Home Buku Nailun Nabilah: Usaha Memuliakan Ilmu Qiraat

Nailun Nabilah: Usaha Memuliakan Ilmu Qiraat

Qiraat Mutawatirah bukanlah hasil ijtihad seseorang, ia adalah wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW dari Allah melalui perantara Jibril, lalu dibacakannya kepada  para sahabat-sahabat beliau.

Lalu oleh para sahabat beliau, bacaan itu diajarkan kepada para tabi’in melalui talaqqi dan musyafahah yang pada akhirnya diterima oleh para imam muqri’.

Mereka inilah yang kemudian meletakkan dasar-dasar bacaan dan kaidah-kaidahnya berdasarkan apa yang telah mereka terima dari para tabi’in guru-guru mereka. Oleh karenanya bacaan-bacaan ini lalu dinisbatkan kepada mereka.

Qiraat-qiraat Al-Qur’an sejak lama telah mendapatkan porsi perhatian yang besar dari para ulama. Bermacam-macam usaha mereka dalam mengkaji dan melestarikan bacaan-bacaan ini. Mereka menyusun berbagai kitab yang memuat tata cara bacaan qiraat-qiraat tersebut baik dengan metode al-Jam’i (penggabungan) ataupun at-Tafridi (satu persatu) yang memuat karakteristik masing-masing bacaan dan cara membacanya.

Di antara tokoh penting ulama yang menyusun kitab tentang qiraat adalah Imam Abu al-Qasim asy- Syathibi. Beliau menyusun bait-bait nadzam tentang qiraat mutawatirah berjumlah 1173 bait yang beliau beri judul حرز الأماني ووجه التهاني.

Bait-bait nadzam ini termasuk nadzam terbaik yang menyajikan ilmu Qiraat. Ia sangat terkenal, tersebar dan diterima di berbagai masa dan penjuru dunia.

Para ulama menganggap nadzam ini sangat penting dan menjadikannya rujukan utama dalam kajian qiraat. Tak jarang para syekh al-muqri’ merekomendasikan nadzam ini untuk dihafalkan para murid dan santrinya.

Baca juga: Sayyid Ahmad Zaini Dahlan: Ahlul Bait Maha Guru Ulama Nusantara

Usaha para ulama untuk menjelaskan nadzam ini juga tampak dalam syarah-syarah yang mereka tulis. Tidak kurang dari 60 syarah telah ditulis oleh para ulama dalam rangka menjelaskan bait-bait nadzam ini. Sebagian ulama yang lain menyendirikan masing-masing bacaan dari para imam yang diambilkan dari bait-bait ini.

Singkatnya nadzam ini telah menjadi dasar-dasar utama yang dijadikan pegangan dan sandaran oleh para ulama dalam mempelajari qiraat.

Dan di antara sebagian ulama yang juga mengkaji bait-bait nadzam ini dan berusaha menyimpulkan sebagian isinya adalah Ustadz Dana Ahmad Dahlan yang telah bersusah payah menyendirikan dari bait-bait nadzam as Syathibiyyah ini, bacaan Imam Ashim riwayat Syu’bah. Yang biasa kita baca selama ini adalah riwayat Hafsh.

Alumni Al-Azhar itu mengumpulkan bacaan Imam Ashim riwayat Syu’bah menjadi satu kitab khusus sesuai urutan ayat dalam mushaf, yang ia beri nama “نيل النبيلة في تيسير رواية الإمام شعبة”.

Sebagaimana diisyaratkan oleh judulnya, kitab ini ditulis untuk memudahkan para pelajar ilmu Qiraat mengetahui letak-letak perbedaan bacaan, khususnya perbedaan antara bacaan riwayat Hafsh dan riwayat Syu’bah.

Di awal kitab ini penulis juga menyajikan dasar-dasar dan kaidah bacaan riwayat Syu’bah.

Meskipun pelajar qiraat harus belajar secara talaqqi kepada seorang guru dan mempelajari bacaan secara langsung dari gurunya, keberadaan kitab ini dalam proses belajar tadi tetap akan sangat membantu pelajar dalam menguasai qiraat-qiraat ‘asyr mutawatirah, khususnya yang dijelaskan dalam nadzam Imam Syathibi.

Baca juga: Umm Kulsum, Pelantun Quran yang Sukses Jadi Musisi Besar

Mulai banyaknya pelajar-pelajar Indonesia yang belajar secara langsung (talaqqi) dari Masyayikh Qurra’ di Timur Tengah yang bersanad. Lalu mereka menulis beberapa kitab yang memudahkan belajar qiraat dengan menggunakan bahasa Arab.

Keberadaan mereka menumbuhkan keyakinan bahwa regenerasi masyayikh qiraat tetap berlangsung di negeri ini. Beberapa tahun yang akan datang, Insya Allah Indonesia akan menjadi salah satu kiblat kajian ilmu Qiraat dan salah satu negara persemaian ulama-ulama qiraat internasional.

Saya semakin yakin ketika saya membaca di atas judul kitab ini, tulisan “Silsilah Taysir al-Qiraat al-’Asyr (1)”. Angka 1 menunjukkan bahwa ini bukan kitab terakhir muallif (penulis).

Semoga Allah memudahkan muallif kitab ini untuk melanjutkan menulis tentang qiraat-qiraat yang lain. Dan semoga kajian qiraat mutawatirah semakin semarak di Indonesia dalam rangka melestarikan jerih payah para ulama Al-Qur’an yang telah mendahului kita dengan pengabdian tulus mereka untuk negeri tercinta.

Jombang, 2 Robius Tsani 1442/ 17 November 2020

Afifudin Dimyathi
Afifudin Dimyathihttps://sanadmedia.com
Nama lengkapnya Dr. KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi, Lc., MA. Menyelesaikan jenjang sarjana di Universitas Al-Azhar Mesir, dan jenjang magister serta doktoral di Sudan. Kini mengasuh Pondok Tahfidzul Quran, Hidayatul Quran, Darul Ulum, Peterongan, Jombang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Hikmah dan Manfaat Melestarikan Petilasan Orang Shaleh

Dekat masjid Imam Ibnu Atha’ as-Sakandari di daerah pegunungan Muqattam Mesir terdapat petilasan dengan ukuran + 2 meter persegi berbentuk ruang...

Fazlun Khalid Sang Pionir Fikih Lingkungan, Tinggalkan Zona Nyaman demi Islamekologi

Anda meyakini sepenuhnya bahwa agama Anda, Islam, peduli dan turut membantu menjaga kelestarian lingkungan. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini? Apakah Al-Quran menginstruksikan...

Palestina Marah karena Amerika Dukung Klaim Israel atas Yerusalem

Sejumlah pemimpin Palestina marah atas pernyataan Presiden Amerika Serikat Joe Biden karena mendukung klaim Israel atas kota suci Yerusalem al-Quds.

Kisah Mengharukan Keadilan Rasulullah Membela Orang Yahudi

Di antara kisah keadilan Rasulullah yang masyhur dan mengharukan adalah keberpihakannya kepada seorang Yahudi Madinah ketika dituduh mencuri. Meski yang menuduhnya adalah...