoh mengenai hal-hal yang menunjukkan keadilan dan kebijakan Imam Malik dalam menentukan sebuah hukum. Selain itu, lain juga masih banyak faktor alasan yang mendorong penduduk Maroko memutuskan untuk bermazhab Maliki. Wallahu a’lam.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here