Di penghujung Ramadhan, banyak pertanyaan kepada masyayikh (ulama besar) al-Azhar tentang zakat fitrah.

Kesimpulan dari yang saya ikuti dari berbagai jawaban mereka, baik di majelis ataupun melalui radio al-Qur'an adalah:

1. Zakat fitrah dinamai juga dengan zakat al-abdan (jasad/tubuh) karena diwajibkan untuk semua manusia yang hidup, bernafas hawa Ramadhan & hawa Idul Fitri meskipun nafasnya hanya sekejap.

Contoh: Bayi lahir sedetik sebelum azan maghrib dari malam Id kamudian meninggal sedetik setelah masuk waktu maghrib. Maka walinya wajib membayarkan zakat bayi itu.

Zakat fitrah wajib dibayar seseorang oleh dirinya sendiri atau oleh yang membiayai hidupnya.

2. Diwajibkan atas semua yang punya bahan pokok makanan lebih dari kebutuhannya di hari raya.

Hikmahnya: agar semua merasakan kenikmatan memberi, meskipun si fakir yang mengeluarkan zakat itu juga menerima zakat dari orang lain.

3. Kewajiban zakat merupakan kewajiban yang tidak gugur karena alasan apapun selain fakir yang tidak punya kelebihan di hari raya.

Bagi yang terlupa membayar; wajib qadha membayarnya.

Dan pahala qadha tentu kurang dari pahala jika melakukannya di waktu yang semestinya.

~ Faedah dari Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah.

4. Waktu menunaikan zakat fitrah: dari awal Ramadhan sampai dilangsungkan shalat Idul Fitri.

Pertanyaan: bolehkah saya menyisihkan uang untuk diberikan pada fakir tertentu nanti seusai Id? Jawaban: Boleh saja.

Tapi memangnya susah sekalikah mencari orang fakir? Nasehatku; keluarkan saja dulu pada fakir yang kamu temui sekarang, nanti kalau ketemu fakir yang kamu ingin beri, maka beri saja lagi. Tidak masalah kalau kamu memberi berulang kali.

~ Faedah dari Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah.

5. Masyayikh al-Azhar memandang bahwa untuk zaman sekarang lebih baik mengeluarkan zakat dengan nilai (uang) bukan barang, karena para fakir juga punya banyak kebutuhan selain kebutuhan makanan pokok.

Pendapat dari beberapa kelompok Wahabi yang melarang untuk mengeluarkan nilai; sangat tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang kita jalani.

~ Faedah dari Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah.

5. Banyak bahan makanan yang disebutkan sebagai bahan makanan yang jadi zakat fitrah di zaman Rasulullah SAW; ada kurma, gandum, susu kering dll.

~ Faedah dari Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah.

6. Secara umum, untuk penghitungan ukuran, masyayikh sering menggenapkannya, yaitu 3 kg dari bahan pokok.

7. Sebagai contoh pada 2019, patokan zakat fitrah termurah yang untuk Mesir yang disebutkan Darul Ifta Mesir adalah 13 pound (sekitar 13 atau 10 ribu rupiah), karena itu adalah harga termurah untuk 3 kg gandum atau kurma kering yang paling sederhana di Mesir.

8. Sah bila seseorang mengeluarkan zakat dengan nilai dari bahan makanan terendah, lalu seseorang memberikan kepada orang fakir uang 13 pound atas dasar patokan itu meskipun orang yang mengeluarkan zakat itu adalah jutawan.

~ Faedah dari Maulana Syekh Ali Jum'ah hafizhahullah.

9. Sebagaimana sah juga jika seseorang membayar 600 pound misalnya untuk zakatnya karena menghitung harga zabib (kismis) bermutu tinggi yang harga perkilonya sekitar 200-an pound.

~ Faedah dari Maulana Syekh Ali Jum'ah hafizhahullah.

10. Diingatkan juga bahwa pada zaman dulu, manusia biasa saja makan bahan pokok tanpa lauk pauk. Jadi selayaknya pada zaman ini yang sangat jarang orang makan tanpa lauk apapun; agar mengeluarkan nilai bahan pokok makanan dan lauk pauknya yang kira-kia sesuai.

~ faedah dari radio

11. Luaskanlah pemberian untuk kaum fakir; yang meluaskan untuk mereka berarti meluaskan rezeki diri sendiri. Sementara yang menyempitkan kaum fakir berarti dia menyempitkan rezeki dirinya sendiri.

~ Faedah dari Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah.

12. Kalau ada, bayar saja 100 pound untuk 1 orang. Ada orang yang punya uang banyak, 1000 pound itu nilainya seperti 10 pound saja.

Kalau punya, tidak ada salahnya kalau bayar zakat untuk tiap anggota keluarga sejuta pound (1 milyar rupiah) misalnya.

~ Faedah dari Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah.

13. Dalam zakat, yang dipentingkan adalah maslahat si penerima, yaitu kaum fakir.

Di saat kaum fakir punya banyak keperluan lain di luar bahan makanan pokok; maka uang tentu lebih berguna. Sementara saat krisis bahan makanan; maka zakat dalam bentuk barang tentu lebih berguna.

14. Di Mesir, pernah ada fatwa pelarangan zakat kecuali dengan barang. Hal itu mengakibatkan ketidakseimbangan pasar; sehingga krisis bahan pokok di pasaran, sementara kaum fakir mempunyai banyak bahan pokok yang tidak digunakan.

~ Faedah dari Maulana Syekh Ahmad al-Hajiin hafizhahullah.

Jawaban dan penjelasan di atas bersifat fatwa. Jawaban dari para mufti di atas berangkat dari kebutuhan zaman. Jadi mereka mungkin tidak berpegang dengan suatu mazhab tertentu.